KalbarOke.Com — Penyakit hipertensi atau darah tinggi menjadi kasus kesehatan paling banyak ditangani oleh puskesmas di Kota Pontianak sepanjang tahun 2025. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tantangan kesehatan masyarakat kini bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan pola hidup.
Berdasarkan data yang ada, hipertensi esensial menempati urutan pertama dengan total 54.409 kasus. Jumlah ini terpaut cukup jauh dari kasus nasofaringitis akut atau flu di urutan kedua dengan 44.912 kasus, disusul gangguan lambung atau maag sebanyak 28.448 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menyebut tingginya angka ini sebagai peringatan agar warga lebih serius memperbaiki gaya hidup. Menurutnya, pencegahan darah tinggi tidak bisa lepas dari pengaturan asupan makanan dan aktivitas fisik yang cukup.
“Sekarang yang paling banyak adalah hipertensi. Berarti ini harus memperbaiki pola hidup dari masyarakat, terutama konsumsi makanan tidak boleh berlebih, harus olahraga, istirahat cukup, dan kelola stres,” ujar Saptiko pada Selasa (31/3/2026).
Saptiko menambahkan bahwa penanganan hipertensi tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan saja. Perubahan perilaku hidup secara konsisten menjadi kunci utama agar kondisi pasien tidak memburuk.
Masyarakat yang sudah terdiagnosis diminta untuk rutin memeriksa tekanan darah dan berkonsultasi mengenai asupan gizi yang tepat. Menurut Saptiko, diet yang benar dan olahraga rutin sangat membantu dalam mengelola tekanan darah.
Dinkes Kota Pontianak juga mencermati adanya tren kenaikan kasus hipertensi sekitar 10 persen pada awal tahun 2026 ini. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit akibat gaya hidup kini mendominasi masalah kesehatan di wilayah perkotaan.
“Kalau saya lihat peningkatannya ada sekitar 10 persenan. Yang penting sekarang kita melihat bahwa masalahnya bukan lagi penyakit infeksi, tetapi penyakit tidak menular karena gaya hidup,” tegasnya pada Selasa (31/3/2026).
Program cek kesehatan gratis pun terus digencarkan sebagai langkah deteksi dini. Saptiko mengingatkan bahwa hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga banyak warga yang baru sadar setelah terkena komplikasi berat.
Ia berharap masyarakat tidak meremehkan pemeriksaan rutin agar terhindar dari risiko fatal. Deteksi lebih awal memungkinkan penanganan yang lebih baik sebelum penyakit berkembang menjadi stroke atau gangguan jantung.
“Jangan sampai nanti orang baru stroke baru tahu bahwa dia darah tinggi. Dengan cek kesehatan gratis, masyarakat lebih mudah mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini,” pungkas Saptiko.
Ringkasan Berita
Hipertensi menjadi penyakit nomor satu di Puskesmas Kota Pontianak selama tahun 2025 dengan total 54.409 kasus.
Jumlah kasus hipertensi melampaui penyakit umum lainnya seperti flu, gangguan lambung, dan infeksi saluran pernapasan.
Kepala Dinkes Pontianak Saptiko mengamati adanya kenaikan kasus sekitar 10 persen pada awal tahun 2026 akibat pola hidup masyarakat yang kurang sehat.
Warga diimbau untuk rutin melakukan cek kesehatan gratis guna mendeteksi faktor risiko sebelum terjadi komplikasi seperti stroke atau penyakit jantung.
Penanganan hipertensi mewajibkan pasien untuk mengubah perilaku hidup, mulai dari mengatur konsumsi garam hingga mengelola stres secara rutin.







