RDMP Kilang Balikpapan: Ekosistem Energi Terintegrasi Penopang Swasembada Nasional

Proyek RDMP Kilang Balikpapan menjadi tulang punggung swasembada energi nasional. Infrastruktur terintegrasi dari pipa gas hingga pengolahan BBM Euro V menekan impor dan memperkuat kedaulatan energi. Foto: Pertamina

KalbarOke.com – Cahaya terang Kilang Balikpapan memantul di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilau itu bukan sekadar penanda aktivitas industri, melainkan simbol transformasi infrastruktur energi nasional. Kilang Balikpapan—yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN)—menjadi pusat ekosistem energi terintegrasi yang dirancang untuk menopang swasembada energi Indonesia.

Melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bersama anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), tidak hanya meningkatkan kapasitas kilang. Mereka membangun sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir, memastikan pasokan energi berjalan efisien dan berkelanjutan.

Untuk mengolah minyak mentah dalam skala besar, kilang membutuhkan pasokan energi panas yang stabil. Di sinilah peran Pipa Gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer. Dengan kapasitas alir mencapai 125 MMSCFD, pipa ini menjadi penopang utama operasional kilang, menjaga proses pengolahan berjalan tanpa henti.

Sementara itu, pasokan bahan baku datang dari laut. Di perairan Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara, Pertamina membangun Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT yang mampu melayani kapal pengangkut minyak mentah raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC). Infrastruktur ini memungkinkan penerimaan minyak mentah dalam jumlah besar secara efisien.

Baca :  Pontianak-Kuala Lumpur Makin Dekat: Batik Air Buka Rute Penerbangan Internasional Mulai Januari 2026

Tak hanya itu, dua tangki penyimpanan raksasa berkapasitas masing-masing 1 juta barel juga dibangun di Lawe-Lawe. Kehadiran fasilitas ini menambah total kapasitas penyimpanan menjadi 7,6 juta barel, memperkuat ketahanan stok minyak mentah nasional. Tangki dan SPM tersebut terhubung ke kilang melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 20 kilometer, yang membentang di darat dan bawah laut.

Di jantung kilang, proses pengolahan berlangsung melalui fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Kapasitas CDU kini meningkat menjadi 360 ribu barel per hari, dari sebelumnya 260 ribu barel. Adapun RFCC berperan mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi, meningkatkan efisiensi sekaligus nilai tambah hasil kilang.

Hasilnya adalah berbagai produk energi berstandar tinggi, mulai dari BBM gasoline, diesel, dan avtur berstandar Euro V yang lebih ramah lingkungan, hingga LPG dan produk petrokimia turunan seperti propilena dan sulfur. Produk-produk tersebut kemudian disalurkan melalui Terminal BBM Tanjung Batu yang memiliki kapasitas penyimpanan 125 ribu kiloliter.

Baca :  Naik Rp180 Ribu! UMK Pontianak 2026 Resmi Ditetapkan Rp3.205.220 Melalui Kesepakatan Dewan Pengupahan

Seluruh infrastruktur ini membentuk satu sistem yang saling bergantung. Tanpa pipa gas, kilang kehilangan efisiensi. Tanpa fasilitas tambat Lawe-Lawe, pasokan bahan baku skala besar terhambat. Tanpa tangki penyimpanan, ketahanan stok menjadi rapuh. Integrasi inilah yang memungkinkan pengurangan impor BBM sekaligus penghematan devisa negara.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut RDMP Balikpapan lebih dari sekadar proyek pembangunan kilang. “Ini bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi tentang membangun kedaulatan. Dengan sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir, energi yang dikonsumsi masyarakat berasal dari kerja keras bangsa sendiri,” kata Baron.

Dengan RDMP Balikpapan, pemerintah dan Pertamina menegaskan arah pembangunan energi nasional: memperkuat ketahanan, menekan ketergantungan impor, dan memastikan ketersediaan energi bagi masa depan Indonesia. (*/)