KalbarOke.com — Keberhasilan Reinardus Ndiken, pemilik hak ulayat Marga Ndiken di Kampung Isano Mbias, Distrik Tanah Miring, menjadi penanda perubahan penting di Kabupaten Merauke. Melalui Program Cetak Sawah 2025, lahan ulayat seluas 160 hektare yang ia ajukan kini mulai memberikan hasil dan membuka jalan transformasi masyarakat adat menuju pertanian modern.
Panen perdana dilakukan di lahan seluas 2 hektare dan berlanjut pada panen berikutnya seluas 5 hektare. Reinardus tercatat sebagai pemilik hak ulayat pertama di wilayah tersebut yang secara aktif mengajukan lahannya masuk dalam program cetak sawah pemerintah.
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menyatakan transformasi tersebut sejalan dengan agenda swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, arah pembangunan daerah kini mendorong keterlibatan langsung masyarakat lokal dalam sektor pertanian.
“Masyarakat asli dan siapa pun yang hidup di Merauke hari ini adalah masyarakat Merauke. Dulu berburu dan meramu, sekarang mulai bergeser ke bercocok tanam, beternak, bahkan mencetak sawah agar ada nilai ekonomi,” kata Yoseph, Senin, 25 Februari 2026.
Ia menilai keterlibatan pemilik tanah ulayat menjadi kunci keberlanjutan program. Pemerintah daerah, kata Yoseph, terus mendorong masyarakat lokal membuka diri terhadap perubahan yang memberi dampak ekonomi jangka panjang.
Reinardus Ndiken mengatakan keikutsertaannya dalam program cetak sawah didorong keinginan meningkatkan pendapatan pemilik tanah ulayat sekaligus masyarakat sekitar. “Dari 160 hektare ini, semua saling mendukung—dinas, kelompok tani, penyuluh, sampai Babinsa,” ujarnya.
Saat ini, sekitar 100 hektare dari total lahan tersebut telah digarap petani lain yang tergabung dalam dua Brigade Pangan di Distrik Tanah Miring. Reinardus berharap dukungan infrastruktur, seperti jalan usaha tani dan pintu air, terus diperkuat agar produktivitas lahan meningkat.
Penjabat Ketua Satgas Swasembada Pangan Papua Selatan Oeng Anwarudin menekankan bahwa keberlanjutan swasembada pangan bertumpu pada penguatan sumber daya manusia. “Yang utama petaninya. Kelompok tani dan gabungan kelompok tani harus diperkuat agar pendampingan berjalan efektif,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, mengingat keterbatasan jumlah penyuluh, terutama di wilayah pedalaman Papua Selatan.
Dukungan pendampingan datang dari TNI. Komandan Kodim 1707/Merauke Letkol CZI Dili Eko Setyawan mengatakan Babinsa dilibatkan untuk mendampingi petani, khususnya di lahan-lahan baru hasil cetak sawah. “Kami terus meningkatkan kapasitas Babinsa melalui kerja sama dengan dinas pertanian,” ujarnya.
Di sisi hilir, Perum Bulog Merauke memastikan penyerapan hasil panen petani. Pimpinan Cabang Bulog Merauke Karennu menyebut sepanjang 2025 Bulog menyerap setara beras 22.200 ton dan gabah 186 ton. “Capaian ini tertinggi dalam enam tahun terakhir di Papua Selatan,” katanya.
Data menunjukkan luas panen padi Merauke sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 78.955 hektare, meningkat 67,39 persen dibandingkan 2024. Produksi gabah kering panen naik dari 258.626 ton menjadi 426.828 ton, sementara produksi beras meningkat lebih dari 65 persen.
Hingga kini, total capaian cetak sawah di Kabupaten Merauke telah menembus 40.000 hektare. Program ini menempatkan Merauke sebagai salah satu lumbung pangan strategis di kawasan timur Indonesia, sekaligus membuka ruang transformasi ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemilik sah tanah ulayat. (*/)






