KalbarOke.com – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen sebagai momentum yang sangat baik sekaligus capaian yang patut disyukuri. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2022, ketika perekonomian nasional mengalami rebound pascapandemi Covid-19.
“Pertumbuhan 5,39 persen itu adalah yang tertinggi sejak 2022. Saya kira ini sebuah achievement yang patut kita syukuri,” kata Juda dalam sesi panel CNBC Economic Outlook 2026 di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurut Juda, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara anggota G20. Ia menilai kinerja ekonomi kuartal IV 2025 menunjukkan korelasi positif dengan berbagai indikator kesejahteraan, mulai dari Indeks Keyakinan Konsumen hingga penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per November 2025, jumlah tenaga kerja bertambah sekitar 1,4 juta orang hanya dalam satu kuartal, yakni periode Agustus–November.
“Normalnya penambahan tenaga kerja setahun sekitar 3 juta orang. Ini dalam satu kuartal sudah mencapai 1,37 juta. Artinya, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV benar-benar mendorong penciptaan lapangan kerja,” ujar Juda.
Ia menilai momentum tersebut perlu dijaga pada awal 2026. Pemerintah berharap kinerja ekonomi pada kuartal I tahun ini dapat lebih baik dibandingkan kuartal IV 2025, seiring dengan berlanjutnya stimulus fiskal dan perbaikan iklim usaha.
Dalam forum yang sama, Juda memaparkan tiga langkah strategis Kementerian Keuangan untuk meningkatkan penerimaan negara secara berkelanjutan. Langkah pertama adalah meningkatkan kepatuhan pajak melalui optimalisasi sistem Coretax dan percepatan digitalisasi perpajakan.
Langkah kedua diarahkan pada pengetatan pengawasan guna menekan kebocoran penerimaan, baik di sektor pajak, bea dan cukai, maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pemerintah juga mengintensifkan pemberantasan praktik under-invoicing pada kegiatan ekspor dan impor.
Adapun langkah ketiga adalah memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Juda menekankan pentingnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan serta menekan biaya modal melalui suku bunga yang efisien.
“Sinergi fiskal dan moneter menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan berkelanjutan,” kata Juda.
Turut hadir sebagai panelis dalam forum tersebut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae, serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu. (*/)






