Landak  

Rp679,75 Juta Digelontorkan, Jaringan Air Bersih 7,6 Kilometer Dibangun di Landak

Program PAMSIMAS 2026 membangun jaringan air bersih sepanjang 7,6 kilometer di Dusun Balai Peluntan, Landak, dengan total dukungan Rp679,75 juta untuk 138 keluarga. Foto: Ist

KalbarOke.com — Warga Dusun Balai Peluntan, Desa Balai Peluntan, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mulai menaruh harapan pada pembangunan jaringan air bersih sepanjang 7,6 kilometer. Melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) 2026, proyek senilai total Rp679,75 juta ini ditargetkan melayani 138 keluarga.

Selama ini, keterbatasan pasokan air bersih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat setempat. Pembangunan jaringan tersebut diharapkan mempermudah warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

Proyek ini memperoleh dukungan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) sebesar Rp565 juta. Selain itu, terdapat kontribusi swadaya masyarakat senilai Rp114,75 juta.

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) PAMSIMAS Desa Balai Peluntan, Kasturi, mengatakan pembangunan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi Dusun Balai Peluntan mendapatkan program PAMSIMAS untuk pengaliran air bersih.

“Kalau untuk Dusun Balai Peluntan, ada 138 pintu atau KK. Memang selama ini sangat banyak kekurangan air bersih. Inilah pertama kalinya ada program PAMSIMAS untuk pengaliran air bersih di Dusun Balai Peluntan,” kata Kasturi.

Jaringan air bersih tersebut dirancang membentang sekitar 7.600 meter dari Sungai Ipuh, yang berada di Dusun Selaba, Desa Dara Itam 1, Kecamatan Jelimpo, menuju Dusun Balai Peluntan.

Pembangunan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat pedesaan terhadap layanan dasar. Namun, manfaatnya tidak hanya ditentukan oleh panjang jaringan atau besarnya anggaran, melainkan juga oleh kemampuan sistem untuk berfungsi secara konsisten setelah pembangunan selesai.

Kasturi mengatakan pekerjaan dilakukan dengan melibatkan masyarakat melalui kelompok-kelompok kerja yang bergantian turun ke lapangan. Setiap kelompok terdiri atas sekitar 13 orang. Dua kelompok dijadwalkan bekerja setiap hari untuk mendukung percepatan pembangunan jaringan.

“Swadaya masyarakat secara berkelompok setiap hari turun. Satu kelompok itu 13 orang, jadi setiap hari ada dua kelompok yang bekerja. Kami terus berupaya sampai air bersihnya nanti mengalir,” ujarnya.

Keterlibatan warga tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Selain memberikan kontribusi tenaga, partisipasi masyarakat diharapkan menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun.

Harapan terhadap proyek ini juga disampaikan Ketua RT 002 Dusun Balai Peluntan, Ya’ Darmo. Ia berharap jaringan air bersih dapat beroperasi dengan baik dan memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi masyarakat. “Harapan kami sebagai masyarakat, semoga program air bersih ini dapat terus berjalan dan dimanfaatkan dalam jangka panjang,” kata Ya’ Darmo.

Menurut dia, akses air bersih yang layak akan membantu warga memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung kesehatan keluarga. Ia juga berharap ketersediaan air bersih dapat berkontribusi terhadap upaya menurunkan angka stunting di wilayah tersebut.

“Dengan adanya akses air bersih ini, semoga angka stunting dapat menurun dan kebutuhan sehari-hari masyarakat menjadi lebih mudah terpenuhi, baik untuk memasak, mandi, mencuci, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya,” tuturnya.

Meski demikian, akses air bersih bukan satu-satunya faktor penentu penurunan stunting. Perbaikan gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, sanitasi yang layak, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap diperlukan agar upaya tersebut memberikan hasil yang optimal.

Karena itu, keberadaan jaringan air bersih di Dusun Balai Peluntan diharapkan menjadi bagian dari perbaikan lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Berdasarkan jadwal kegiatan, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), pelatihan masyarakat, promosi kesehatan, serta kegiatan operasional kelompok masyarakat direncanakan berlangsung selama 120 hari, mulai 27 Agustus hingga 24 Desember 2026.

Selain pembangunan fisik, pelatihan dan promosi kesehatan menjadi bagian dari kegiatan untuk mendukung pemanfaatan layanan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat.

Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah memastikan jaringan dapat beroperasi sesuai perencanaan. Pengelolaan sistem, pemeliharaan fasilitas, ketersediaan sumber air, dan keterlibatan warga akan memengaruhi keberlanjutan pelayanan.

Ya’ Darmo menekankan pentingnya menjaga fasilitas tersebut setelah pembangunan rampung. “Kami berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dirawat bersama agar manfaatnya terus dirasakan oleh generasi mendatang,” ujarnya. Ia juga berharap akses air bersih yang layak dapat menjangkau lebih banyak masyarakat pada masa mendatang.

Dengan dukungan APBN dan swadaya warga, pembangunan jaringan PAMSIMAS di Dusun Balai Peluntan menjadi upaya memenuhi kebutuhan dasar 138 keluarga. Tantangan selanjutnya adalah memastikan pembangunan selesai sesuai jadwal dan air benar-benar mengalir ke rumah-rumah penerima manfaat.

Bagi warga yang selama ini menghadapi keterbatasan air bersih, keberhasilan proyek ini nantinya tidak cukup diukur dari selesainya jaringan sepanjang 7,6 kilometer. Ukuran terpentingnya adalah tersedianya air yang layak, dapat diakses secara berkelanjutan, dan dikelola bersama untuk mendukung kualitas hidup masyarakat. (dRi)