Di Antara Jalur Kapal dan Hiu Paus, Upaya PIS Menjaga Raksasa Laut

PT Pertamina International Shipping menandai empat hiu paus di Kepulauan Derawan sebagai bagian dari upaya konservasi dan mitigasi risiko tabrakan kapal terhadap spesies laut terancam punah. Foto: Pertamina

KalbarOke.com – PT Pertamina International Shipping (PIS) melanjutkan keterlibatannya dalam upaya konservasi hiu paus di Indonesia. Perusahaan pelayaran energi itu menandai empat ekor hiu paus di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, sebagai bagian dari riset dan mitigasi risiko tabrakan kapal dengan satwa laut dilindungi.

Penandaan hiu paus berlangsung pada 15–28 November 2025 dengan menggandeng Konservasi Indonesia, sebuah yayasan nasional yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Empat hiu paus yang ditandai diberi nama Pride, Prime, Bangka, dan Belitung—mengacu pada armada kapal tanker milik PIS.

Dengan tambahan tersebut, PIS tercatat telah menandai tujuh individu hiu paus dalam dua tahun terakhir, setelah sebelumnya melakukan kegiatan serupa di perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Tengah.

Manager CSR PIS Alih Istik Wahyuni mengatakan penandaan hiu paus bertujuan mendukung perlindungan fauna laut sekaligus memastikan aktivitas pelayaran perusahaan tidak memperburuk tekanan terhadap ekosistem.

“Melalui pengumpulan data bersama mitra yang berpengalaman, kami dapat memahami pola pergerakan hiu paus dan menyesuaikan operasional agar berdampak positif terhadap keberlangsungan satwa tersebut,” ujar Alih.

Baca :  BYD Geser Tesla, China Resmi Jadi Raja Baru Mobil Listrik Dunia

Ia menjelaskan, salah satu ancaman serius bagi hiu paus adalah tabrakan dengan kapal berukuran besar. Dengan memahami jalur migrasi dan area jelajah hiu paus, PIS berupaya menghindari tumpang tindih rute pelayaran dengan koridor satwa.

“Data hasil tagging akan kami integrasikan dengan data pelayaran yang kami miliki untuk meminimalkan risiko tabrakan hiu paus dengan kapal PIS,” katanya.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Mochamad Iqbal Herwata Putra menyebut populasi hiu paus global menghadapi tekanan berat. Berdasarkan kajian ilmiah, jumlah hiu paus diperkirakan telah menyusut lebih dari 50 persen akibat tabrakan kapal, polusi laut, perubahan iklim, serta penangkapan tidak sengaja.

“Upaya penandaan individu hiu paus penting untuk memetakan koridor migrasi. Data ini menjadi dasar perlindungan spesies payung yang perannya sangat penting bagi ekosistem laut,” ujar Iqbal.

Ia menambahkan, meski pemulihan populasi hiu paus masih dimungkinkan, proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu abad jika upaya konservasi dilakukan secara konsisten.

Baca :  Pramuka Patriot Lingkungan Tanam 500 Bibit Mangrove di Pantai Lamaru

Program penandaan hiu paus merupakan bagian dari inisiatif Marine BiodiverSEAty di bawah payung program CSR PIS, BerSEAnergi untuk Laut. Program ini berada dalam pilar pelestarian lingkungan dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14: Life Below Water.

Penandaan dilakukan menggunakan perangkat tag satelit untuk melacak pola pergerakan, jalur migrasi, dan habitat kritis hiu paus di perairan Derawan serta wilayah laut Indonesia lainnya.

Alih menegaskan PIS akan melanjutkan program tersebut untuk memperkaya basis data konservasi. “Kami menargetkan penyusunan peta risiko tabrakan kapal dengan hiu paus serta rekomendasi mitigasi dan masukan teknis bagi pengembangan standar keselamatan laut,” ujarnya.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu paus telah masuk daftar merah spesies terancam punah sejak 2016. Melalui keterlibatan dalam konservasi ini, PIS menyatakan ingin memastikan aktivitas industri maritim berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia. (*/)