KalbarOke.com — Tugas seorang pengayom masyarakat di garis depan tak jarang menuntut taruhan fisik yang tidak sedikit. Di tengah kepulan asap pekat sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta ritme piket yang menguras tenaga, kesehatan fisik personel kepolisian menjadi benteng pertahanan terakhir yang harus dijaga ketat.
Menyadari kerentanan tersebut, jajaran Polres Kubu Raya mengambil langkah proaktif. Bertempat di Aula Mapolres Kubu Raya, Rabu (7/10/2026) pagi, sebanyak 60 personel dikumpulkan dalam sebuah sesi penyuluhan kesehatan khusus yang dipimpin langsung oleh Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia, didampingi Wakapolres Kompol Andri Syahroni dan Kasidokkes Aiptu Hadi Sugiono.
Menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya, dr. Anisa Nabila Hanifah, forum ini mengupas dua isu krusial yang kerap luput dari perhatian: ancaman obesitas di balik padatnya rutinitas serta protokol perlindungan diri menghadapi terjangan asap Karhutla.
Kapolres Kubu Raya melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade menegaskan bahwa kebugaran jasmani merupakan nyawa dari kesiapan operasional kepolisian di lapangan.
“Dalam beberapa bulan terakhir kita melaksanakan berbagai upaya penanggulangan Karhutla yang tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga menimbulkan risiko terhadap kesehatan, khususnya akibat paparan asap, suhu panas, dan aktivitas fisik selama pelaksanaan tugas,” ungkap Ade.
Dalam sesinya, dr. Anisa membedah persoalan berat badan berlebih yang kerap dianggap sepele. Obesitas bukan sekadar perkara estetika tubuh, melainkan pemicu tersembunyi bagi komplikasi metabolik, kardiovaskular, pernapasan, hingga gangguan muskuloskeletal yang fatal bagi mobilitas seorang aparat.
Para personel diajak mengenali parameter awal tubuh melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Gaya hidup harian—mulai dari konsumsi kalori berlebih, kegemaran menenggak minuman manis, minimnya aktivitas fisik, hingga buruknya kualitas tidur akibat jam kerja tidak teratur—diidentifikasi sebagai musuh dalam selimut.
Sebagai solusi, personel didorong menerapkan pola makan seimbang berbasis protein dan serat, memperbanyak asupan air putih, serta mengerem konsumsi makanan cepat saji dan gorengan, utamanya saat menjalani jadwal piket yang padat.
Selain ancaman internal berupa berat badan, tantangan eksternal berupa polusi asap Karhutla menjadi materi yang tidak kalah mendesak. Asap pembakaran diketahui membawa partikel halus mematikan seperti PM2.5, karbon monoksida, senyawa organik volatil, hingga abu yang siap menggerus sistem pernapasan dan kardiovaskular dalam hitungan jam.
Oleh karena itu, protokol pengamanan lapangan diperketat. Personel yang terjun ke titik rawan diwajibkan memantau kualitas udara, memastikan penggunaan respirator standar seperti N95 atau FFP2 terpasang rapat, serta menerapkan sistem rotasi tugas untuk membatasi durasi paparan.
Tidak hanya itu, jajaran kepolisian juga dibekali kepekaan mengenali tanda-tanda darurat medis—mulai dari sesak napas berat, nyeri dada, hingga pusing hebat—yang menuntut evakuasi medis segera. Pascatugas, prosedur pembersihan diri seperti mencuci muka, hidung, hingga mengganti pakaian yang terpapar asap menjadi ritual wajib sebelum beristirahat.
Melalui langkah preventif ini, Polres Kubu Raya berharap seluruh jajaran, baik anggota Polri maupun PNS Polri, mampu merawat kedisiplinan hidup sehat. Sebab, di balik seragam cokelat yang gagah, tubuh yang bugar dan terlindungi adalah kunci utama agar roda pengabdian kepada masyarakat terus berputar tanpa kompromi. (J-Mus)
