KalbarOke.com — Keluarga seorang siswa SMP Negeri 1 Tangerang Selatan yang meninggal dunia usai menjalani perawatan di rumah sakit mengungkapkan bahwa korban, berinisial M-H, selama ini kerap mengalami perundungan dari teman sekelasnya hingga membuatnya takut berangkat ke sekolah.
Menurut keterangan keluarga, M-H sering mengeluhkan rasa takut setiap kali hendak berangkat sekolah. Namun ia memilih memendam semua perasaan tersebut, terutama dari ibunya yang tengah sakit, karena tidak ingin menambah beban pikiran sang ibu.
Sahara, kakak korban, menyebut adiknya mulai berani bercerita sekitar 20 hari sebelum meninggal dunia. M-H mengaku telah dipukul menggunakan kursi, ditampar, serta ditendang oleh teman sekelasnya. Ia bahkan sempat menunjukkan foto terduga pelaku sebagai bukti bahwa dirinya mengalami perlakuan tidak pantas di lingkungan sekolah.
“Dia bilang sudah sering dipukul dan ditendang. Dia baru cerita ke saya karena sudah tidak kuat,” ujar Sahara.
Sang ayah, Kusnadi, juga menyatakan bahwa perubahan perilaku dan kondisi fisik M-H mulai terlihat beberapa waktu terakhir, mulai dari cara jalan yang tidak stabil, pandangan kosong, hingga kerap tersandung.
Keluarga menduga tindakan perundungan sudah terjadi sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Juli lalu. Peristiwa bermula dari permainan saling lempar bungkus makanan, tetapi berujung pada tamparan dari terduga pelaku. Sejak itu, korban kerap mencari alasan untuk tidak masuk sekolah, mulai dari mengaku sakit hingga menolak berangkat tanpa penjelasan.
Keluarga mulai curiga ketika kondisi fisik korban semakin memburuk. Namun M-H tetap memilih menyembunyikan semuanya dari ibunya yang tengah mengidap penyakit serius.
Hingga kini, keluarga korban menyerahkan seluruh proses hukum kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang mendampingi kasus tersebut. Pihak keluarga belum memberikan keterangan resmi terkait langkah hukum yang akan diambil selanjutnya.
“Kami hanya berharap kasus ini ditangani dengan adil dan tuntas, supaya tidak ada lagi anak yang mengalami hal seperti ini,” ujar pihak keluarga.
Kasus perundungan yang berujung kematian ini kembali menjadi sorotan tajam terhadap keamanan lingkungan pendidikan dan perlunya sistem perlindungan siswa yang lebih tegas. (*/)






