KalbarOke.com – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 17 Desember 2025. Pencatatan ini menandai langkah strategis Super Bank dalam memperkuat posisinya di industri perbankan digital nasional.
Dalam masa penawaran umum yang berlangsung pada 10–15 Desember 2025, saham Super Bank ditawarkan dengan harga Rp634 per lembar saham. Proses pendistribusian saham telah dilakukan sehari sebelumnya, yakni Selasa, 16 Desember 2025.
Lepas 44 Juta Lot, Himpun Dana Rp3,06 Triliun
Melalui IPO ini, Super Bank melepas sebanyak 44.066.123 lot saham kepada publik. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan menargetkan perolehan dana segar sebesar Rp3,06 triliun.
Dalam prospektus yang dirilis di BEI, manajemen Super Bank menyatakan bahwa sekitar 70 persen dana IPO akan dialokasikan untuk modal kerja dan penyaluran kredit. Sementara 30 persen sisanya akan digunakan untuk belanja modal (capital expenditure) yang direalisasikan secara bertahap mulai 2026 hingga lima tahun ke depan.
Belanja modal tersebut akan difokuskan pada pengembangan produk perseroan, mulai dari produk pendanaan, pembiayaan, hingga sistem pembayaran, dengan penekanan pada solusi digital bagi segmen ritel dan UMKM.
“Melalui investasi pada infrastruktur, sistem operasional, AI & data analytics, serta peningkatan cybersecurity, perseroan membangun fondasi digital yang kuat, aman, dan efisien,” tulis manajemen Super Bank dalam prospektusnya.
Persaingan Bank Digital Kian Ketat
Masuknya Super Bank ke pasar modal menambah daftar emiten bank digital di Indonesia. Berdasarkan catatan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kini terdapat tujuh saham bank digital yang tercatat di BEI, yakni BBYD, BBHI, ARTO, AGRO, BANK, AMAR, dan SUPA.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kehadiran Super Bank di bursa akan memperketat persaingan di sektor perbankan digital. “IPO perbankan atau fintech selalu menarik perhatian investor, namun di sisi lain persaingan di sektor bank digital memang semakin ketat,” ujarnya.
Andalkan Ekosistem Grab dan OVO
Super Bank dikenal sebagai bank yang menyasar beragam segmen nasabah, termasuk masyarakat underbanked dan unbanked, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keunggulan utama perseroan terletak pada ekosistem digital yang kuat, dengan dukungan platform Grab dan OVO, serta kemitraan strategis bersama Emtek Group, Singtel, dan Kakao Bank.
Manajemen menyebut pertumbuhan Super Bank dalam lanskap perbankan nasional didorong oleh integrasi ekosistem tersebut. Sejak peluncuran ke publik pada Juni 2024, jumlah pengguna aktif meningkat signifikan, dari di bawah 20 ribu pengguna pada April 2024 menjadi sekitar 4 juta pengguna aktif per 30 Juni 2025.
Sebanyak 64,4 persen pengguna aplikasi Super Bank tercatat diakuisisi melalui platform Grab dan OVO. Jangkauan kedua aplikasi tersebut memungkinkan Super Bank merambah hingga wilayah semi-perkotaan dan pedesaan di luar kota-kota besar.
“Dengan keberhasilan integrasi bersama Grab dan OVO, perseroan berencana mengintegrasikan layanan ke platform mitra strategis lainnya untuk memperluas jangkauan dan kehadiran Super Bank di ekosistem digital Indonesia,” ujar manajemen. (*/)






