KalbarOke.Com – Setelah upaya pencarian intensif selama tiga hari, tim gabungan akhirnya menemukan jasad Syaparden (44), warga Desa Semadin Lengkong, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Korban ditemukan pada Senin malam (5/1/2026) sekitar pukul 22.15 WIB dalam kondisi meninggal dunia.
Jasad korban ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari lokasi awal kejadian tenggelam. Operasi ini melibatkan kekuatan penuh dari BPBD Melawi, Polres Melawi, Basarnas Sintang, SAR Brimob, TNI, hingga masyarakat setempat yang bahu-membahu menyisir aliran Sungai Melawi sejak Sabtu (3/1/2026).
“Kami berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di sungai,” ujar Kapolres Melawi, AKBP Harris Batara Simbolon, Selasa (6/1/2026).
Syaparden sebelumnya diketahui pergi memancing seorang diri menggunakan sampan kayu miliknya. Naas, arus sungai dan kondisi alam membuat sosok ayah yang dikenal pekerja keras ini mengalami kecelakaan hingga dinyatakan hilang selama beberapa hari.
Kepala BPBD Melawi, Daniel, yang mengunjungi rumah duka di Desa Semadin Lengkong pada Rabu (7/1/2026), membagikan sebuah cerita yang menyayat hati mengenai sosok almarhum. Di dinding rumah sederhana tersebut, terpajang dua foto yang menceritakan perjuangan hidup Syaparden selama 14 tahun terakhir.
Foto pertama memperlihatkan putra semata wayangnya, Khairul Adib, saat berusia 6 tahun mengenakan seragam polisi cilik. Foto di sebelahnya adalah Khairul 14 tahun kemudian—seorang polisi muda lulusan SPN Polda Kalbar Tahun 2024.
“Bagi almarhum, Khairul bukan sekadar anak, melainkan cita-cita yang ia hidupi setiap hari. Selama 14 tahun, almarhum bertarung dengan arus Sungai Melawi demi memastikan seragam di foto kecil itu menjadi nyata,” tulis Daniel melalui akun media sosialnya.
Bagi warga sekitar, Syaparden adalah simbol kegigihan seorang ayah yang menggantungkan hidupnya di atas sampan demi pendidikan sang anak. Namun, takdir menuliskan akhir yang memilukan tepat saat sang anak mulai memetik keberhasilan dari keringat ayahnya.
Kesedihan semakin mendalam saat diketahui bahwa tepat sebelum musibah terjadi, Khairul Adib baru saja menerima surat kepindahan tugas ke Kabupaten Melawi. Kabar gembira ini adalah momen yang paling dinantikan oleh Syaparden agar mereka bisa kembali berkumpul dan tinggal bersama di kampung halaman.
Namun, kepulangan Khairul ke Melawi tidak disambut oleh pelukan hangat sang ayah, melainkan oleh kenyataan pahit bahwa ia harus mengantarkan sang ayah ke tempat peristirahatan terakhir. Daniel menyebut momen ini sebagai “bakti yang terjeda di tepi sungai”.
“Tugas Bapak Syaparden sebagai orang tua telah tuntas. Beliau pergi di saat sang putra sudah ‘menjadi orang’. Kesuksesan sang anak adalah monumen abadi bagi perjuangan sang ayah di atas sampannya,” ungkap Daniel.
Kepala BPBD Melawi memberikan atensi khusus kepada Khairul Adib agar tetap tegak menjalankan tugas sebagai abdi negara, karena seragam yang ia kenakan hari ini adalah kebanggaan terakhir dan terindah bagi mendiang ayahnya. Peristiwa ini meninggalkan kesan mendalam bagi tim gabungan dan warga Melawi tentang besarnya pengorbanan seorang ayah.
Ringkasan Berita
• Syaparden (44) ditemukan meninggal dunia di Sungai Melawi pada Senin (5/1/2026) setelah hilang selama tiga hari saat memancing.
• Almarhum merupakan sosok ayah yang gigih bekerja sebagai nelayan/pemancing demi menyekolahkan anak semata wayangnya, Khairul Adib.
• Khairul Adib adalah lulusan SPN Polda Kalbar 2024 yang baru saja menerima surat tugas pindah ke Kabupaten Melawi.
• Kepala BPBD Melawi, Daniel, mengisahkan perjuangan 14 tahun almarhum yang bercita-cita menjadikan anaknya seorang polisi sejak usia dini.
• Jenazah ditemukan 1,5 km dari titik awal dan kini telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.






