KalbarOke.Com – Sebanyak 1.504 calon jemaah haji asal Kota Pontianak kini mulai menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan intensif sebagai syarat mutlak keberangkatan ke Tanah Suci tahun ini. Pemeriksaan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat puskesmas hingga pemeriksaan menyeluruh atau Medical Check Up (MCU) di rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan ini akan menentukan status istitha’ah (kemampuan) kesehatan jemaah. Status tersebut nantinya diinput ke dalam Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan yang terintegrasi dengan sistem perbankan.
“Pelunasan biaya haji hanya dapat dilakukan apabila calon jemaah telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan di sistem tersebut,” ujar Saptiko saat meninjau proses pemeriksaan di Asrama Haji Pontianak, Kamis (15/1/2026).
Bagi jemaah yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan namun masih bisa diobati, dinas kesehatan akan memberikan rujukan ke dokter spesialis. Setelah kondisi membaik, jemaah diizinkan menjalani pemeriksaan ulang demi mendapatkan penetapan status istitha’ah.
Pemeriksaan kesehatan haji pada tahun 2026 ini tercatat mengalami peningkatan standar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain fokus pada penyakit degeneratif atau fisik, petugas medis kini memberikan perhatian lebih pada fungsi kognitif, daya ingat, serta kesehatan jiwa para jemaah.
Langkah ini diambil guna memastikan setiap jemaah memiliki tingkat kemandirian yang cukup selama menjalankan ibadah yang berat di Arab Saudi. Hal ini menjadi mendasar mengingat tantangan cuaca dan kepadatan aktivitas yang menuntut kondisi mental serta daya ingat yang stabil.
“Jemaah haji diharapkan benar-benar mampu mengurus dirinya sendiri selama menjalankan ibadah. Gangguan yang mempengaruhi kognitif dan kesehatan jiwa menjadi perhatian serius kami,” tegas Saptiko.
Peningkatan jumlah jemaah haji Kota Pontianak yang mencapai hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu—sebagai hasil kebijakan pemangkasan masa tunggu—membuat Dinkes harus bekerja ekstra dalam memastikan seluruh profil kesehatan jemaah terpetakan dengan akurat.
Sebagai pelengkap pemeriksaan medis, Dinas Kesehatan juga menyelenggarakan tes kebugaran jasmani yang dijadwalkan berlangsung dari 14 hingga 27 Januari 2026. Tes ini dirancang untuk mengukur daya tahan fisik jemaah agar siap menghadapi rangkaian ibadah yang didominasi oleh aktivitas berjalan kaki.
Saptiko menitipkan pesan agar jemaah memanfaatkan waktu jeda sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan untuk memperbaiki kebugaran mereka secara mandiri melalui olahraga rutin dan pola makan sehat.
“Melalui tes kebugaran ini, jemaah diharapkan dapat mengetahui kondisi fisiknya sendiri. Masih ada waktu untuk meningkatkan kebugaran sebelum hari keberangkatan,” ungkapnya.
Selain itu, imbauan khusus diberikan bagi jemaah perempuan usia subur agar menjaga diri agar tidak hamil menjelang keberangkatan, sebab kondisi kehamilan dapat menjadi faktor utama penundaan keberangkatan jemaah demi keselamatan ibu dan janin. Dengan persiapan yang matang sejak dini, diharapkan jemaah haji asal Pontianak dapat menjalankan ibadah dengan lancar, sehat, dan kembali ke tanah air dengan selamat.
Ringkasan Berita
• Sebanyak 1.504 calon jemaah haji Pontianak mengikuti pemeriksaan kesehatan tingkat pertama dan MCU di rumah sakit.
• Penetapan status istitha’ah kesehatan menjadi syarat mutlak bagi jemaah untuk dapat melunasi biaya haji di bank.
• Standar pemeriksaan tahun ini lebih ketat, mencakup penilaian fungsi kognitif, daya ingat, dan kesehatan jiwa.
• Tes kebugaran jasmani dilaksanakan selama delapan hari (14–27 Januari 2026) untuk memastikan kesiapan fisik jemaah.
• Jumlah jemaah haji Pontianak tahun 2026 melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.






