Pengecer Gas Sungai Rengas ‘Ngomel’ ke Jiwo: Kalau Kami Diberantas, Warga Bisa Melalar!

Pengecer gas di Sungai Rengas curhat kepada Bupati Sujiwo. Ia menyebut pengecer membantu warga yang jauh dari pangkalan agar tidak "melalar" mencari gas. (Foto: Fb/Mia)

KalbarOke.Com — Kebijakan tegas Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang melarang pangkalan menjual elpiji 3 kilogram kepada toko dan pengecer menuai reaksi dari pelaku usaha kecil di lapangan. Seorang pengecer gas di kawasan Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, menyampaikan omelan curahan hati (curhat) terbuka kepada Bupati Kubu Raya, Sujiwo, melalui media sosial.

Dalam unggahan akun Facebook Mia Aulia pada Kamis (22/1/2026), ia mengungkapkan kekhawatirannya jika peran pengecer diberantas total. Menurutnya, keberadaan pengecer justru membantu warga yang tinggal jauh dari pangkalan atau mereka yang tidak kebagian jatah akibat stok pangkalan yang terbatas.

“Kalau sempat pengecer ni tak ada pak, warga lebih susah lagi pak, kerana ndak semua warga dekat rumah pangkalan. Kedua pangkalan tu mendapat jatah pak, 1 pangkalan cuman kadang sekian tabung yang datang, sedangkan warganya melebihi daripada itu,” ujar Mia Aulia dalam postingannya.

Ia mengakui menjual gas melon dengan harga Rp25.000 per tabung. Harga tersebut diklaim sebagai harga pasaran di tingkat pengecer karena dirinya juga harus mengambil barang dari pangkalan atau membayar biaya pengantaran. Meski di atas HET, ia menyebut warga selama ini tidak merasa keberatan karena kemudahan akses yang diberikan.

“Malahan kalau saya tak jualan gas ngecer nih pak, saya pastikan warga sungai rengas nih pak melalar (kesulitan mencari gas). Kalau pengecer bapak berantas kasihan warga pak, bukan saya menentang saran daripada bapak nih, cuman mikirkan juga warga nih, karena di lapangan nih terkadang beda dengan apa yang kita omongkan,” tambahnya pada Kamis (22/1/2026).

Baca :  Lahan Karhutla 9 Hektare di Punggur Kecil Disegel, Polisi Selidiki Unsur Kesengajaan Pembakaran

Unggahan tersebut viral dan memancing beragam komentar dari netizen yang memperlihatkan realitas distribusi gas di Kubu Raya. Beberapa netizen mengakui manfaat pengecer di saat mendesak, namun banyak pula yang mengeluhkan perilaku oknum pangkalan yang dianggap lebih mengutamakan pengecer besar daripada warga sekitar.

Akun Sam Aje memberikan pandangannya di kolom komentar: “Pengecer sih ta salah, ada pula gunanye di kala sesak, cuma yang jadi masalah ni, banyak pangkalan yang tak mengutamakan warga yang beli, tetangga sorang saja kadang ta kebagian. Kenak pengecer, bise pula beli sampe 10 butik,” tulisnya.

Senada dengan itu, akun Ramadhan Kantak PG justru meluapkan kekesalannya terhadap oknum pangkalan. “Depan gang saye ada pangkalan juga. Dekat, saya hanya beli 1 dibilang gak ada. Sekali pengecer datang bawak 10 tabung ada,” ungkapnya.

Curhatan ini menggambarkan dilema distribusi gas bersubsidi di Kabupaten Kubu Raya. Di satu sisi, Bupati Sujiwo ingin menekan harga agar sesuai HET dan tepat sasaran kepada warga miskin. Di sisi lain, keterbatasan jangkauan pangkalan membuat warga di pelosok masih sangat bergantung pada keberadaan pengecer meski dengan harga yang lebih tinggi.

Baca :  Kopi Aroma Sabu Gagal Terbang! Penyelundupan Narkoba ke Sulawesi di Bandara Supadio Digagalkan

Pihak pengecer berharap pemerintah dapat melihat kondisi riil di lapangan, di mana kebutuhan warga sering kali melampaui kemampuan pangkalan dalam melayani distribusi secara langsung dan merata.


Ringkasan Berita

*Seorang pengecer gas di Sungai Rengas curhat kepada Bupati Sujiwo melalui media sosial pada Kamis (22/1/2026) terkait larangan jual gas ke pengecer.

*Pengecer mengklaim perannya penting agar warga tidak “melalar” atau kesulitan mencari gas, mengingat jarak rumah warga ke pangkalan sering kali jauh.

*Ia mengakui menjual gas seharga Rp25.000 per tabung dan menyebut warga tidak komplain karena stok di tempatnya selalu tersedia saat pangkalan kosong.

*Netizen terbelah; ada yang setuju pengecer membantu saat sesak, namun banyak yang mengkritik pangkalan karena diduga bermain harga dan lebih mendahulukan pengecer.

*Masyarakat berharap ada solusi distribusi yang adil agar pangkalan lebih mengutamakan warga individu tanpa harus menghilangkan peran pengecer di daerah pelosok.