Dari Jelantah ke Langit Biru: Biorefinery Cilacap Produksi Bioavtur Nasional

Ilustrasi Pertamina mengembangkan Biorefinery Cilacap yang mengolah minyak jelantah menjadi bioavtur ramah lingkungan. Proyek ini menopang transisi energi dan menekan emisi penerbangan nasional. Foto: Rezső Terbe dari Pixabay

KalbarOke.com – Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga kini diproyeksikan menjadi bahan bakar pesawat terbang. Melalui pengembangan Biorefinery Cilacap, PT Pertamina (Persero) mengolah used cooking oil (UCO) menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur—langkah yang menandai arah baru transisi energi Indonesia menuju langit yang lebih bersih.

Proyek ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Revamp TDHT Cilacap Phase 1, yang telah memproduksi SAF melalui skema co-processing. Pada fase lanjutan, Pertamina membangun Biorefinery Cilacap Phase 2 untuk meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan.

Dari sebelumnya sekitar 27 kiloliter per hari, kapasitas produksi SAF ditargetkan melonjak menjadi 887 kiloliter per hari pada 2029. Lonjakan ini diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap avtur berbasis fosil sekaligus menjaga ketahanan pasokan energi penerbangan nasional.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini mengatakan pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur memiliki makna strategis, tidak hanya dari sisi energi, tetapi juga lingkungan dan ekonomi sirkular.

Baca :  Laras Faizati Bebas dari Tahanan, Menangis Usai Divonis Bersalah

“Biorefinery Cilacap merupakan program strategis Presiden Prabowo dan Danantara, sejalan dengan Asta Cita, khususnya swasembada energi dan hilirisasi industri,” ujar Emma saat groundbreaking proyek tersebut di Cilacap, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut Emma, pemanfaatan jelantah sebagai bahan baku SAF memberi Indonesia posisi tawar baru dalam industri energi aviasi global. Limbah domestik yang sebelumnya mencemari lingkungan kini menjadi komoditas strategis bernilai tambah tinggi.

Biorefinery Cilacap juga masuk dalam lima Proyek Hilirisasi Danantara di sektor energi serta menjadi bagian dari strategi dual growth Pertamina—mengembangkan bisnis rendah karbon sembari memperkuat bisnis energi konvensional.

Untuk menjamin keberlanjutan pasokan, Pertamina membangun ekosistem pengumpulan jelantah dari hulu ke hilir. Perusahaan menggandeng masyarakat melalui bank sampah, salah satunya Bank Sampah Beo Asri di Kelurahan Tegalreja, Kabupaten Cilacap, yang melibatkan lebih dari 2.900 kepala keluarga.

Baca :  Polisi Tertibkan Knalpot Brong dan Motor Tanpa Pelat Nomor Biasa Digunakan Balap Liar

Dari sisi lingkungan, penggunaan SAF dari jelantah berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun. Dari sisi ekonomi, proyek ini diperkirakan menyumbang hingga Rp199 triliun per tahun terhadap produk domestik bruto nasional. Sementara dari sisi sosial, Biorefinery Cilacap diproyeksikan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja dan mendorong tingkat komponen dalam negeri hingga 30 persen.

“Ini proyek percontohan yang lengkap. Limbah berubah menjadi energi hijau, impor bisa ditekan, lapangan kerja tercipta, dan emisi berkurang,” kata Emma.

Melalui Biorefinery Cilacap, Pertamina menempatkan minyak jelantah sebagai bagian dari solusi transisi energi nasional—mengubah sisa dapur menjadi bahan bakar penerbangan, sekaligus menjadi fondasi menuju langit biru Indonesia yang lebih berkelanjutan. (*/)