Melihat Banjir dari Lensa Warga: Photovoice Terjemahkan Data Ilmiah Jadi Cerita Manusia

Program Photovoice memberi ruang bagi warga menyampaikan pengalamannya selama dilanda banjir melalui foto dan narasi. | Melihat Banjir dari Lensa Warga: Photovoice Terjemahkan Data Ilmiah Jadi Cerita Manusia. (Foto: IST.)

KalbarOke.Com – Persoalan banjir rob di Kota Pontianak kini tidak hanya dibahas di ruang rapat pemerintahan atau melalui peta satelit. Melalui program Photovoice yang digagas Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kamis (15/1/2026), realitas banjir direkam langsung oleh mereka yang terdampak.

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, menjelaskan bahwa metode ini menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek penelitian. Warga diberikan ruang untuk memotret dan menceritakan pengalaman hidup mereka menghadapi luapan air dengan bahasa mereka sendiri.

“Persoalan banjir tidak hanya dilihat dari data dan angka, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari warga yang kerap terabaikan dalam proses perumusan kebijakan. Di dalam foto-foto ini ada cerita, ingatan, dan pengalaman hidup,” ujar Andi Fahrizal.

Program yang merupakan mandat dari FinCAPES ini telah berjalan sejak Oktober 2025 dengan melibatkan 30 fotografer warga dari 21 kelurahan yang masuk dalam zona rawan banjir. Pendekatan ini dianggap penting untuk memberikan dimensi manusiawi pada data ilmiah yang sering kali terasa kaku dan teknis.

Keterlibatan akademisi internasional, seperti Prof. Stefan Steiner dari Universitas Waterloo Kanada, memberikan bobot lebih pada program ini. Ia menegaskan bahwa model ilmiah belum menceritakan keseluruhan realitas jika tidak menyentuh kecemasan yang muncul setiap kali hujan turun atau saat permukaan air laut merangkak naik.

Baca :  Gandeng Kampus Kanada, Pemkot Pontianak Hitung Kerugian Finansial Banjir Rob Lewat Ilmu Aktuaria

“Model dan peta ilmiah memang penting, tetapi itu belum menceritakan keseluruhan realitas. Foto dan cerita warga ini menerjemahkan temuan ilmiah yang kompleks ke dalam pengalaman manusia,” kata Prof. Steiner.

Hasil potret warga mengungkap berbagai sisi, mulai dari praktik kesiapsiagaan mandiri, bentuk adaptasi rumah tinggal, hingga dampak banjir yang tidak merata terhadap kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan pekerja sektor informal.

Foto-foto ini berfungsi sebagai dokumen sosial yang kuat, membuat risiko banjir menjadi lebih terlihat dan tidak bisa lagi dianggap sebagai “kejadian rutin biasa”. Dengan cara ini, risiko finansial dan sosial dapat dipahami secara lebih utuh oleh para pengambil kebijakan.

Pemerintah Kota Pontianak menyambut baik inisiatif ini sebagai masukan berharga bagi perencanaan wilayah. Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, menegaskan bahwa isu banjir telah masuk dalam isu strategis jangka pendek hingga panjang dalam dokumen pembangunan kota.

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat memaknai banjir—apakah sebagai bencana, genangan biasa, atau sesuatu yang dianggap wajar. Semua pandangan itu mendasar untuk didengar,” tutur Sidig Handanu usai membuka acara.

Baca :  No Party! Larangan Kembang Api dan Musik Malam Tahun Baru di Pontianak Diawasi TNI-Polri

Pemkot mengakui bahwa tantangan banjir di Pontianak kian berat akibat perubahan tata guna lahan di wilayah hulu dan laju urbanisasi yang mengurangi ruang resapan air. Oleh karena itu, kolaborasi lintas daerah dan penguatan sistem peringatan dini menjadi kebutuhan yang mendesak.

Hasil dari Photovoice ini diharapkan menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan yang lebih humanis, sesuai dengan visi Pontianak Maju yang Berwawasan Lingkungan. Dialog yang dipicu oleh pameran foto ini menjadi titik awal bagi sinergi antara sains, perspektif masyarakat, dan kebijakan publik menuju Kota Pontianak yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.


Ringkasan Berita

• Yayasan Kolase menggelar diseminasi program Photovoice Banjir Pontianak di Kelurahan Bansir Laut pada Kamis (15/1/2026).

• Sebanyak 30 warga dari 21 kelurahan terlibat sebagai fotografer untuk mendokumentasikan realitas banjir rob dari perspektif pribadi.

• Program ini didukung oleh FinCAPES dan Universitas Waterloo untuk melengkapi data ilmiah dengan pengalaman hidup masyarakat.

• Pemerintah Kota Pontianak (Bapperida) berkomitmen menggunakan perspektif warga dalam Photovoice sebagai bahan pertimbangan kebijakan strategis kota.

• Pameran foto berfungsi sebagai ruang dialog publik untuk mencari solusi adaptasi banjir yang lebih inklusif dan berkelanjutan.