Chiara Tersingkir, Dejan/Apriyani Bangkit di Indonesia Masters 2026 setelah Nyaris Tumbang

Chiara Marvella Handoyo tersingkir dari Indonesia Masters 2026. Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu bangkit dan mengalahkan pasangan Malaysia dalam tiga gim. Foto: Ist/kolase kalbaroke.com

KalbarOke.com — Hari berbeda dijalani dua wakil Indonesia di babak 16 besar Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026, Kamis, 3 September 2026. Chiara Marvella Handoyo harus mengakhiri langkahnya setelah kehilangan momentum di tengah pertandingan, sedangkan Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu justru bangkit dari start lambat untuk memastikan tiket ke perempat final.

Chiara menghadapi wakil China, Xu Wen Jing, di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak. Pertandingan yang semula berlangsung ketat berubah setelah skor 14-14 pada gim pertama. Chiara akhirnya kalah 14-21, 5-21.

Pemain Indonesia itu mengawali pertandingan dengan persaingan ketat. Namun setelah kedudukan imbang 14-14, fokusnya mulai buyar. Sejumlah kesalahan membuat Xu mendapatkan kesempatan untuk menjauh.

“Puji Tuhan menyelesaikan pertandingan hari ini tanpa cedera apa pun. Tadi karena poinnya kejar-kejaran terus di gim pertama sampai 14-14, lalu hilang fokus dan banyak membuang poin,” kata Chiara seusai pertandingan.

Tekanan itu berlanjut ke gim kedua. Chiara tidak lagi mampu menemukan celah untuk keluar dari tekanan permainan Xu. “Di gim keduanya juga masih belum bisa keluar dari tekanan,” ujarnya.

Salah satu persoalan yang dirasakan Chiara adalah serangannya tidak cukup kuat untuk menembus pertahanan pemain China tersebut. Meski begitu, ia tetap mencoba mempertahankan pola yang sudah disiapkan. “Serangan saya tidak bisa menembus pertahanan dia, tapi saya coba untuk terus melakukan pola itu,” kata Chiara.

Kekalahan tersebut juga menjadi cermin bagi Chiara mengenai kondisi fisiknya. Ia mengakui kekuatan kaki dan kebugarannya belum sepenuhnya kembali seperti sebelum mengalami cedera. “Evaluasinya dari kekuatan kaki belum kembali ke semula sebelum cedera. Kondisi fisik saya juga harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Baca :  Pelatih Pratama POLYTRON Sebut Pontianak Jadi Ujian Mental Pemain Junior di Indonesia Masters 2026

Chiara menyadari dirinya masih membutuhkan waktu untuk kembali ke level permainan terbaik. “Saya merasa saya belum berada di kekuatan terbaik,” tuturnya.

Dejan/Apriyani Balikkan Keadaan

Cerita berbeda datang dari sektor ganda campuran. Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu sempat berada dalam posisi sulit sebelum membalikkan pertandingan melawan pasangan Malaysia, Goh Boon Zhe/Dania Sofea.

Dejan/Apriyani kalah 14-21 pada gim pertama. Namun mereka kemudian menemukan cara untuk mengubah permainan dan merebut dua gim berikutnya dengan skor 22-20, 21-13. Kemenangan itu membawa mereka ke perempat final.

Dejan mengakui masalah utama muncul pada gim pembuka. Dania Sofea tampil agresif di depan net dan berani beradu bola sehingga pasangan Indonesia lebih banyak berada dalam posisi bertahan. “Memang tadi kesulitannya di gim pertama, Sofea bermain cukup bagus depannya, berani mengadu, jadi posisi kami banyak terserang,” kata Dejan.

Memasuki gim kedua, Dejan/Apriyani mengubah pendekatan. Mereka memperkuat pertahanan dan tidak membiarkan kekalahan di depan net membuat posisi mereka terus tertekan. “Di gim kedua kami coba lebih yakin di defensinya, jadi walau kami kalah di depan, kami lebih siap posisi bertahannya,” ujar Dejan.

Perubahan strategi tersebut mulai menghasilkan. Dejan/Apriyani mampu memaksakan permainan hingga akhirnya merebut gim kedua melalui adu setting, 22-20. Gim penentuan menjadi titik balik. Dejan mengatakan mereka bermain lebih berani dan memaksimalkan setiap kesempatan yang muncul. “Di gim ketiga kami lebih nekat, lebih berani memaksimalkan kesempatan yang ada,” katanya.

Namun, kemenangan tersebut tidak lepas dari kekhawatiran setelah kembali mengawali laga dengan lambat. Dejan menyebut pola slow start menjadi sesuatu yang harus segera mereka perbaiki. “Pastinya ada sedikit kekhawatiran ketika kami slow start dan kami mau coba terus perbaiki hal itu,” ujar Dejan.

Baca :  Dendi Triansyah ke Perempat Final Indonesia Masters 2026, Ni Kadek Dhinda Tersingkir

Apriyani mengakui ketegangan juga sempat muncul ketika mereka sebenarnya sudah menguasai gim kedua. Dalam situasi kritis, mereka justru kehilangan ketenangan hingga pertandingan harus ditentukan melalui setting. “Di gim kedua permainan sudah dipegang, tapi kami ada paniknya juga, kurang tenang dan terburu-buru jadi sampai adu setting,” kata Apriyani.

Saat memasuki poin-poin penentuan, mereka berusaha membangun kembali kepercayaan diri. “Di adu setting kami coba mengembalikan kepercayaan diri. Bagaimanapun caranya, hawanya harus maksa timbul,” ujarnya.

Apriyani menegaskan persoalan slow start bukan berarti mereka datang ke lapangan tanpa persiapan. Sejak awal, keduanya sudah membicarakan pola permainan yang ingin dijalankan. “Sebenarnya dari awal kami selalu siap dan selalu mengingatkan untuk bermain seperti apa,” kata Apriyani.

Masalahnya, rencana yang sudah disusun tidak selalu berjalan persis seperti yang terjadi di lapangan. “Kalau dilihat dari pekan lalu selalu slow start, bukan karena kami kurang siap, tapi kadang apa yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang ada di lapangan,” tuturnya.

Kemenangan atas Goh/Dania membuat Dejan/Apriyani tetap menjaga langkah di Indonesia Masters 2026. Mereka kini memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki start pertandingan sekaligus mempertahankan ketenangan ketika memasuki poin-poin kritis.

Sementara bagi Chiara, kekalahan dari Xu menjadi pengingat bahwa perjalanan kembali ke performa terbaik membutuhkan penguatan fisik, terutama pada kaki dan daya tahan. (deL)