Mahashivaratri di Prambanan: Ritual Suci dan Transformasi Pariwisata Spiritual

Perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan menjadi puncak Prambanan Shiva Festival, menegaskan transformasi situs warisan dunia ini sebagai ruang spiritual hidup dan destinasi wisata religi. Foto: dok Kemenpar

KalbarOke.com – Mahashivaratri merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu di berbagai belahan dunia. Malam yang dimaknai sebagai “Malam Agung Shiva” ini diperingati sebagai momen pemujaan mendalam kepada Dewa Shiva—Sang Pelebur, Yogi Agung, sekaligus sumber kesadaran tertinggi dalam ajaran Hindu. Di Indonesia, makna spiritual Mahashivaratri menemukan resonansi yang kuat ketika dirayakan di Candi Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Tanah Air.

Dalam kosmologi Hindu, malam atau rātri melambangkan ketidaktahuan, ego, dan keterikatan duniawi. Pada saat yang sama, malam dipercaya sebagai fase ketika energi spiritual alam semesta berada pada titik puncak. Karena itu, Mahashivaratri menjadi waktu yang dianggap paling kondusif untuk tapa brata, meditasi, dan pemujaan mendalam. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi pengembangan pariwisata berkarakter, yang tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi pengalaman spiritual dan kebudayaan yang lebih bermakna.

Di Indonesia, perayaan Mahashivaratri menjadi puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival yang berlangsung selama satu bulan. Festival ini umumnya dimulai sejak pertengahan Januari dan mencapai klimaks pada malam Mahashivaratri. Melalui agenda ini, Candi Prambanan diarahkan untuk tampil bukan hanya sebagai monumen warisan budaya, tetapi sebagai destinasi wisata religi unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Baca :  Rayakan HUT Ke-4, IWSS Kalbar Berkomitmen Jadi Mitra Strategis Pembangunan dan Ketahanan Budaya

Penyelenggaraan Prambanan Shiva Festival untuk pertama kalinya menandai tonggak penting transformasi Prambanan—dari situs warisan dunia menjadi ruang spiritual yang hidup, terbuka, dan relevan bagi umat Hindu maupun wisatawan dari berbagai latar belakang budaya.

Pada 2026, rangkaian festival dimulai dengan perayaan Shivaratri pada 17 Januari dan berpuncak pada upacara Mahashivaratri pada malam 15 Februari. Perayaan dibuka dengan pementasan Tari Siwa Grha, sebuah karya yang menggambarkan Shiva sebagai Nataraja, Raja Para Penari. Melalui gerak tari, filosofi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta disampaikan sebagai bentuk pemujaan awal sekaligus edukasi spiritual bagi publik.

Baca :  Satu Langit Dua Perayaan: Gempita Pawai Obor Ramadan Berpadu Kembang Api Imlek di Pontianak

Selain pertunjukan tari, lebih dari 150 seniman dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam pameran seni bertema spiritualitas Hindu. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Mahashivaratri menginspirasi seni rupa kontemporer, sekaligus menjembatani tradisi dengan ekspresi kreatif masa kini.

Festival ini terbuka untuk umum—tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga masyarakat luas yang ingin mengenal lebih dekat tradisi, filosofi, dan nilai spiritual Mahashivaratri. Dalam konteks ini, Prambanan Shiva Festival berfungsi sebagai ruang perjumpaan lintas iman dan budaya, yang menumbuhkan toleransi serta harmoni sosial.

Perayaan Mahashivaratri di Prambanan bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi ruang pemujaan, wahana edukasi, dan medium penguatan identitas Hindu Nusantara. Lebih jauh, perayaan ini merepresentasikan wajah pariwisata Indonesia di mata dunia—pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan warisan budaya yang hidup, dirawat, dipahami, dan dihormati. (*/)