Setahun Cek Kesehatan Gratis, Pemerintah Ubah Fokus: Tak Sekadar Deteksi, Pasien Harus Diobati

Program Cek Kesehatan Gratis gagasan Presiden Prabowo Subianto kini berfokus pada pengobatan langsung. Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan, warga tak boleh hanya tahu sakit. Foto: dok Komdigi

KalbarOke.com — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan arah baru. Setelah berjalan satu tahun, pemerintah menegaskan bahwa program ini tak lagi berhenti pada deteksi penyakit, tetapi memastikan masyarakat langsung memperoleh pengobatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut perubahan pendekatan tersebut menjadi pembeda utama pelaksanaan CKG tahun ini dibandingkan periode sebelumnya. Menurut dia, pemeriksaan kesehatan tanpa tindak lanjut pengobatan berisiko membuat masyarakat tetap jatuh sakit.

“Sekarang bukan hanya dicek, tapi juga diobati. Kalau tekanan darahnya tinggi, ya harus diobati. Gula darah juga begitu,” kata Budi saat meninjau pelaksanaan satu tahun CKG di RSUP dr. Kariadi, Selasa, 10 Februari 2026.

Budi menilai penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes kerap dianggap remeh karena tidak langsung menimbulkan keluhan. Padahal, jika dibiarkan, penyakit tersebut dapat memicu komplikasi serius, mulai dari stroke hingga gagal ginjal.

Baca :  Polri Tetapkan Eks Kapolres Bima Kota Tersangka Narkotika, Kadivhumas: Tak Ada Impunitas

Selain pengobatan, Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat menjalani CKG secara rutin minimal satu kali dalam setahun. Anjuran ini terutama ditujukan bagi kelompok dengan faktor risiko penyakit kronis.

“Kalau sudah punya darah tinggi atau gula, itu wajib rutin. Jangan menunggu parah,” ujar Budi.

Pelaksanaan CKG juga diperluas ke luar fasilitas kesehatan. Program ini kini menjangkau sekolah, tempat kerja, hingga institusi swasta. Di Kota Semarang, perluasan tersebut mencatatkan capaian tersendiri. RSUP dr. Kariadi bersama pemerintah daerah menggelar CKG di 53 perusahaan dalam waktu kurang dari lima hari dan mencatatkan rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia.

Baca :  Bertemu Raja Charles III, Prabowo Sepakati Kerja Sama Pemulihan 57 Taman Nasional

Budi menilai pendekatan berbasis tempat kerja efektif mendorong partisipasi. “Kalau karyawannya sehat, produktivitas dan keuangannya juga sehat. Jangan tunggu sakit baru periksa,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan partisipasi CKG terus meningkat. Hingga awal 2026, lebih dari 4,5 juta orang telah mengikuti program ini. Fokus pemeriksaan dan pengobatan mencakup hipertensi, diabetes, obesitas, serta masalah kesehatan gigi yang masih banyak ditemukan di berbagai kelompok usia.

Menurut Budi, tujuan akhir CKG adalah mencegah keterlambatan pengobatan. “Jalur utama agar masyarakat sehat bukan hanya tahu hasilnya, tapi memastikan tidak sedang sakit tanpa disadari,” ujarnya. (*/)