Dari Limbah ke Nilai Tambah: Mengenal Teknologi Pengolah Sampah Penopang Pariwisata Bahari

Valerine Chandrakesuma, CEO Wedoo menunjukkan mesin pengolahan limbah menjadi produk alternatif yang bernilai tambah pada acara Bali Ocean Days di Jimbaran Convention Center. Foto: Kemenpar RI

KalbarOke.com – Sampah menjadi paradoks dalam pariwisata bahari. Di satu sisi, laut dan pesisir menjanjikan keindahan yang memikat wisatawan dunia. Di sisi lain, limbah—terutama plastik—terus menekan ekosistem yang menjadi fondasi ekonomi pariwisata. Dalam situasi ini, teknologi mesin pengolahan limbah mulai memainkan peran kunci sebagai jembatan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Berbagai studi lembaga internasional, termasuk Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), menekankan bahwa pengelolaan sampah yang efektif merupakan prasyarat utama bagi ekonomi pesisir yang berkelanjutan. Limbah yang tidak terkelola tidak hanya mencemari laut, tetapi juga merusak terumbu karang, mengganggu rantai makanan, dan menurunkan daya tarik destinasi wisata.

Teknologi pengolahan limbah berkembang melampaui fungsi dasar pemusnahan sampah. Mesin-mesin generasi baru dirancang untuk mereduksi volume, memisahkan material bernilai, hingga mengonversi limbah menjadi produk alternatif seperti bahan bakar, material konstruksi, atau bahan baku daur ulang. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yang memandang sampah sebagai sumber daya.

CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, melihat persoalan ini sebagai tantangan kolektif. Menurut dia, keberlanjutan lingkungan bahari tidak bisa dibebankan pada satu pihak, melainkan harus dikerjakan secara bergotong royong oleh pemerintah, pelaku industri, masyarakat, dan wisatawan.

Baca :  Di Antara Jalur Kapal dan Hiu Paus, Upaya PIS Menjaga Raksasa Laut

“Kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata,” kata Valerine. “Wisatawan punya banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut Indonesia adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan.”

Melalui Wedoo, Valerine menghadirkan mesin pengelolaan sampah yang mampu mereduksi volume limbah hingga 95 persen. Teknologi ini dirancang untuk menjawab kendala klasik pengelolaan sampah di daerah terpencil dan kawasan wisata kepulauan, di mana biaya transportasi dan keterbatasan infrastruktur kerap menjadi penghambat utama.

“Ketika volumenya mengecil drastis, sampah tidak lagi menjadi beban operasional yang mahal,” ujarnya. “Ia berubah menjadi aset bernilai ekonomi yang bisa diolah kembali.”

Pendekatan ini membuka peluang baru bagi destinasi wisata bahari. Limbah yang sebelumnya mencemari pantai dan laut dapat diolah di lokasi, mengurangi risiko kebocoran sampah ke perairan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Namun teknologi, kata Valerine, tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Ia mendorong penguatan regulasi serta konsistensi dalam implementasi, agar inovasi pengolahan limbah dapat berjalan berkelanjutan dan terintegrasi dengan tata kelola pariwisata.

Baca :  Tanpa Download! Kini GTA Vice City Bisa Dimainkan Gratis Lewat Browser

“Harapan kami, pemerintah memperketat dan menegakkan regulasi dengan baik, sehingga tempat yang indah ini tetap terjaga hingga ribuan tahun ke depan,” katanya.

Upaya menjaga laut tidak hanya datang dari inovasi teknologi, tetapi juga dari gerakan berbasis komunitas. Di Desa Pemuteran, Bali, masyarakat yang dinaungi Yayasan Karang Lestari berhasil memulihkan terumbu karang melalui pendekatan konservasi berbasis partisipasi warga. Inisiatif ini telah mendapatkan pengakuan internasional dan menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pariwisata.

Kisah Pemuteran menunjukkan bahwa teknologi dan kesadaran sosial dapat saling melengkapi. Ketika mesin pengolahan limbah mengurangi tekanan dari darat, dan masyarakat menjaga ekosistem laut, pariwisata bahari memiliki peluang untuk tumbuh tanpa mengorbankan masa depan alam.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, teknologi mesin pengolahan limbah bukan sekadar solusi teknis. Ia menjadi bagian dari strategi menjaga laut—dan sekaligus menjaga masa depan ekonomi yang bergantung padanya. (*/)