Avatar Fire and Ash Dinilai Kehilangan Magi, Visual Spektakuler Tak Lagi Terasa Revolusioner

Film Avatar: Fire and Ash kembali menghadirkan dunia Pandora, namun banyak penonton menilai keajaiban Avatar mulai memudar. Tangkapan layer YouTube 20th Century Studios

KalbarOke.com — Waralaba Avatar karya sutradara James Cameron pernah dianggap sebagai tonggak revolusi perfilman dunia. Namun setelah memasuki film ketiga berjudul Avatar: Fire and Ash, pesona yang dulu memukau banyak penonton dinilai mulai kehilangan keajaibannya.

Sejak awal, daya jual utama Avatar adalah janji membawa penonton ke dunia penuh keajaiban—sebuah semesta fantasi yang dirancang begitu detail hingga terasa lebih nyata dari dunia manusia. Namun dalam Fire and Ash, Cameron kembali menyajikan formula lama: pertempuran udara yang megah, makhluk laut eksotis, konflik kolonial manusia bumi, hingga filosofi hidup suku Na’vi yang sarat pesan moral.

Bagi penonton yang menikmati dua film sebelumnya, Avatar: Fire and Ash menawarkan lebih banyak dari hal yang sama. Namun bagi sebagian lainnya, film ini justru terasa seperti pengulangan dengan kemasan berbeda.

Cerita Berjalan di Tempat

Fire and Ash melanjutkan kisah dari Avatar: The Way of Water (2022). Lo’ak (Britain Dalton) masih berduka atas kematian saudaranya, sementara Neytiri (Zoe Saldaña) dan Jake Sully (Sam Worthington) menghadapi kehilangan dengan cara masing-masing. Di sisi lain, Kiri (Sigourney Weaver) dan Spike (Jack Champion) menjalani hubungan emosional di tengah konflik besar Pandora.

Baca :  Gedung Ampera Jadi Primadona, Ratusan Warga Pontianak Serbu Perpustakaan Modern Setiap Hari

Ancaman utama kembali datang dari manusia bumi yang berambisi menguasai Pandora. Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) kembali tampil sebagai musuh utama, ditemani sosok jenderal baru yang agresif. Konflik memanas ketika muncul tokoh antagonis baru, Varang (Oona Chaplin), pemimpin klan Mangkwan atau Ash People, yang sempat memberi napas segar pada alur cerita.

Pesan Moral yang Terus Diulang

Seperti film Avatar sebelumnya, Fire and Ash kembali mengangkat tema besar tentang kerakusan manusia, kehancuran alam, dan harapan masa depan yang diwakili oleh generasi muda. Pesan ini disampaikan secara gamblang, bahkan terkesan berulang, seolah menegaskan kembali inti cerita yang sudah dikenal sejak film pertama rilis pada 2009.

Visual Megah, Namun Terasa Datar

Dengan durasi mencapai 3 jam 17 menit, Avatar: Fire and Ash kembali menampilkan pertempuran klimaks berskala besar yang dirancang untuk memukau mata. Namun teknologi visual mutakhir yang dulu terasa revolusioner kini dinilai tak lagi memberi kejutan berarti. Bagi sebagian penonton, gambar yang dihasilkan justru terasa datar—indah, tetapi kurang berkesan.

Baca :  Pariwisata Indonesia Tumbuh Berkelanjutan Sepanjang 2025, Kunjungan Wisman Tembus 13,98 Juta

James Cameron memang dikenal sebagai maestro dunia visual sinematik. Namun kali ini, ambisi menciptakan “keajaiban buatan” justru membuat penonton sadar bahwa mereka sedang menatap layar, bukan tenggelam di dalam dunia Pandora.

Dari Revolusi Menjadi Nostalgia

Saat Avatar pertama dirilis pada 2009, film ini dipromosikan sebagai cara baru menikmati bioskop. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, pendekatan tersebut terasa seperti nostalgia mahal. Alih-alih terasa futuristik, Avatar: Fire and Ash justru menghadirkan sensasi deja vu dengan biaya produksi yang luar biasa besar.

Meski masih mungkin memukau sebagian penonton setia, Avatar: Fire and Ash menunjukkan bahwa keajaiban sinema tak selalu bisa diulang dengan formula yang sama. Bagi banyak pengamat, waralaba Avatar kini berada di persimpangan antara mempertahankan pesona lama atau menemukan kembali cara baru untuk membuat penonton benar-benar terpesona. (*/)