Anjing Penjaga

Hanya istilah saja. Diterjemahkan ke Indonesia; Anjing Penjaga. Kalau dari asalnya sono, di sana; Watch Dog. Itulah personifikasi yang disematkan kepada pers-sebagai salah satu aktifitas di muka bumi ini yang ikut berperan besar membangun peradaban dalam sejarah kehidupan manusia modern.

Sesuai fungsinya yaitu sebagai kontrol sosial, tentu tak salah julukan anjing penjaga tersebut. Setiap saat selalu mawas untuk mengawasi lingkungan sekitarnya. Meski dalam kondisi terlelap sekalipun, kalau ada yang aneh atau mencurigakan, biasanya si anjing penjaga akan langsung meng-gonggong.

Pers sebagai lembaga kontrol seolah sudah menjadi fitrah. Atau bahkan, jangan jangan, pers hadir di muka bumi ini merupakan bagian dari skenario Sang Pencipta dalam rangka menjaga keseimbangan. Dengan adanya kontrol, diharapkan sesuatu bisa berjalan di atas rel yang digariskan.

Kompleksitasnya kehidupan. Beragamnya dinamika manusia setiap waktu. Relasi kuasa dan sebagainya. Terjadinya praktik penyimpangan tentu tak bisa dinafikan di komunitas kehidupan. Apalagi ada istilah menyebutkan; kekuasaan itu cendrung korup. Otoritarian, tirani, sewenang, statusquo adalah pemandangan yang melingkar di wajah kekuasaan.

Nah, disinilah, pers hadir menjadi sorot, mengawasi dan menegur. Pers membuat penguasa berada dalam akuarium yang bisa dilihat setiap waktu gerak geriknya. Pers menciptakan suasana kebatinan pada suatu komunitas bahwa mereka selalu dalam pantauan.

Selain itu, pers juga sebenarnya dapat melakukan fungsi mendidik. Pers ikut berperan mencerdaskan melalui informasi yang disampaikan kepada khalayak. Dan bahkan pers pun bisa menghibur sehingga tercipta indeks kebahagiaan manusia.

Kembali ke hal ihwal pers sebagai kontrol sosial, Saya lagi lagi teringat saat dulu, ketika mengisi di acara diklat jurnalistik atau diskusi terkait pers yang diadakan oleh mahasiswa. Gugatannya selalu sama, mahasiswa mempersoalkan kodrati pers yang belakangan mereka anggap sudah melenceng dari fitrahnya.

Baca :  Menjadi Kubu Raya

Pers berpihak. Tak berimbang. Tidak mendidik. Bermacam pertanyaan dan sekaligus gugatan disampaikan. Bukan hanya sekadar berargumen, mahasiswa juga menyertai pendapatnya tersebut dengan fakta. Faktanya lengkap, nyata dan disertai data.

Haaahhhh…Ehmmmmm. Sejenak Saya jadi kadang dibuat tergamam-meski sedapat mungkin Saya sembunyikan. Namun, biar kelihatan sebagai narasumber yang “berpengetahuan”, he, kadang dengan enteng saja Saya jawab gugatan mereka tersebut. “Pers netral itu dek, nanti, kalau yang mengelola nya para malaikat, bukan manusia.” Wkwkwkwk. Alhamdulillah gumam Saya disambut senyuman sebagai pertanda mereka memahami. Kikikikik.

Sepertinya sepintas memang gumaman. Tapi kenyataannya memang iya kok. Demikian lah adanya yang terjadi di depan mata kita. Sebagai makhluk yang dikaruniai nafsu, setiap manusia satu sama lain pasti saling beririsan kepentingan. Mulai dari persekawanan, kelompok politik, bisnis, keyakinan, dan sebagainya. Meskipun ada konsep “pagar api” antara pemilik usaha dan redaksi di institusi media, dalam praktiknya, ikut campur atau pengaruh secara langsung atau tidak langsung tak dapat dihindarkan.

Semangat bahwa pers sebagai sarana perjuangan, membela rakyat yang tertindas, menegakan kebenaran dan keadilan, semuanya seolah hanya romantisme masa silam. Itu dulu. Nun, sudah lama nian kali. Pada masa pra kemerdekaan mungkin. Di saat pers menjadi sebuah industri-sesuai perkembangan zaman yang cepat dan semakin pesat, orientasi bisnis adalah keniscayaan agar bisa bertahan, tumbuh dan berkembang. Perusahaan mesti berlaba. Kapital menjadi penting atau sering disebut kapitalisme.

Kapitalisme dan fitrahisme pers adalah potret paradoks yang ada di depan kita kini. Kedua paham tersebut seakan masing masing ingin membuktikan teori sustainable atau keberlangsungannya. Apakah yang menggenggam kapital yang akan terus hidup atau dia yang mengangkangi fitrahnya yang nanti malah akan sirna, lenyap ditelan oleh masa. Biarlah sejarah yang akan mencatat.

Baca :  Menjadi Kubu Raya

Ngemeng ngemeng tentang anjing penjaga, kata teman Saya waktu di kampung, sederhana saja sebenarnya untuk membuatnya tak berkutik. Pertama cara ekstrim. Kasihkan saja telor yang didalamnya diisi sejumlah jarum kecil. Biasanya, hanya dalam hitungan menit setelah makan telor, si anjing spontan tak berkutik alias mati. Atau ada juga cara yang lebih soft-sepertinya hanya canda semata, isi telornya bukan dengan jarum, tapi obat bius yang bikin anjingnya jadi tertidur, sakit kerongkongan atau sakit gigi. Sehingga demikian, tak perlu risau lagi dengan gonggongan saat melintasi rumah atau kebun yang ada anjing penjaganya.

Kalau begitu, berarti, ketika berada di suatu lingkungan yang minim suara gonggongan, ada baiknya kita selalu ceriga dan waspada. Apakah memang situasinya sudah benar benar aman dari penjahat atau jangan jangan, “anjing penjaganya” saja yang malah sedang terlelap oleh umpan makanan mengandung bahan berbahaya atau beracun.

Selamat Hari Pers Nasional..jaya selalu menjadi fitrahnya dalam ikut membangun peradaban di masyarakat. Bravo!!**

(Penulis pernah menjadi Ketua AJI Pontianak dan saat ini bekerja di PonTV)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 2862 kali

Leave a Reply

Your email address will not be published.