Wamen Komdigi Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI di Kalangan Mahasiswa

Ilustrasi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan kecerdasan artifisial harus menjadi alat bantu, bukan pengganti berpikir kritis mahasiswa. Foto: Roma Kuznetsov dari Pixabay

KalbarOke.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahaya ketergantungan terhadap teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di kalangan mahasiswa. Ia menegaskan AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.

“Kita harus menumbuhkan kesadaran agar mahasiswa tidak bergantung pada AI,” kata Nezar dalam audiensi bersama Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026.

Menurut Nezar, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu riset atau memecahkan persoalan, tetapi analisis akhir tetap harus dilakukan oleh manusia. Ketergantungan berlebihan, kata dia, berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis generasi muda.

“AI boleh digunakan sebagai alat bantu, tapi proses berpikir dan analisis akhir harus tetap dilakukan oleh manusia. Jangan sampai mahasiswa justru cemas ketika tidak ada akses AI karena merasa tidak bisa berpikir,” ujarnya.

Baca :  Komunitas Internet Diajak Edukasi Teknologi Darurat Saat Bencana

Nezar menyoroti fenomena penggunaan AI secara instan di kalangan mahasiswa, terutama praktik menyalin hasil keluaran AI tanpa melalui proses analisis dan verifikasi. Ia menekankan bahwa hasil yang diberikan AI tidak bisa serta-merta dianggap sebagai kebenaran.

“Yang benar itu bukan di-copy paste. Hasil dari AI harus diparafrasekan, dikritisi, dan dijadikan alat bantu riset,” kata Nezar.

Ia menambahkan, sejumlah perguruan tinggi di luar negeri bahkan mulai kembali menerapkan metode evaluasi konvensional untuk menjaga kemampuan analitik mahasiswa. Salah satunya dengan mewajibkan penulisan esai secara tulis tangan.

“Beberapa universitas sudah kembali ke metode klasik. Ini dilakukan untuk memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga. AI adalah mitra, bukan pengganti otak manusia,” ujarnya.

Baca :  RDMP Kilang Balikpapan: Ekosistem Energi Terintegrasi Penopang Swasembada Nasional

Nezar juga mengapresiasi inisiatif Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University yang tengah mengkaji literasi AI di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ia menilai riset tersebut penting untuk memetakan kesiapan generasi muda dalam berinteraksi dengan teknologi kecerdasan artifisial.

“Menarik untuk melihat secara lebih mikro bagaimana generasi muda memandang AI dan bagaimana cara mereka berinteraksi dengannya. Perlu diukur juga apakah mereka memiliki sikap kritis terhadap AI,” kata Nezar.

Ia berharap hasil riset tersebut dapat memberikan gambaran tingkat ketergantungan AI di lingkungan pendidikan. Data tersebut, menurut Nezar, akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan literasi digital yang berbasis pada kondisi nyata di lapangan. (*/)