Perang Iran-Israel Picu Gangguan Pasokan Nafta, Harga Plastik di RI Tertekan

Perang Iran, Israel, dan AS mengganggu impor nafta ke Indonesia. Pemerintah mencari sumber alternatif untuk menekan kenaikan harga plastik. Foto: tangkapan layar YouTube PonTV

KalbarOke.com – Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai berdampak pada industri dalam negeri, khususnya pasokan bahan baku plastik di Indonesia.

Gangguan terjadi pada impor nafta, yaitu senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi yang menjadi bahan utama produksi plastik, resin, karet, hingga pelarut. Selama ini, Indonesia mengandalkan pasokan nafta dari sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Konflik yang memanas di kawasan tersebut menyebabkan terganggunya distribusi, sehingga memicu kenaikan harga bahan baku plastik di dalam negeri.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah bergerak cepat untuk mengantisipasi kondisi tersebut dengan mencari sumber pasokan alternatif.

Baca :  Bahlil Tata RKAB Batubara, Pasokan untuk PLN Dipastikan Aman hingga April

Menurut dia, pendekatan telah dilakukan ke sejumlah negara di luar kawasan konflik, termasuk India serta beberapa negara di Afrika dan Amerika. “Pemerintah sedang mencari sumber alternatif untuk memastikan kebutuhan bahan baku plastik tetap terpenuhi,” kata Budi.

Selain gangguan pasokan, situasi global juga diperparah oleh kebijakan sejumlah negara yang mulai membatasi bahkan melarang ekspor bahan baku plastik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan industri dalam negeri masing-masing di tengah ketidakpastian akibat konflik geopolitik.

Baca :  Prabowo Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif di Tengah Konflik Global

Kondisi ini menambah tekanan terhadap rantai pasok global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan baku tersebut.

Pemerintah kini berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri, sekaligus memastikan industri plastik tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor, mulai dari kemasan hingga manufaktur.

Langkah diversifikasi sumber impor diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek untuk meredam dampak konflik global terhadap industri nasional. (*/)