APBN Januari 2026 Defisit Rp54,6 Triliun, Belanja Negara Melaju 25,7 Persen

Ilustrasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan APBN hingga Januari 2026 defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen PDB. Belanja negara tumbuh 25,7 persen yoy. Foto: christineblankert dari Pixabay

KalbarOke.com — Pemerintah mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp54,6 triliun hingga akhir Januari 2026. Defisit tersebut setara 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan capaian itu dalam konferensi pers APBN pada Senin pagi. Ia mengatakan realisasi belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau meningkat 25,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Dengan realisasi tersebut, APBN mencatat defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB,” kata Purbaya. Ia menambahkan, defisit keseimbangan primer tercatat Rp4,2 triliun, mencerminkan posisi fiskal yang masih terkelola secara hati-hati.

Baca :  Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Menurut Purbaya, hingga 31 Januari 2026 kinerja APBN menunjukkan kondisi yang solid. Dari sisi pendapatan, negara membukukan penerimaan Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN, tumbuh 9,5 persen secara tahunan (year on year).

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai 5,9 persen dari pagu APBN. Purbaya menyebut akselerasi belanja sejak awal tahun menjadi strategi pemerintah untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026.

Baca :  Seskab Teddy Bantah Produk AS Masuk Indonesia Tanpa Sertifikasi Halal

“APBN terus berperan sebagai instrumen shock absorber dalam menghadapi dinamika ekonomi global,” ujar dia.

Dari sisi pembiayaan, realisasi hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp105,1 triliun atau 15,2 persen dari target yang ditetapkan. Pemerintah menilai langkah ini diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap stabil di tengah ketidakpastian global. (*/)