KalbarOke.com — Gerimis baru saja membasahi aspal tebal Jalan Transkalimantan Kilometer 71, Desa Lintang Batang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kamis lalu. Di lintasan antarkabupaten yang dikenal bergelombang dan dipenuhi kontur naik-turun itu, permukaan jalan berubah menjadi licin dan rawan celaka.
Siang itu, sebuah truk bermuatan gas elpiji yang dikemudikan Yufret Musa (30) tengah meluncur dari arah Tayan menuju Pontianak. Bersama rekannya di kursi penumpang, Dedi Supriadi (43), Yufret melintasi ruas jalan melandai di sekitar kawasan yang kerap dikenal warga lokal sebagai Turunan Gereja Pasionis.
Nahas, saat roda kendaraan menyapu jalanan yang basah, truk hilang kendali. Kendaraan berbobot berat itu tergelincir, melebar, dan memotong ke lajur kanan.
Pada detik yang sama, dari arah berlawanan—dari Pontianak menuju Tayan—sebuah truk boks yang dikemudikan Akhmad Syamudin (32) tengah melaju. Jarak yang sudah terlalu dekat membuat ruang henti melenyap seketika. Benturan keras antarmuka dua kendaraan berat pun tak terelakkan.
Suara hantaman besi tua bergema di sepanjang ruas jalan Transkalimantan. Tabrakan hebat tersebut meremukkan bagian depan kendaraan dan seketika merenggut nyawa sang sopir truk elpiji, Yufret Musa. Sementara itu, Akhmad Syamudin dan Dedi Supriadi selamat dari maut, namun menderita luka-luka serius dan langsung dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis.
Kasat Lantas Polres Kubu Raya, Inspektur Satu Judi Effendhy, melalui Kasubsi Penmas Ajun Inspektur Satu Ade, membenarkan insiden berdarah di jalur utama Kalimantan Barat tersebut. “Hingga saat ini kasus kecelakaan tersebut masih dalam penanganan intensif Tim Penegakan Hukum (Gakkum) Satuan Lalu Lintas Polres Kubu Raya,” ujar Ade saat dikonfirmasi.
Menurut Ade, penyidik Gakkum masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mendalami seluruh rangkaian peristiwa untuk memastikan faktor utama pemicu tabrakan. Kondisi permukaan jalan yang licin akibat guyuran hujan mendalam diduga kuat menjadi pemicu utama hilangnya kendali kendaraan.
Tragedi di Kilometer 71 ini kembali menjadi alarm keras bagi para pengguna jalan, khususnya pengemudi kendaraan angkutan barang yang saban hari membelah jalur lintasan antarkabupaten di Kalimantan Barat. Kombinasi antara guyuran hujan, permukaan aspal licin, dan kontur jalan menurun menuntut kewaspadaan ekstra serta kontrol kecepatan yang disiplin demi mencegah jatuhnya korban jiwa berikutnya. (J-Mus)






