Indeks

Alarm Iklim dan Ancaman Sunyi Nematoda, Karantina Kalbar Petakan Hama di 14 Kabupaten/Kota

Karantina Kalbar gelar seminar pemantauan OPTK. Temukan ancaman nematoda di tengah kemarau panjang 2026, pakar ingatkan bahaya hama sunyi di Bumi Khatulistiwa. Foto: dok Karantina Kalbar

KalbarOke.com – Ancaman terhadap kedaulatan pangan di Kalimantan Barat kini datang secara senyap. Di tengah terjangan anomali cuaca dan kemarau panjang, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat menggebrak lewat seminar lokal pemantauan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di Kantor BKHIT Kalbar, Senin (28/9/2026).

Agenda strategis ini mengumpulkan para pakar, praktisi, hingga pemangku kebijakan guna membedah kerentanan sektor pertanian di 14 kabupaten/kota. Kepala Karantina Kalbar, Ferdi, menegaskan bahwa pemantauan ini krusial untuk memvalidasi sebaran status hama terkini, sekaligus merumuskan regulasi pusat berbasis data lapangan yang akurat.

“Penemuan OPTK di lapangan bermata dua. Di satu sisi membuktikan efektivitas sistem surveilans, namun di sisi lain menjadi alarm peringatan atas potensi lolosnya hama ke wilayah Kalbar,” ujar Ferdi.

Dinamika ekosistem pertanian Kalbar kian pelik tatkala dihantam krisis iklim. Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Suyatno, memaparkan bahwa anomali El Nino memicu penurunan drastis curah hujan sepanjang tahun 2026.

Sifat musim kemarau tahun ini diprediksi berada di bawah normal dengan durasi yang lebih panjang tiga dasarian dibanding kondisi lazimnya. Situasi ini tidak hanya memicu kekeringan dan krisis air bersih, tetapi juga menciptakan lanskap rentan yang memicu ledakan populasi hama. Merujuk pada UU No. 22 Tahun 2019, Suyatno mendorong penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) agar petani mandiri mengawal kesehatan lahannya.

Hasil konkret operasi surveilans yang melibatkan 42 personel sepanjang Juni hingga September 2026 di 14 kabupaten/kota cukup mencengangkan. Tim menemukan keberadaan sejumlah OPTK golongan nematoda pada komoditas padi dan daun bawang.

Menanggapi temuan tersebut, Guru Besar Entomologi Universitas Tanjungpura (Untan), Edy Syahputra, memperingatkan bahaya laten Nematoda Parasit Tumbuhan (NPT). Hama mikroskopis ini menyerang secara sembunyi-sembunyi—merusak struktur sel dan mengoyak fisiologi tanaman menggunakan stilet tanpa disadari petani.

Lebih lanjut, Edy menyebut kondisi suhu dan kelembapan di Kalimantan Barat saat ini sangat ideal bagi ekologi nematoda untuk berkembang biak. “Karena hama ini sudah ditemukan di Kalbar, berarti mereka mampu hidup di sini. Sekarang tinggal menunggu waktu saja bagi mereka untuk berkembang biak lebih banyak jika kondisi lingkungan mendukung,” pungkas Edy. (*/)

Exit mobile version