KalbarOke.Com – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif di FK Universitas Tanjungpura. Hal ini disampaikan dalam evaluasi lapangan bersama tim kementerian di Aula Amphiteater FK Untan, Jumat (9/1/2026).
“Tanpa terobosan seperti ini, kebutuhan dokter spesialis di Kalimantan Barat tidak akan pernah terkejar,” tegas Sekda Kalbar, Harisson.
Kondisi geografis Kalbar yang luasnya mencapai 1,1 kali Pulau Jawa menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan medis. Saat ini, RSUD dr. Soedarso telah ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan utama yang didukung oleh jejaring rumah sakit lainnya di seluruh wilayah Kalimantan Barat.
Ketimpangan distribusi tenaga medis ini sering kali memaksa pasien di daerah terpencil, seperti perbatasan Kapuas Hulu, harus menempuh perjalanan rujukan selama berjam-jam hanya karena ketiadaan dokter anestesi, meskipun dokter bedah sudah tersedia di lokasi.
Berdasarkan data yang dipaparkan, kondisi ketersediaan dokter spesialis di Kalimantan Barat masih berada di bawah standar nasional. Kesenjangan jumlah dokter ini berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan di tingkat kabupaten dan kota.
• Kebutuhan Total Dokter Spesialis: 1.590 orang.
• Ketersediaan Saat Ini: 548 orang (Baru terpenuhi sepertiganya).
• Kebutuhan Khusus Dokter Anestesi: 113 orang.
• Ketersediaan Saat Ini: 42 orang (Kekurangan 71 dokter spesialis anestesi).
Pemerintah Provinsi berharap melalui PPDS mandiri di FK Untan, percepatan pengadaan tenaga ahli dapat dilakukan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada lulusan dari luar pulau.
Fokus utama program ini adalah menciptakan tenaga spesialis yang siap diterjunkan ke daerah-daerah krisis.
Satgas Akselerasi PPDS Kemendiktisaintek, dr. Haryo Bismantara, menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan strategis guna mengatasi maldistribusi dokter. Dalam pedoman baru, calon mahasiswa PPDS akan langsung ditetapkan lokasi pengabdiannya sejak awal seleksi.
“Sejak awal, mahasiswa PPDS harus ditetapkan akan ditempatkan di mana setelah lulus. Ini kunci menjamin distribusi tenaga kesehatan,” jelas dr. Haryo Bismantara.
Sekda Harisson juga memberikan catatan khusus agar FK Untan memberikan prioritas kepada putra daerah dalam seleksi mahasiswa PPDS.
Hal ini didasarkan pada fakta bahwa dokter putra daerah cenderung memiliki tingkat retensi yang lebih tinggi untuk menetap dan mengabdi di wilayah asalnya.
Pembukaan prodi ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan akademis FK Untan, tetapi merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat Kalimantan Barat untuk mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang setara. Dukungan penuh lintas sektoral menjadi jaminan kelancaran operasional pendidikan dokter spesialis ini ke depan.
Ringkasan Berita
• Sekda Harisson mendukung pembukaan PPDS Anestesiologi FK Untan guna mengatasi krisis dokter spesialis di Kalbar pada Jumat (9/1/2026).
• Kalimantan Barat saat ini hanya memiliki 42 dokter anestesi dari kebutuhan ideal sebanyak 113 orang.
• RSUD dr. Soedarso ditunjuk sebagai rumah sakit pendidikan utama untuk menunjang praktik klinis mahasiswa PPDS.
• Kemendiktisaintek menerapkan pedoman baru di mana lokasi penempatan lulusan sudah ditetapkan sejak masa seleksi masuk.
• Pemprov Kalbar meminta prioritas bagi putra daerah dalam program ini demi menjamin keberlanjutan layanan medis di daerah terpencil dan perbatasan.






