KalbarOke.com – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan Masyarakat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menggelar pertemuan dengan kepala sekolah se-Kota Pontianak. Agenda ini membahas pencegahan dan penanggulangan terorisme, radikalisme, serta intoleransi di lingkungan pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 3 Februari 2025, tersebut dihadiri 50 kepala SMA negeri di Pontianak. Pertemuan dipimpin oleh Ipda Yulius Sugiyanto dari Unit Pencegahan Satgaswil Kalimantan Barat.
Dalam pemaparannya, anggota Densus 88 Briptu Muhammad Mursid mengatakan kelompok teror kini menargetkan anak dan remaja melalui media sosial serta komunitas daring. Menurut dia, ruang digital menjadi pintu masuk utama penyebaran paham ekstrem.
“Terorisme saat ini menyasar anak dan remaja melalui media sosial dan komunitas online. Tercatat 112 anak teridentifikasi terlibat atau terpapar jaringan terorisme,” kata Mursid.
Ia menekankan peran sekolah sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dini dan mencegah penyebaran paham radikal di kalangan pelajar. Kepala sekolah diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa yang berpotensi mengarah pada intoleransi dan ekstremisme.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Jumadi, mengatakan Pancasila tetap relevan sebagai ideologi pemersatu bangsa di tengah keberagaman. Nilai-nilai Pancasila, kata dia, dapat menjadi benteng terhadap radikalisme dan ekstremisme.
“Pancasila mengajarkan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan. Nilai-nilai inilah yang harus terus ditanamkan di lingkungan pendidikan,” ujarnya.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman kepala sekolah mengenai ancaman radikalisme dan terorisme di sekolah, sekaligus memperkuat internalisasi nilai Pancasila dan toleransi sebagai fondasi utama dalam membentengi peserta didik dari ideologi ekstrem. (*/)






