KalbarOke.Com — Rencana ambisius pemerintah pusat untuk mengakselerasi hilirisasi aluminium di Kalimantan Barat melalui revisi Proyek Strategis Nasional (PSN) mendapat sorotan tajam. Meski menjanjikan investasi raksasa senilai Rp104,55 triliun, Bupati Landak Karolin Margret Natasa menyuarakan kekecewaan mendalam terkait pola komunikasi dan dampak lingkungan yang membayangi.
Dalam forum Konsultasi Publik yang digelar secara hibrida pada Rabu (18/02/2026), Karolin memprotes keras ketimpangan representasi dalam pembahasan proyek tersebut. Sebagai wilayah yang menjadi lumbung bahan baku bauksit, Kabupaten Landak justru merasa dikesampingkan dibandingkan wilayah lokasi smelter.
”Kebanyakan bahan bakunya nanti dari Landak walaupun judul PSN-nya Mempawah. Tapi kalau undangannya tadi Landak cuma pelengkap, ya enggak apa-apa juga. Tapi saya jadinya nanti dituduh tidak terbuka karena tokoh adat, camat, dan kades kami tidak diundang,” tegas Karolin.
Selain masalah etika birokrasi, Karolin menggarisbawahi ancaman ekologis dari limbah B3 berupa lumpur merah atau red mud. Residu hasil pemurnian alumina ini mengandung logam berat seperti arsenik dan kromium yang berisiko mencemari tanah serta air jika tidak dimitigasi dengan ketat.
Senada dengan Karolin, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengingatkan agar pemerintah tidak terlena dengan angka investasi sementara mengabaikan kerusakan hutan dan lubang tambang yang ditinggalkan.
”Kita melihat lubang-lubang besar yang membuat permasalahan terhadap lingkungan. Tata ruang kawasan hutan dan penanganan limbah harus diperhatikan,” ujar Ria Norsan.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Rektor Universitas Tanjungpura (Untan), Garuda Wiko, menawarkan solusi berbasis sains. Untan telah mengembangkan riset penggunaan red mud untuk menetralkan keasaman tanah dan berharap industri mau berkolaborasi lebih erat dengan akademisi.
Di sisi lain, isu kedaulatan SDM menjadi poin krusial. Karolin dan Ria Norsan sepakat menolak warga lokal hanya menjadi tenaga kerja kasar. Mereka mendesak adanya strategi transfer pengetahuan agar putra-putri daerah bisa menduduki posisi ilmuwan dan manajer di industri padat teknologi tersebut.
”Anak-anak kita tidak hanya menjadi pekerja buruh, tetapi bisa menjadi manajer. Kita ingin penduduk tidak hanya sebagai penonton, tetapi menjadi pemain di kandangnya sendiri,” pungkas Gubernur Ria Norsan.
Ringkasan Berita
*Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengkritik minimnya pelibatan tokoh adat dan pejabat lokal Landak dalam konsultasi publik revisi PSN Aluminium.
*Meskipun smelter berdiri di Mempawah, lumbung utama bahan baku bauksit berada di Landak yang mencakup area eksplorasi lebih dari 3.000 hektar.
*Potensi pencemaran limbah B3 red mud (lumpur merah) menjadi kekhawatiran utama yang dapat merusak kualitas tanah dan air di sekitar wilayah pertambangan.
*Gubernur Ria Norsan mendesak perusahaan tambang untuk lebih bertanggung jawab terhadap reklamasi hutan dan penanganan dampak ekologis industri ekstraktif.
*Pemerintah daerah menuntut adanya komitmen transfer teknologi agar warga lokal mampu menempati posisi strategis, bukan sekadar menjadi buruh kasar di tengah investasi Rp104 triliun tersebut.







