21 Hari Makan Ini, Midji Yakin Pasien Covid Sembuh

0
Gubenur Kalbar, Sutarmidji menjelaskan penanganan Covid-19 melalui Video Conference di Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar, Jumat(03/07) siang. Foto IST.

Pontianak – Gubenur Kalbar Sutarmidji menjadi Narasumber, di Kegiatan dengan materi ‘Update dari Tim Pakar: Zona Dengan Kasus Nol’, yang digelar BNPB selaku Koordinator pelaksana percepatan penanganan Covid-19, Jumat (03/07) siang.

Ia diundang karena dinilai mampu menangani Covid-19 di kalbar. Gubenur Sutarmidji pun mengikuti kegiatan tersebut melalui Video Conference di Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar.

“Jadi kita nanti akan belajar dari Kalbar apa yang dikerjakan supaya daerah lain juga bisa mengikuti dan bisa menjadi contoh untuk seluruh daerah di Indonesia,” kata dr. Lula Kamal selaku moderator pada kegiatan itu.

Menurut dr. Lula Kamal sangat jarang sekali Kepala Daerah yang sampai ke menu makanan pasien Covid-19 pun detail diperhatikan.

Baca :  China Keberatan Dengan Penamaan Laut Natuna Utara

“Ada menu standar yang diberikan kepada pasien yaitu madu, pepaya, pisang, alpukat dan telur rebus. Itu saja obatnya,” ujar Sutarmidji saat menjelaskan menu penanganan pasien. Atas menu tersebut Ia meyakinkan 21 hari pasien bisa sembuh.

Sutarmidji juga mengatakan yang perlu kita jaga adalah imunitas pasien dengan memberikan asupan makanan yang sama di seluruh Kalbar.

“Saya pantau betul, setiap rumah sakit harus mengirim menunya ke hp saya supaya saya bisa kontrol benar apa tidak, kemudian kita evaluasi tingkat kesembuhannya berapa hari ,” tuturnya.

Saat ini tingkat kesembuhan di Kalbar di atas 82 persen. Menurut Sutarmidj, menangani Covid-19 koordinasi antar Kabupaten/Kota perlu ditingkatkan. Kemudian rapid test juga harus dilakukan sebanyak-banyaknya karena tidak ada media lain untuk menjaring orang yang terpapar virus selain rapid test.

Baca :  China Keberatan Dengan Penamaan Laut Natuna Utara

“Dan kepala daerah itu harus tau data setiap hari. Saya kalau satu hari menghubungi Kepala Dinas Kesehatan mungkin WA nya bisa 200 sampai 300 kali karena saya harus tau pergerakan data itu setiap waktu supaya saya bisa buat kebijakan-kebijakan dan bisa lakukan efesiensi dan kecepatan karena kalau kita lengah kita bisa mengeluarkan biaya yang sangat besar,” ujarnya. (Lid)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 188 kali