KalbarOke.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) mendorong perguruan tinggi bertransformasi menjadi pusat unggulan riset yang berdampak langsung bagi pembangunan nasional. Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan penguatan ekosistem riset dan hilirisasi sawit berkelanjutan bersama Institut Pertanian Bogor di kantor Kemdiktisaintek, Rabu, 18 Februari.
Pertemuan itu membahas integrasi pendidikan tinggi, riset, dan kebutuhan industri dalam pengembangan sektor sawit agar memiliki daya saing global. Pemerintah menilai pendekatan berbasis sains dan teknologi menjadi kunci untuk mendorong komoditas strategis seperti sawit, mulai dari peningkatan produktivitas, efisiensi proses, hingga keberlanjutan lingkungan dan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan, peran perguruan tinggi tidak lagi sebatas menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Kampus, kata dia, harus menjadi motor penggerak inovasi nasional yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada publikasi. Inovasi harus berdampak dan terhilirisasi. Jika ini dikelola secara presisi dan tervalidasi, hasilnya akan sangat baik,” ujar Brian.
Menurut Brian, penguatan kapasitas laboratorium, pusat riset tematik, serta jejaring kolaborasi dengan industri menjadi prioritas untuk membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi. Ia menilai kolaborasi strategis antara kampus dan dunia usaha merupakan kunci percepatan hilirisasi hasil riset.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah peluang kerja sama riset terapan juga diidentifikasi. Kolaborasi ini mencakup pengembangan teknologi budidaya sawit yang lebih efisien, sistem pengolahan berbasis inovasi, serta model pengelolaan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan tata kelola yang baik, termasuk penerapan skema emisi rendah dan teknologi ramah lingkungan.
Brian menyoroti masih rendahnya produktivitas sawit nasional dibandingkan sejumlah negara lain. “Banyak peluang yang bisa kita perbaiki. Kita ingin kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah diperkuat agar riset tidak berhenti di laboratorium,” katanya.
Selain penguatan riset, Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya integrasi pembelajaran dengan kebutuhan industri. Pendekatan multidisipliner dinilai krusial untuk menjawab kompleksitas isu sawit yang mencakup aspek agronomi, teknologi, lingkungan, ekonomi, hingga kebijakan publik.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap sinergi kampus dan industri tidak hanya memperkuat daya saing sektor sawit nasional, tetapi juga menjadi model pengembangan riset dan inovasi berkelanjutan di Indonesia. (*/)







