Indeks
Landak  

IWO Landak Tanam 250 Pohon di Riam Angan, Jurnalis Tak Hanya Menulis soal Lingkungan

IWO Landak menanam 250 bibit pohon di Riam Angan. Gerakan ini melibatkan pemerintah, mahasiswa, komunitas, dunia usaha dan masyarakat. Foto: Hendri Marcelleno

KalbarOke.com — Para jurnalis biasanya berada di balik kamera atau mencatat persoalan lingkungan melalui berita. Namun di kawasan wisata alam Riam Angan, Desa Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mereka turun langsung membawa bibit dan cangkul.

Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Landak menanam 250 bibit pohon buah-buahan di kawasan tersebut pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan itu mengusung tema “Jurnalis Peduli Lingkungan: Menulis Fakta, Menanam Harapan.”

Gerakan penghijauan tersebut menjadi bagian dari peringatan HUT ke-14 IWO. Namun kegiatan tidak berhenti pada agenda organisasi. IWO mengajak pemerintah, mahasiswa, komunitas pecinta alam, dunia usaha, hingga masyarakat untuk ikut menanam dan merawat pohon.

Kegiatan diawali prosesi pemotongan bambu yang diiringi tarian khas Dayak. Staf Ahli Bupati Landak Subanri, yang mewakili Bupati Landak, memimpin prosesi pembukaan sebelum rombongan memasuki kawasan Riam Angan.

Setelah itu, peserta melakukan penanaman pohon secara simbolis. Dari 250 bibit yang disiapkan, sebagian ditanam di kawasan wisata Riam Angan. Bibit lainnya diserahkan kepada Pemerintah Desa Angan Tembawang untuk dibagikan kepada masyarakat dan ditanam di lingkungan masing-masing.

Dukungan bibit datang dari KPH Wilayah Landak. Gerakan tersebut juga mendapat dukungan CSR HPI PAU Area Landak, Bank Kalbar, Pemerintah Kabupaten Landak, Polres Landak, dan Kodim 1210/Landak.

Sejumlah kelompok turut ambil bagian, antara lain mahasiswa UT-SALUT Landak, Mapala Universitas Santo Agustinus Hippo, mahasiswa KKM UNTAN, Forum Pecinta Alam Landak, Pramuka, Pemerintah Desa Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, PKK Desa Angan Tembawang, Pokdarwis Riam Angan, serta perangkat daerah dan masyarakat setempat.

Staf Ahli Bupati Landak Subanri mengapresiasi langkah IWO Landak. Menurut dia, kegiatan penghijauan akan memberikan manfaat apabila tidak berhenti sebagai agenda seremonial. “Kami dari pemerintah sangat apresiasi sekali. Karena dari tim media hari ini melalui IWO, dalam rangka HUT IWO yang ke-14, luar biasa. Ini sangat bermanfaat untuk masyarakat,” kata Subanri.

Ia meminta pohon yang telah ditanam dirawat hingga tumbuh dan memberikan manfaat. “Mudah-mudahan ini tetap ditindaklanjuti. Kegiatan hari ini jangan hanya seremonial saja. Kita tanam hari ini, tetapi tetap dipelihara dan berkelanjutan,” ujarnya.

Subanri juga berharap insan pers terus mengambil bagian dalam upaya menjaga kawasan hutan. Menurut dia, media memiliki ruang untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap perubahan lingkungan dan tutupan lahan. “Kami berharap IWO ini tetap berkontribusi terhadap masyarakat berkaitan dengan hutan. Tolong dijaga,” katanya.

L. Sahat Tinambunan mengatakan penanaman pohon menjadi bentuk kepedulian yang dilakukan jurnalis secara langsung. Menurut dia, persoalan lingkungan tidak cukup hanya diberitakan. Jurnalis juga dapat memberikan contoh melalui tindakan nyata.

“Jurnalis itu memang kita memberikan contoh nyata kepada masyarakat untuk menanam pohon. Jadi, kita tidak hanya sekadar memberitakan, tetapi hari ini kita melakukan action nyata,” ujar Sahat.

Ia mengatakan kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. “Kita menggerakkan masyarakat, memberi contoh, memberi teladan untuk menanam pohon. KPH dalam hal ini sangat membantu, kemudian dari pihak perusahaan juga mendukung kegiatan ini. Intinya rekan-rekan jurnalis juga terlibat semua,” katanya.

Sebagian bibit yang tidak ditanam di kawasan wisata diserahkan kepada pemerintah desa agar manfaat kegiatan tersebut tidak hanya dirasakan di sekitar Riam Angan. Langkah itu sekaligus membuka peluang agar penghijauan menjadi gerakan yang lebih luas, karena warga ikut menerima dan merawat bibit di lingkungan mereka.

IWO Landak menanam 250 bibit pohon di Riam Angan. Gerakan ini melibatkan pemerintah, mahasiswa, komunitas, dunia usaha dan masyarakat. Foto: Hendri Marcelleno

Kepala Desa Angan Tembawang Stepanus mengatakan penghijauan memiliki kaitan langsung dengan keberlangsungan sumber air masyarakat. Ia mengatakan kondisi sumber air di wilayah tersebut relatif terjaga karena masyarakat masih mempertahankan kawasan hutan.

“Sumber air di sini cukup terjaga. Salah satunya karena masyarakat masih menjaga alam dan tidak menebang sembarangan,” kata Stepanus.

Pemerintah desa, menurut dia, terus mengingatkan warga agar tidak membiarkan kawasan hutan mengalami kerusakan. “Kami juga berupaya jangan sampai hutan kita gundul. Jangan sampai hutan kita tidak dijaga sehingga mempengaruhi debit air,” ujarnya.

Ia menjelaskan sumber air di Desa Angan Tembawang memiliki manfaat yang lebih luas. Aliran air dari wilayah tersebut juga mengarah ke Kecamatan Jelimpo dan menjadi salah satu sumber bagi pelayanan PDAM di kecamatan tersebut. “Debit air di Desa Angan Tembawang ini langsung mengalir ke Kecamatan Jelimpo dan juga menjadi sumber PDAM di Kecamatan Jelimpo,” katanya.

Karena itu, Stepanus menyambut baik penanaman pohon yang dilakukan IWO Landak. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan melibatkan masyarakat secara langsung. Pengelola wisata melalui Pokdarwis Riam Angan Tembawang, Wisnu, melihat penghijauan sebagai bagian dari upaya menjaga masa depan kawasan wisata tersebut.

Menurut dia, pohon dan lingkungan yang terawat akan membuat Riam Angan tetap hijau dan sejuk sekaligus mempertahankan daya tarik alamnya. “Dengan adanya kegiatan penanaman pohon ini, ini sangat baik bagi tempat wisata kami,” ujar Wisnu.

Bagi pengelola, pengembangan wisata tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan. Pertumbuhan kunjungan wisatawan harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap kawasan alam yang menjadi daya tarik utama Riam Angan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama. Peserta disuguhi masakan khas Dayak yang diolah menggunakan bambu. Momen tersebut menjadi penutup yang mempertemukan dua pesan kegiatan IWO Landak: menjaga lingkungan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal.

Di Riam Angan, para jurnalis hari itu tidak hanya membawa pulang catatan untuk berita. Mereka meninggalkan bibit-bibit pohon yang membutuhkan waktu dan perawatan sebelum kelak menjadi peneduh. Pesannya sederhana: kepedulian lingkungan tidak berhenti pada apa yang ditulis. Ia juga bisa dimulai dari pohon yang ditanam dan dirawat bersama. (dRi)

Exit mobile version