Genomik Jadi Andalan Baru Kemenkes Tekan Biaya Penyakit Kronis

Ilustrasi Kementerian Kesehatan mempercepat kedokteran presisi lewat BGSI untuk menekan lonjakan biaya penyakit kronis. Pendekatan genomik dinilai lebih akurat dan efisien bagi sistem kesehatan nasional. Foto: Sasin Tipchai dari Pixabay

KalbarOke.com – Lonjakan pembiayaan penyakit kronis mendorong pemerintah mengubah pendekatan layanan kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kini mempercepat implementasi kedokteran presisi melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), sebuah strategi yang mengandalkan profil genetik individu untuk diagnosis dan terapi yang lebih tepat sasaran.

Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin mengatakan, teknologi genomik yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) menandai pergeseran besar dari paradigma lama “satu obat untuk semua”. Pemeriksaan kesehatan, kata dia, akan menjadi lebih personal dan akurat.

“Pemeriksaan kesehatan kita akan jauh lebih presisi dan personal. Otomatis, pengobatannya juga lebih tepat sasaran dan efektif,” ujar Budi dalam forum BGSI Ecosystem Roadshow di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis, 12 Februari.

Baca :  Kementan Buka Dokumen RS Bhakti Asih, Bantah Klaim Sakit Indah Megahwati di Kasus Dugaan Korupsi Rp27 Miliar

Hingga awal 2026, BGSI telah merekrut lebih dari 20 ribu partisipan dan menghasilkan sekitar 16 ribu whole genome sequence manusia. Data ini diposisikan bukan sekadar capaian riset, melainkan fondasi kebijakan untuk mengurangi pemborosan anggaran kesehatan akibat salah diagnosis dan terapi yang tidak efektif.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menilai genomik berkaitan langsung dengan ketahanan fiskal negara. Terapi yang tepat, menurut dia, akan memangkas biaya pengobatan jangka panjang.

“Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan menjadi jauh lebih efektif,” kata Febrian. Namun ia mengingatkan, pengembangan genomik adalah kerja jangka panjang yang menuntut konsistensi kebijakan dan pendanaan.

Baca :  Polisi Luruskan Kabar 108 Orang Hilang akibat Longsor Cisarua

Dorongan serupa datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Panjaitan. Ia meminta agar inisiatif genomik tidak berhenti pada layanan medis, tetapi diperluas untuk pengelolaan keanekaragaman hayati nasional. Optimalisasi sumber daya genetik, menurut Luhut, beririsan dengan ketahanan kesehatan, pangan, dan ekonomi Indonesia di masa depan.

Saat ini, implementasi BGSI ditopang oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat jejaring. Ke depan, integrasi data genomik diharapkan menjadi pilar sistem kesehatan nasional—lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan di tengah beban penyakit kronis yang terus meningkat. (*/)