“Hilal” Presiden 2024

Oleh : Mursalin

Ibaratkan Hilal. Siapa gerangan yang bakal memimpin Indonesia 2024, sebenarnya sudah tampak. Bila tak ada aral melintang, Presiden Indonesia berikutnya-pasca Jokowi, ya, diantara ketiga orang ini; Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto (urutan sesuai alfabet).

Namanya juga hilal. Kehadirannya terprediksi. Tak ada itu yang namanya hilal datang memberikan kejutan atau surprise. he..he..he. Bahkan bukan cuma prediktabel, hilal malah bisa dihitung secara saintifik. Nah, begitu juga calon presiden. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, katanya, keterpilihannya ‘malah’ bisa disurvei sejak jauh hari.

Kembali ke ketiga nama tersebut tadi, mereka yang bakal jadi orang nomor satu di negeri ini, bagi kita tentu sudah sangat akrab. Sering liat soalnya, secara visual di televisi. Sepak terjangnya juga sangat kita ketahui dan jelas. Semuanya pejabat publik. Ada yang sudah mantan dan ada yang hampir mantan.

Ketiganya juga sebenarnya, kalau ditelisik, masih dalam satu lingkaran itu itu juga. Prabowo misalnya. Pada 2009, partainya berkoalisi dengan PDIP mengusung Mega Prabowo. Dan setelah tiga kali nyapres (sekali sebagai cawapres dan dua kali capres), kini ia bergabung dengan mantan rivalnya yaitu Jokowi dan menjadi menteri. Jokowi di dua kali Pilpres, pengusung utamanya adalah PDIP bersama koalisi beberapa partai lain.

Begitu pun Ganjar. Ia merupakan kader tulen PDIP. Pernah menjadi DPR RI. Dan kini, Ganjar menjabat Gubernur Jawa Tengah. Jabatan sekarang merupakan periode yang kedua diembannya. Periode pertama maju, Ganjar dibackup penuh oleh PDIP, sehingga mampu mengalahkan incumbent waktu itu di Pilgub Jateng.

Anies Baswedan juga demikian. Saat Pilpres 2014, dia menjadi tim utama pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Sering bareng dengan Jokowi saat kampanye Pilpres. Ketika Jokowi terpilih dan menjadi Presiden, Ia dipercaya untuk memimpin Kementerian Pendidikan. Memang Anies menjadi menteri di periode pertama Jokowi, tidak sampai lima tahun. Ia termasuk yang direshuffle bersama beberapa menteri lain. Setelah tak jadi Menteri, Anies lalu ikut dalam pemilihan Gubernur DKI diusung oleh Partainya Prabowo yaitu Gerindra. Bersama Sandiaga Uno ia terpilih, mengalahkan Ahok, mantan wakilnya Jokowi saat Gubernur DKI.

Bila para figur calon presidennya setelah kita telisik masih dalam satu lingkaran yang sama, pun suportingnya atau biasa orang sebut dalangnya atau sutradaranya juga demikian. Orangnya tetap masih itu itu juga. Ada Surya Paloh, Jusuf Kalla, SBY, Megawati, dan termasuklah Jokowi. Malah belakangan, semakin terang sikap Jokowi, dengan ikut juga ‘cawe cawe’ dalam menentukan Presiden di kontestasi Pilpres 2024.

Anies, secara formal, ia didukung penuh oleh Surya Paloh dan Partai Nasdem yang dipimpinnya. Nasdem kita tahu adalah partai pengusung Jokowi saat Pilpres dan berada di pemerintahan dengan beberapa menterinya di kabinet. Untuk mencukupkan syarat threshold, Nasdem lalu mengajak Partai Demokrat dan PKS-yang kebetulan keduanya partai non pemerintah. Selain Pak Surya dan koalisi parpol pendukung, di barisan Anies juga kita dengar ada Jusuf Kalla, mantan wakil Jokowi saat periode pertama Presiden.

Kalau Megawati jelas, partainya PDIP yang memenuhi syarat threshold, sudah mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden yang akan diusung di Pilpres pada 14 Februari 2024. Sementara Jokowi, walaupun terkesan masih ada diantara dua nama Ganjar dan Prabowo, sejumlah gesturnya dan juga pernyataan relawannya dalam sejumlah kesempatan, diterjemahkan oleh banyak pihak dan pengamat, kecenderungan mengarah ke Prabowo.

Melihat dinamika perpolitikan di kita belakangan, mungkin sudah jadi “takdir”, alur kisahnya kian unik dan menarik. Konon, tak mau ada istilah oposisi. Lebih senang menyebut diri sebagai partai pemerintah dan partai non pemerintah. Sehingga demikian, jangan heran, meski berbeda posisi saat kontestasi pilpres, namun ketika menyusun pemerintahan, antar partai yang sebelumnya berseberangan bisa bergabung di posisi yang sama dalam satu pemerintahan. Bahkan bukan hanya partainya saja, sang kontestan juga malah ikut diakomodir sebagai menteri oleh Presiden yang menjadi rivalnya, seperti Prabowo dan Sandiaga Uno, yang berpasangan melawan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

Fakta dinamika politik yang ada tersebut di Indonesia, tak bisa hanya dilihat dengan kacamata skeptis. Bahkan kenyataan ini dapat menjadi ‘yurisprudensi’. Bahkan pada beberapa kesempatan, Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, dalam pernyataannya, justru malah tertarik dengan dinamika politik di negeri jirannya ini. Dan ia berharap, faksi faksi politik yang ada di negerinya Malaysia juga bisa menyatu sebagaimana yang telah dicontohkan di Indonesia.

Tapi, ya, sudah terlanjur kita sering menjuluki Pemilu sebagai pesta demokrasi. Jadi? Namanya juga pesta. “Nggak seru kalau nggak rame.” Makanya, meski orangnya seputar itu itu juga, tetap saja penuh kemeriahan jelang Pemilu Presiden 2024 yang tinggal menghitung bulan. Para pemain berupaya semaksimal mungkin berakrobatik menunjukan kebolehannya. Suporter juga terus bersorak sorai meng-elukan jagoannya. Bukan cuma meriah, suhu politik juga dibikin panas akhir akhir ini.

Kita selaku rakyat, sebagai pemilik mandat, pemegang saham utama negeri bernama Indonesia ini, tentunya tak boleh ikut larut dalam hiruk pikuk Pilpres. Namanya juga Bos, owner atau pemilik, cukup kita ‘menonton’ mereka. Tak perlu ikutan sibuk untuk cawe cawe segala. Eheeemmmm.

Mungkin yang perlu terus kita dorong atau suarakan, agar para calon pemimpin bangsa tersebut semaksimal mungkin beradu gagasan untuk memajukan Indonesia. Beri mereka (capres) panggung di kampus untuk berdebat dan disiarkan luas ke khalayak melalui media. Bersama kita menyaksikan dan menikmatinya sembari memberikan penilaian, sebelum rapat umum pemegang saham digelar 14 Februari 2024 nanti.

Mengapa debat dan beradu gagasan menjadi penting dilakukan para calon pemimpin Indonesia kedepan, karena salah satunya tantangan bangsa kedepan tidak mudah. Pola kepemimpinan ‘konvensional’ sepertinya tak cukup untuk menghadapi dinamika global yang semakin dinamis.

Seperti pandemi penyakit misalnya. Tak pernah kita mengira, ditengah kemajuan ilmu pengetahuan di zaman yang katanya modern saat ini, seluruh penduduk dunia dibikin pontang-panting oleh yang namanya corona kurang lebih dua setengah tahun 2020-2022.

Begitu juga dengan perdamaian dunia. Siapa sangka, negara maju seperti Rusia, dengan enteng meluncurkan rudalnya ke negara kecil tetangganya Ukraina. Kemelut belum juga usai, sehingga berdampak pada perekonomian global; krisis energi, pangan dan lainya sebagai efek domino.

Selain hal covid dan perang yang terjadi tiga tahun belakangan, sejumlah kejutan dunia yang memberikan efek global juga sudah sering muncul sebenarnya. Krisis eropa, perang di timur tengah, sejumlah negara bangkrut, kudeta kekuasaan dan lainnya.

Kita selaku rakyat tentu berharap, pemimpin Indonesia kedepan mampu untuk terus menjaga eksistensi negara ini di tengah dinamika global yang semakin sengit. Para kandidat harus kita dengar pemikirannya secara langsung. Sudah cukup, segala pola komunikasi dua dimensi calon pemimpin, dengan tampilan foto atau gambar tersenyum, berkerumun dengan rakyat, dan sejumlah tampilan dua dimensi pencitraan lainnya yang sering kita lihat di baleho maupun media sosial.

Waktu yang kurang lebih delapan bulan menjelang Pilpres ini, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengeksplore kemampuan para calon pemimpin Indonesia kedepan. Bukan hanya untuk mengetahui konsep pemikirian dan gagasanya, sejumlah butir yang dihasilkan dari perdebatan para calon pempimpin tersebut, nantinya dapat dijadikan kontrak politik dan menjadi pegangan si empunya mandat yaitu rakyat untuk nanti menentukan pilihannya.

Bonus demografi melimpah, kelompok teror masih mengancam, kemiskinan, kerusakan lingkungan, semrawut dinamika ekonomi dan poltik global, adalah diantara persoalan yang harus mampu dihadapi Presiden Indonesia kedepan, yang pemilihannya akan kita lakukan Februari 2024. Karena itu, kualifikasi pemikiran mereka yang akan menjadi Presiden Indonesia harus kita uji dan dieksplore dalam sebuah kompetisi atau adu gagasan berupa debat.

Debat liar yang bersliweran di medos harus ditarik ke panggung resmi sehingga menghasilkan argumentasi ilmiah. Dan yang pasti, debat calon presiden di era yang penuh tantangan ini, tak cukup hanya sekadarnya saja. Bahkan ada yang berkelakar, debat tak ubahnya seperti “cerdas cermat” calon Presiden-sebagaimana yang kita saksikan dalam empat kali Pilpres secara langsung digelar di bumi nusantara pasca reformasi ini…wkkwkk!** (Penulis warga Kalbar dan bekerja di media)

 

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 2723 kali