Tembawang dan Hutan Tak Sekadar Pohon, Riset Ungkap Kaitannya dengan Penghidupan Warga Kalbar

Riset 4F dan BRIN mengungkap keterkaitan hutan, tembawang, tanah, tanaman, dan ekonomi masyarakat di Kalimantan Barat. Foto: Jackmus

KalbarOke.com – Hutan bagi masyarakat di Kalimantan Barat bukan sekadar hamparan pepohonan yang harus dijaga dari pembukaan lahan. Di dalamnya ada tembawang, tanaman pangan, sumber obat, kayu, pendapatan, hingga pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Keterkaitan itu menjadi salah satu temuan yang dibahas dalam Seminar dan Festival Lanskap Lestari di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan tersebut digelar Yayasan Farmers for Forest Protection Foundation (4F) bersama Universitas Tanjungpura (Untan) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Forum itu mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, petani, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha. Bagi Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki, pertemuan tersebut penting karena perlindungan hutan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan masyarakat untuk memperoleh penghidupan.

“Selama bekerja bersama masyarakat di berbagai lanskap desa, kami melihat bahwa perlindungan hutan dan penghidupan masyarakat memang tidak bisa dipisahkan,” kata Tirza. Ia berharap hasil penelitian tidak berhenti menjadi dokumen akademik, tetapi diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.

Salah satu kajian 4F menunjukkan bahwa ancaman deforestasi tidak hanya terjadi pada hutan dengan tutupan rapat. Hutan regenerasi muda dan hutan dengan kerapatan rendah juga berada dalam posisi rentan. Analisis dilakukan dengan menumpangtindihkan data deforestasi Kementerian Kehutanan periode 2023-2025 dengan data tutupan hutan berbasis Stok Karbon Tinggi (SKT).

Expert Spatial 4F, Harits Yowansyah Pandayu Putra, mengatakan temuan itu menunjukkan perlunya memperluas cara pandang mengenai perlindungan hutan. “Perlindungan hutan tidak hanya diperlukan pada kawasan dengan tutupan yang masih rapat. Hutan yang sedang beregenerasi juga perlu dijaga agar peluang pemulihannya tidak kembali hilang,” ujarnya.

Kajian tersebut juga mengidentifikasi 27.316 lokasi indikatif tembawang di Kabupaten Sanggau serta sekitar 103.584,63 hektare wilayah yang berpotensi dikembangkan untuk agroforestri. Namun, 4F menegaskan lokasi indikatif tersebut masih membutuhkan verifikasi langsung di lapangan.

Di tengah perkebunan dan perubahan penggunaan lahan, tembawang kerap terlihat seperti kumpulan pohon yang tersisa. Peneliti 4F, Amir Mahmud, mengatakan pandangan tersebut terlalu sederhana.

Menurut dia, tembawang atau wanatani mempunyai fungsi yang jauh lebih luas. Di dalamnya terdapat tanaman buah, pangan, kayu, obat-obatan, hingga sumber pendapatan masyarakat. Pada saat yang sama, tembawang menyimpan sejarah, pengetahuan dan nilai budaya masyarakat.

Baca :  Arena Sabung Ayam Berkedok Adat di Hutan Kapuas Hulu Dibakar Polisi, Ternyata Pernah Ditindak

Persoalan muncul ketika kawasan tersebut menghadapi tekanan konversi, termasuk menjadi perkebunan kelapa sawit. Amir mengatakan perdebatan seharusnya tidak berhenti pada pilihan antara sawit atau wanatani.

Yang lebih penting, kata dia, adalah mencari model pengelolaan yang memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa menghilangkan fungsi ekologis dan sosial lanskap. Hubungan antara lanskap dan penghidupan masyarakat juga terlihat dari penelitian BRIN mengenai kondisi tanah.

Peneliti BRIN, Dr. Ir. Asri Insiana Putri, M.P., memaparkan penelitian mengenai komunitas mikroorganisme di sekitar akar tanaman atau rizosfer. Penelitian di Desa Menyabo, Gunam, dan Embala, Kabupaten Sanggau, menemukan adanya perbedaan komunitas jamur pada rizosfer tanaman sawit sehat dan tanaman yang sakit.

Salah satunya adalah Fusarium, yang ditemukan memiliki kelimpahan relatif lebih tinggi pada tanaman yang sakit. Sebaliknya, tanaman sehat yang berada di sekitar rimba alam menunjukkan kondisi komunitas mikroorganisme yang menarik. Salah satu mikroorganisme yang ditemukan adalah Trichoderma virens, yang berpotensi digunakan sebagai agen biokontrol.

“Kesehatan tanaman tidak hanya berkaitan dengan tanaman itu sendiri. Di dalam tanah terdapat komunitas mikroorganisme yang memiliki fungsi penting, sementara kondisi lanskap juga memengaruhi lingkungan tempat mikroorganisme tersebut hidup,” kata Asri.

Penelitian lain BRIN terhadap bakteri pengikat nitrogen Azotobacter juga menemukan bahwa rimba dan tembawang memiliki keragaman vegetasi, serasah, karbon organik, kelembapan, serta mikroba tanah yang lebih tinggi. Temuan ilmiah tersebut kemudian berhadapan dengan pengalaman masyarakat yang sehari-hari mengelola lahan.

Isa Kenedy, perwakilan petani sekaligus Tim Penjaga Hutan Desa Setawar, Kabupaten Sekadau, mengatakan sawit memang menjadi bagian penting dari ekonomi petani. Namun, menurut dia, hutan tetap memiliki fungsi yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Hutan membantu menjaga kondisi lingkungan yang pada akhirnya turut berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat dan kebun mereka. Di tengah harga sawit yang tinggi, ia khawatir tekanan untuk membuka kawasan hutan semakin besar. “Kalau hutan habis, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu?” kata Isa.

Baca :  Sisik Trenggiling Dilindungi Diserahkan Warga di Perbatasan Kalbar

Ia mendorong adanya insentif bagi masyarakat yang memilih mempertahankan hutan. “Jangan hanya mereka yang membuka hutan yang mendapatkan keuntungan, tetapi mereka yang mempertahankan hutan juga harus mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Riset 4F dan BRIN mengungkap keterkaitan hutan, tembawang, tanah, tanaman, dan ekonomi masyarakat di Kalimantan Barat. Foto: Jackmus

Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan Festival Lanskap Lestari bertema “Celebrating Forests, Food, Culture and Community.” Sebanyak 11 desa binaan 4F membawa hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan produk lokal untuk diperkenalkan sekaligus dijual.

Produk unggulan masyarakat juga ditampilkan dalam lomba HHBK. Festival itu menjadi semacam ruang pamer bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa hutan tidak hanya menghasilkan kayu. Ada pangan, produk olahan, tanaman, kerajinan, serta berbagai komoditas yang dapat menjadi sumber ekonomi tanpa harus menghabiskan tutupan hutan.

Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara BRIN dan Untan serta penyerahan isolat Azotobacter kepada Untan untuk mendukung penelitian dan inovasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Tirza mengatakan tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan penelitian baru, melainkan memastikan pengetahuan tersebut bertemu dengan pengalaman masyarakat. “Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, produk, dan potensi ekonomi yang tumbuh dari lanskap mereka,” ujarnya.

Menurut dia, peneliti memiliki data untuk membaca kondisi lanskap. Sementara masyarakat mempunyai pengalaman mengenai cara mengelola dan memanfaatkan lanskap tersebut. Keduanya, kata Tirza, perlu dipertemukan agar menghasilkan kebijakan dan praktik yang benar-benar dapat diterapkan.

Pendekatan itu menjadi bagian dari kerja 4F dalam mendukung petani kecil, masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya di berbagai lanskap di Kalimantan. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, menjaga pohon dan menjaga penghidupan pada akhirnya bukan dua pekerjaan berbeda.

Keduanya berada dalam lanskap yang sama—di mana tanah menentukan tanaman, tanaman menopang ekonomi, sementara hutan dan tembawang menjaga ekosistem yang membuat seluruh rangkaian itu tetap berjalan. (J-Mus)