KalbarOke.com – Selama ini kita mengenal satu hari di Bumi berlangsung selama 24 jam. Namun penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan: Bumi pernah mengalami periode panjang dengan durasi hari hanya sekitar 19 jam, dan kondisi ini bertahan hingga satu miliar tahun.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dipimpin Ross Mitchell, geofisikawan dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences. Studi tersebut menelusuri sejarah rotasi Bumi hingga 2,5 miliar tahun lalu melalui analisis puluhan catatan geologis berupa batuan sedimen.
Dengan metode siklostratigrafi, tim peneliti membaca pola berulang dalam lapisan batuan yang merekam perubahan rotasi dan orbit Bumi dari waktu ke waktu. Hasilnya menunjukkan bahwa rotasi Bumi tidak melambat secara konstan, melainkan mengalami fase stagnan yang panjang, diselingi perlambatan cepat.
Salah satu periode paling mencolok terjadi sekitar dua hingga satu miliar tahun lalu, ketika panjang hari stabil di angka 19 jam, sebagaimana dikutip dari Earth.com, Selasa (30/12/2025).
Menurut Mitchell, kondisi ini terjadi akibat resonansi unik antara gaya pasang surut atmosfer yang dipicu panas Matahari dan efek pengereman gravitasi Bulan. Kedua kekuatan tersebut saling mengimbangi, sehingga laju rotasi Bumi seakan “terkunci”.
Menariknya, fenomena ini berdampak besar terhadap evolusi kehidupan. Pada masa itu, produksi oksigen global didominasi oleh mikroba fotosintetik di perairan dangkal. Durasi siang hari berperan krusial dalam menentukan seberapa banyak oksigen yang dilepaskan ke lingkungan.
Eksperimen menunjukkan bahwa hari yang terlalu singkat justru membuat mikroba menyerap lebih banyak oksigen daripada yang dihasilkan. Akibatnya, dengan hari 19 jam yang stabil, kadar oksigen Bumi cenderung stagnan dan tidak mengalami lonjakan signifikan.
Baru setelah Bumi keluar dari fase resonansi ini dan durasi hari perlahan mendekati 24 jam, produksi oksigen meningkat drastis. Tambahan waktu siang memungkinkan fotosintesis berlangsung lebih lama dan intens, membuka jalan bagi kemunculan kehidupan kompleks di Bumi.
Meski peristiwa tersebut terjadi dalam skala miliaran tahun, rotasi Bumi hingga kini masih terus berubah. Data dari jam atom menunjukkan panjang hari modern dapat berfluktuasi dalam hitungan milidetik, dipengaruhi dinamika atmosfer, laut, serta pergerakan logam cair di inti Bumi.
Studi sebelumnya juga mencatat adanya osilasi rutin setiap 5,9 tahun, serta lonjakan mendadak yang berkaitan dengan perubahan medan magnet Bumi atau geomagnetic jerks.
Penelitian ini disebut mampu mengubah pemahaman ilmuwan tentang dinamika inti fluida Bumi, sekaligus mengindikasikan bahwa mantel bawah Bumi memiliki daya hantar listrik yang rendah, sehingga membatasi interaksi antara inti dan mantel.
Temuan tersebut memberi wawasan baru tentang proses terdalam planet yang selama ini masih menjadi misteri besar dalam ilmu kebumian. (*/)






