Dari Etalase ke Pasar Global: Cara Pertamina Mendorong UMKM Naik Kelas lewat SMEXPO

Pertamina SMEXPO menjadi strategi pendampingan UMKM agar naik kelas. Dari pameran, pelatihan, hingga pembiayaan, program ini mendorong pelaku usaha lokal menembus pasar nasional dan global. Foto: Pertamina

KalbarOke.com – Jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia terus membengkak. Data Kementerian UMKM mencatat setidaknya 30,19 juta pelaku usaha beroperasi dengan ragam produk dan keunggulan masing-masing. Di tengah persaingan yang kian ketat, satu pertanyaan mengemuka: bagaimana UMKM bisa naik kelas dan memperluas pasar?

PT Pertamina (Persero) memilih jalur pendampingan terintegrasi. Melalui Pertamina SMEXPO (Small Medium Enterprise Expo), perusahaan energi pelat merah itu menyediakan ruang promosi sekaligus ekosistem pengembangan UMKM—baik melalui pameran luring di berbagai kota maupun marketplace digital smexpo.pertamina.com.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut pengembangan UMKM sebagai salah satu pilar utama tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. “Pertamina SMEXPO terus dikembangkan menjadi platform inovatif untuk kemajuan UMKM lokal, melalui kolaborasi strategis antarpelaku usaha serta sarana bertemunya UMKM dengan calon pembeli,” kata Baron.

SMEXPO bukan sekadar etalase produk. Program ini menjadi puncak dari rangkaian pembinaan yang lebih panjang. Sebelum tampil di pameran, UMKM binaan mengikuti UMK Academy, program pendampingan yang mencakup peningkatan kualitas produk, hibah alat tepat guna, hingga sertifikasi profesional. Targetnya jelas: mengubah usaha lokal menjadi pelaku bisnis yang siap bersaing di tingkat nasional dan internasional.

Baca :  Libur Nataru Dongkrak Ekonomi Kreatif, Sumbang Rp 24,46 Triliun ke PDB Nasional

Hasilnya mulai terlihat. Cimeler (Cilok Meler) milik Astuti, misalnya, konsisten mencatatkan penjualan tertinggi di ajang SMEXPO. Produk ini kini tengah menjalani proses standarisasi BPOM sebagai langkah awal menembus pasar ekspor. Bagi Astuti, pendampingan tidak berhenti pada promosi, tetapi juga menyentuh aspek permodalan.

Ia mengaku memperoleh akses Pinjaman Modal Kerja melalui skema Dana PUMK Pertamina yang disalurkan bekerja sama dengan BRI. “Bunganya lebih murah dibandingkan KUR perbankan biasa,” ujar Astuti.

Kisah serupa datang dari Hendra Agustira, pemilik Ocien Snack. Setelah mengikuti Pertamina SMEXPO, usahanya mencatatkan kenaikan penjualan 25–30 persen. Produk camilannya kini mulai merambah pasar Eropa, setelah sebelumnya menembus Jepang dan Australia. “Kami mendapatkan lebih banyak reseller yang kontinu memesan sampai sekarang,” kata Hendra.

Baca :  Kementan Mulai Rehabilitasi Sawah Pascabencana, Amran: Ini Tanggung Jawab Negara

Di sektor olahan pangan, Ngudiono, pemilik NanasQu, juga merasakan dampak langsung. Penjualan produknya meningkat sekitar 20 persen berkat jejaring bisnis yang terbentuk selama SMEXPO. Dengan dukungan pemasaran digital dan promosi terintegrasi dari Pertamina, produk olahan nanas asal Jawa Tengah itu kini telah masuk pasar Dubai dan Belanda.

Tak hanya penjualan, eksposur digital turut terdongkrak. Jumlah pengikut media sosial NanasQu meningkat, seiring naiknya rating penjualan di platform daring. “Kami selalu didorong untuk Go Global, Go Export, dan Go Online,” ujar Ngudiono.

Rangkaian kisah sukses UMKM binaan ini mempertegas arah strategi Pertamina: pembinaan yang komprehensif, dari hulu ke hilir. Program ini juga sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah, terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan kewirausahaan berbasis lokal. (*/)