KalbarOke.com — Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mulai diperkuat dari tingkat masyarakat. Kamis, 3 September 2026, TNI menggelar penyuluhan langsung dengan membawa satu pesan utama: kebakaran harus dicegah sebelum api membesar.
Penyuluhan digelar Pasis Pendidikan Reguler (Dikreg) LVI Sesko TNI di Aula Kantor Camat Bengkayang, Jalan Raya Sanggau Ledo. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi Karhutla, terutama saat musim kemarau.
Komandan Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Dansesko TNI) Marsekal Madya TNI M. Khairil Lubis turut meninjau langsung kegiatan tersebut. Ia didampingi Dosen Ahli Bidang Strategi Sesko TNI Brigjen TNI Achmad Solihin dan Dankelas A Korsis Sesko TNI Kolonel Pas Unggul.
Rombongan Dansesko TNI disambut Katim Penyuluhan Mabes TNI Wilayah Bengkayang Brigjen TNI Suryadi Syamsir bersama Tim 8 Satgas Penyuluhan Pencegahan Karhutla yang terdiri atas Pamen TNI dari Pasis Sesko TNI.
Sejumlah unsur TNI-Polri dan pemerintah daerah ikut terlibat. Di antaranya Danlanud Harry Hadisoemantri Letkol Pnb Resque Pambudi, Dandim 1209/Bengkayang Letkol Inf Aprianda, Kapolres Bengkayang AKBP Syahirul Awab, Kapolsek Bengkayang AKP Slamet Widodo, serta perwakilan Pemerintah Kecamatan Bengkayang.
Penyuluhan tidak hanya menyasar aparat. Para Ketua BPD se-Kabupaten Bengkayang, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga sekitar 40 warga Kecamatan Bengkayang turut mengikuti paparan dan diskusi.
Dalam diskusi, persoalan membuka lahan dengan cara membakar menjadi salah satu perhatian utama. Masyarakat didorong meningkatkan kesadaran agar praktik tersebut tidak menjadi pemicu kebakaran yang kemudian sulit dikendalikan. Pesannya sederhana: pencegahan lebih penting daripada menunggu api muncul dan baru melakukan pemadaman.
Selain mendorong perubahan perilaku, masyarakat juga diminta tidak mengabaikan tanda-tanda awal kebakaran. Deteksi dini dan pelaporan secara cepat terhadap titik api dinilai dapat mempersempit peluang api meluas.
Karena itu, masyarakat memiliki posisi penting dalam rantai pencegahan Karhutla. Warga yang menemukan indikasi kebakaran di wilayahnya diharapkan segera melaporkannya sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Pencegahan Karhutla juga tidak bisa dibebankan kepada satu institusi. Dalam penyuluhan tersebut ditekankan pentingnya kerja bersama antara TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi terkait, perusahaan, pemerintah desa dan masyarakat.
Sinergi diperlukan mulai dari pemantauan wilayah rawan, pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, deteksi titik api hingga penanganan ketika kebakaran terjadi. Kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan seiring kondisi musim kemarau. Wilayah yang memiliki potensi rawan kebakaran harus dipantau secara berkala agar perubahan situasi dapat segera diketahui.
Dalam konteks tersebut, masyarakat bukan sekadar pihak yang menerima imbauan. Mereka menjadi bagian penting dalam sistem pencegahan karena berada paling dekat dengan wilayah yang berpotensi terbakar.
Penyuluhan TNI di Bengkayang pun memperlihatkan perubahan pendekatan dalam penanganan Karhutla. Persoalan kebakaran tidak semata-mata diselesaikan ketika api sudah berkobar. Edukasi, kesadaran, pemantauan dan laporan cepat menjadi mata rantai yang harus bekerja sebelum kebakaran berubah menjadi bencana.
Kegiatan Penyuluhan Karhutla Pasis Dikreg LVI Sesko TNI Wilayah Bengkayang berakhir sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah meninjau kegiatan, Dansesko TNI bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lanud Harry Hadisoemantri.
Melalui kegiatan tersebut, TNI mendorong kesadaran masyarakat Bengkayang agar pencegahan Karhutla dilakukan secara bersama-sama. Dengan deteksi yang lebih cepat dan keterlibatan warga sejak awal, potensi kebakaran di wilayah tersebut diharapkan dapat ditekan. (Rin)






