Boy Throb Viral di TikTok, Boy Band Unik Sekadar Lelucon atau Serius Tapaki Industri Musik?

Boy Throb, boy band pendatang baru yang viral di TikTok, mencuri perhatian lewat konsep unik dan perjuangan menyatukan personel lintas negara demi karier musik global. Foto: Tangkapan layar YouTube What's Trending

KalbarOke.com – Media sosial kembali diramaikan oleh kemunculan Boy Throb, boy band pendatang baru yang mendadak viral di TikTok. Popularitas mereka meroket dalam waktu singkat, namun bersamaan dengan itu muncul tanda tanya besar: apakah Boy Throb benar-benar serius menapaki industri musik, atau sekadar fenomena lelucon internet?

Keunikan Boy Throb terletak pada formasi mereka yang belum pernah tampil lengkap secara langsung. Salah satu personel, Darshan Magdum, hingga kini masih berada di India dan hanya bisa tampil secara virtual melalui panggilan video. Kondisi tersebut membuat perjuangan mendapatkan visa Amerika Serikat menjadi narasi utama yang melekat pada identitas band ini.

Untuk mewujudkan misi tersebut, Boy Throb menargetkan satu juta pengikut di TikTok sebagai syarat pendukung pengajuan visa. Target ambisius itu justru berhasil dilampaui hanya dalam waktu satu bulan. Kampanye ini kian viral setelah penampilan perdana mereka di sebuah panti jompo di Hollywood, dengan koreografi nyentrik, tracksuit beludru pink, sepatu kuning mencolok, serta Darshan yang bernyanyi dari jarak jauh melalui layar laptop.

Baca :  Delapan Desa Wisata yang Menawarkan Wajah Asli Kehidupan Lokal Indonesia

Boy Throb digawangi oleh Evan Papier, Anthony Key, Zachary Sobania, dan Darshan Magdum. Mereka bermula dari pertemanan daring. Evan dan Anthony sebelumnya sempat mencoba peruntungan di ajang American Idol, meski belum membuahkan hasil.

Alih-alih patah semangat, Evan justru membangun basis penggemar melalui TikTok hingga akhirnya membentuk Boy Throb. Anthony menegaskan bahwa band ini sengaja dirancang dengan konsep yang berbeda dari boy band pada umumnya. “Kami tidak ingin menjadi tiruan. Latar belakang kami berbeda dan tidak mungkin tertukar satu sama lain,” ujarnya.

Identitas Boy Throb semakin kuat lewat video berdurasi singkat, visual warna cerah, serta lirik lagu yang kerap memodifikasi lagu pop populer. Salah satunya adalah versi ulang lagu Manchild milik Sabrina Carpenter yang diubah untuk menceritakan harapan Darshan agar bisa tampil langsung di Amerika Serikat.

Basis penggemar mereka yang menamakan diri “Throbbers” atau “Throb Mob” juga turut berperan besar membentuk karakter band, termasuk mendorong perubahan nama akun awal hingga strategi konten yang semakin solid.

Baca :  Pemkot Pontianak Beri Izin Terbatas Pesta Kembang Api Imlek, Hanya di Kawasan Gajah Mada

Meski kerap disebut sebagai proyek parodi, para personel Boy Throb menegaskan bahwa mereka serius menekuni dunia musik. Evan menyebut anggapan satire justru menjadi penyemangat. “Kami serius. Kalau orang menikmati sisi parodinya, kami akan tetap berkarya dengan cara kami sendiri,” katanya.

Saat ini, Darshan tengah mengajukan visa O-1, kategori khusus bagi individu dengan kemampuan luar biasa di bidang seni dan kreativitas. Berdasarkan saran pengacara imigrasi mereka, capaian satu juta pengikut di media sosial menjadi nilai tambah penting dalam proses tersebut.

Boy Throb pun tak ragu memasang target besar: menyatukan formasi lengkap di Amerika Serikat dan meraih Grammy. Namun, di atas segalanya, mereka ingin menghadirkan keceriaan dan energi positif bagi publik. “Kami hanya ingin membuat orang tersenyum dan menyebarkan kebahagiaan,” tutup Evan.

Akankah Boy Throb hanya menjadi fenomena sesaat atau benar-benar mencetak sejarah di industri musik pop? Jawabannya mungkin baru terungkap saat keempat personel akhirnya berdiri di satu panggung yang sama. (*/)