Fatima Bosch Dinobatkan sebagai Miss Universe 2025 di Tengah Badai Kontroversi dan Drama Panas

Final Miss Universe 2025 di Bangkok penuh drama—mulai dari walkout Fatima Bosch, mundurnya juri, hingga tudingan pengaturan hasil. Foto: tangkapan layer YouTube Imagen Entretenimiento

KalbarOke.com – Fatima Bosch, finalis asal Meksiko berusia 25 tahun, resmi dinobatkan sebagai Miss Universe 2025 pada malam final yang digelar di Bangkok, Thailand. Namun kemenangan yang seharusnya menjadi momen bersejarah ini berubah menjadi perbincangan global karena dibayangi rangkaian drama dan kontroversi yang terjadi sepanjang kompetisi.

Fatima sebelumnya menjadi pusat perhatian setelah aksi walkout dari salah satu acara pra-kontes pada awal November. Ia meninggalkan ruangan setelah seorang pejabat Thailand secara terbuka menegurnya dan mengancam mendiskualifikasi peserta lain yang membelanya.

Aksi ini memicu gelombang solidaritas dari sejumlah finalis dan langsung menjadi isu internasional.

Tak lama setelah itu, dua juri mengundurkan diri. Salah satunya bahkan menuding penyelenggara telah melakukan pengaturan hasil—tudingan yang membuat publik semakin yakin bahwa Miss Universe 2025 penuh ketidakstabilan internal.

Setelah dinobatkan sebagai pemenang, Fatima langsung menjadi topik hangat di media sosial. Banyak warga Meksiko merayakan gelar Miss Universe keempat bagi negara mereka. Namun sebagian netizen menuding kemenangan ini sebagai “kompensasi” atau “penebusan” akibat insiden walkout yang viral.

Runner-up pertama diraih Miss Thailand Praveenar Singh, disusul Miss Venezuela Stephany Abasali di posisi ketiga. Miss Filipina Ma Ahtisa Manalo dan Miss Cote d’Ivoire Olivia Yace melengkapi posisi lima besar.

Baca :  Mahashivaratri di Prambanan: Ritual Suci dan Transformasi Pariwisata Spiritual

Ketegangan Antara Pemilik Lisensi Thailand dan Organisasi Pusat

Drama berlanjut ketika pemilik lisensi penyelenggaraan di Thailand, Nawat Itsaragrasil, mendapat kritik dari organisasi pusat Miss Universe yang berbasis di Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, bahkan memuji Fatima atas keberaniannya yang dinilai “memberi contoh cara perempuan melawan agresi.”

Pasca acara, Nawat hanya mengunggah kalimat singkat: “A billion words that cannot be said”, membuat publik bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung.

Salah satu juri yang mundur, musisi Omar Harfouch, kembali menegaskan bahwa beberapa finalis telah dipilih sebelumnya. Meski pihak Miss Universe membantah keras, isu ini terus berkembang di media sosial.

Tahun ini juga diwarnai insiden jatuhnya Miss Jamaica saat sesi evening gown. Ia sempat dilarikan dengan tandu, namun dinyatakan tidak mengalami cedera serius.

Miss Universe Disebut Sedang Jalani Masa “Transisi Tidak Mulus”

Pengamat menilai Miss Universe tengah berada dalam fase transisi yang rumit. Kepemimpinan yang terbagi antara Thailand dan Meksiko membuat komunikasi organisasi disebut tidak sejelas era pengelolaan sebelumnya—baik saat masih berada di bawah Endeavor maupun Donald Trump.

Baca :  Menkeu Purbaya Sanksi Penerima LPDP yang Hina Indonesia, Dana Beasiswa Wajib Dikembalikan

Figur Anne Jakrajutatip, mantan pemilik yang juga seorang pengusaha transgender, juga masih menjadi pusat perdebatan publik. Anne sebelumnya memperkenalkan kebijakan inklusif, termasuk membuka kesempatan bagi perempuan menikah, ibu, hingga peserta transgender untuk berkompetisi.

Meski jumlah penonton televisi menurun, fandom Asia Tenggara—khususnya Thailand, Filipina, dan Indonesia—terus meningkat. Organisasi Miss Universe kini berupaya memperkuat citra digital mereka melalui media sosial dan e-commerce, menjadikan ajang ini lebih dari sekadar kompetisi tahunan.

Di sisi lain, meski dikritik karena dianggap mengobjektifikasi perempuan, Miss Universe juga menjadi platform penting bagi aktivisme sosial. Banyak mantan pemenang kini berperan sebagai influencer dengan jutaan pengikut.

Mantan presiden Miss Universe Organization, Paula Shugart, kembali menegaskan bahwa inti dari ajang ini adalah pemberdayaan perempuan. “Miss Universe tidak ada artinya bila tidak memberdayakan perempuan yang berkompetisi,” ujarnya. (*/)