KalbarOke.com – Jejak komunitas Tionghoa telah mengakar kuat dalam sejarah kota-kota di Indonesia. Kehadirannya tak hanya membentuk lanskap budaya, tetapi juga menggerakkan roda perdagangan, kuliner, hingga pariwisata. Kawasan Pecinan, yang tumbuh sejak era kolonial, kini menjelma ruang hidup tempat sejarah dan aktivitas modern saling berkelindan.
Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, kawasan-kawasan Pecinan kembali menjadi pusat perhatian. Lampion merah menghiasi jalan, aroma dupa menyebar dari klenteng-klenteng tua, dan tradisi turun-temurun dihidupkan kembali. Dari barat hingga timur Nusantara, berikut sejumlah Pecinan ikonik yang menyimpan kisah panjang dan karakter khas.
Glodok, Jakarta
Di tengah padatnya Jakarta Barat, Glodok berdiri sebagai Pecinan tertua di Indonesia. Kawasan ini lahir dari sejarah kelam Geger Pecinan 1740, ketika warga Tionghoa dipaksa menetap di luar tembok Batavia. Hingga kini, Glodok tetap hidup dengan denyut tradisi dan ekonomi. Gang-gang sempit, klenteng berusia ratusan tahun, serta toko-toko legendaris menjadikan kawasan ini saksi bisu perjalanan panjang komunitas Tionghoa di ibu kota.
Kya Kya Kembang Jepun, Surabaya
Kya Kya atau Kembang Jepun telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan Surabaya. Sejak era kolonial dengan nama Handelstraat, kawasan ini terus berkembang hingga masa pendudukan Jepang. Bangunan cagar budaya seperti Rumah Abu Keluarga Han dan Klenteng Hok An King memperkuat identitas sejarahnya. Di malam hari, kawasan ini kerap dipenuhi pertunjukan budaya dan kuliner khas Pecinan yang berpadu dengan cita rasa Surabaya.
Pecinan Kapasan Dalam, Surabaya
Tak jauh dari Kya Kya, Kapasan Dalam menghadirkan suasana Chinatown yang lebih intim. Kampung heritage ini diresmikan pada 2020 dan berada di sekitar Klenteng Boen Bio. Lampion merah, mural Dinasti Qing, serta ornamen naga menjadi penanda visual kawasan ini. Tradisi sedekah bumi yang melibatkan berbagai etnis mencerminkan kuatnya harmoni budaya di tengah keberagaman.
Sudiroprajan atau Kampung Balong, Solo
Pecinan Solo berpusat di Kampung Balong, Sudiroprajan, yang telah dihuni komunitas Tionghoa sejak abad ke-18. Kawasan ini tumbuh sebagai pusat perdagangan dan permukiman. Arsitektur rumah bergaya Tionghoa dan deretan toko lama masih bertahan, menjadikan Sudiroprajan bagian penting dari denyut ekonomi dan warisan budaya Kota Solo.
Pecinan Kauman, Semarang
Di Semarang, kawasan Pecinan Kauman terletak tak jauh dari Kota Lama. Sejarahnya berkaitan dengan relokasi warga Tionghoa pasca peristiwa 1740. Gang-gang seperti Waru, Sebandaran, dan Pinggir berkembang sebagai pusat perdagangan dan budaya, dengan tata ruang yang diyakini mengikuti prinsip feng shui. Kawasan ini kini dikenal sebagai destinasi wisata religi, budaya, dan kuliner.
Bukit Nagoya, Batam
Meski bernama Nagoya, kawasan ini justru dikenal sebagai Chinatown Batam. Berada di wilayah Sungai Jodoh, Bukit Nagoya tumbuh sebagai pusat hiburan dan pertokoan. Aktivitas keagamaan komunitas Tionghoa masih terjaga di sejumlah vihara dan klenteng. Kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah jalur penyeberangan tradisional Batam–Singapura.
Singkawang, Kalimantan Barat
Singkawang kerap dijuluki “Kota Seribu Klenteng” karena kuatnya pengaruh budaya Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari warganya. Puncaknya terlihat saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Pawai tatung, pertunjukan seni, dan dekorasi kota menjadikan Singkawang salah satu destinasi Pecinan paling unik dan hidup di Indonesia.
Asia Mega Mas, Medan
Berbeda dari Pecinan lama, Asia Mega Mas di Medan mencerminkan wajah komunitas Tionghoa modern. Kawasan ini dikenal sebagai pusat kuliner yang ramai terutama pada sore dan malam hari. Ragam makanan khas Pecinan menjadikannya magnet wisata rasa sekaligus ruang perjumpaan lintas budaya.
Pecinan di Indonesia bukan sekadar kawasan etnis. Ia adalah ruang sejarah, tempat akulturasi budaya berlangsung, dan arena dinamika ekonomi dari masa ke masa. Menjelajahi Pecinan serupa membaca lembaran perjalanan bangsa—penuh warna, konflik, harmoni, dan ketahanan identitas. (*/)






