Ayah-Anak Bersepeda Keliling Dunia Demi Rekor dan Kemanusiaan, Singgahi Indonesia hingga Australia

George dan Josh Kohler menempuh petualangan bersepeda keliling dunia lintas benua demi memecahkan rekor dunia dan menggalang dana untuk Unicef. Foto: Tangkapan layar YouTube Josh Kohler

KalbarOke.com – Petualangan bersepeda keliling dunia yang dijalani George Kohler dan putranya, Josh Kohler, bukan sekadar upaya memecahkan rekor. Lebih dari itu, perjalanan lintas benua ini menjadi kisah tentang kebaikan manusia lintas budaya dan kuatnya ikatan keluarga.

Berangkat dari rumah mereka di dekat Great Yarmouth, Norfolk, Inggris, pada Maret lalu, pasangan ayah-anak ini telah menempuh ribuan kilometer melintasi Eropa, Uzbekistan, China, Thailand, Indonesia, hingga kini berada di Australia.

Mereka menargetkan kembali ke Inggris pada Mei mendatang dengan ambisi mencetak tiga rekor dunia sekaligus: ayah-anak yang bersepeda paling jauh, paling cepat, dan melintasi negara terbanyak, sambil menggalang dana ribuan pound untuk Unicef.

“Pengalaman ini benar-benar luar biasa. Semua yang kami lihat dan orang-orang yang kami temui sungguh di luar dugaan,” ujar Josh Kohler (22).

“Yang paling berkesan adalah kebaikan orang asing di setiap negara. Itu seperti benang merah perjalanan kami.”

Di sepanjang rute, mereka kerap menerima bantuan tak terduga—mulai dari tumpangan menginap gratis, makanan, hingga sebotol air di tengah perjalanan panjang. Salah satu momen paling membekas terjadi di Turki, ketika seorang gembala mengundang mereka sarapan sederhana dengan telur dan keju di pedesaan terpencil.

Baca :  Tikus dan Curut Kabur Selamanya! Trik Ajaib Ramuan Kopi dan Daun Sirih Bikin Rumah Serta Ladang Jadi Aman

Meski sempat tertinggal dari target rekor tercepat, George dan Josh mengubah strategi dengan menambah rute demi mengejar rekor jumlah negara terbanyak yang dilintasi dengan sepeda.

Saat diwawancarai, keduanya berada di Dataran Nullarbor, Australia, hamparan gurun sepanjang 1.200 kilometer yang mereka sebut sebagai tantangan terberat.

“Ada keindahan yang sureal di gurun, tapi secara mental sangat menguras tenaga,” kata George Kohler (56), menggambarkan jalan lurus tanpa tikungan, angin kencang, dan panas ekstrem sebagai ujian fisik dan psikologis.

Masalah teknis seperti kerusakan gir sepeda di Indonesia dan insiden jatuh di Uzbekistan justru menjadi titik balik. “Titik terendah itu berubah jadi kemenangan kecil saat kami berhasil melewatinya,” ujar George.

Di balik tantangan, perjalanan ini juga dipenuhi momen tak terlupakan: balon udara Cappadocia, terasering padi raksasa di China, suaka panda, hingga Tembok Besar China. Bahkan, keluarga ini sempat merencanakan kejutan dengan mengajak ibu Josh bergabung di Bali untuk merayakan ulang tahun pernikahan ke-30 orang tuanya.

Baca :  Pendaki Gunung Merapi Tersesat Berhasil Dievakuasi, Satu Korban Masih Dalam Pencarian

Natal tahun ini pun terasa berbeda. Di Australia, mereka berharap merayakannya di area berkemah dekat pantai, momen yang diyakini akan dikenang seumur hidup.

Peran penting juga dimainkan oleh Jane Kohler, istri George, yang menangani logistik dan dukungan emosional dari jauh. “Saya sering menerima pesan saat mereka kelelahan, dan saya hanya berusaha membantu semampu saya,” ujarnya.

Bagi George, rekor bukan tujuan utama. “Yang terpenting adalah melihat betapa baiknya orang-orang di dunia dan menginspirasi orang lain untuk berani bermimpi,” katanya.

Kisah George dan Josh Kohler pun menjadi inspirasi global—bahwa petualangan, kemanusiaan, dan ikatan keluarga dapat berpadu dalam satu perjalanan luar biasa mengelilingi dunia. (*/)