KalbarOke.com — Pontianak belum menjadi kota keberuntungan bagi Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo. Dalam dua pekan berturut-turut, pasangan ganda putra non-pelatnas itu selalu mencapai final di GOR Terpadu Ahmad Yani. Namun, dua kali pula mereka harus puas berdiri di podium kedua.
Terbaru, Yeremia/Patra gagal meraih gelar POLYTRON Pontianak Indonesia Masters 2026 setelah kalah dramatis dari unggulan kedua asal Chinese Taipei, Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng, Minggu, 6 September 2026. Yeremia/Patra sempat berada di jalur juara setelah merebut gim pertama 21-11. Namun, Chia/Lin bangkit dan memenangi dua gim berikutnya 21-19, 22-20.
Kekalahan itu memperpanjang cerita runner-up Yeremia/Patra di Pontianak. Sepekan sebelumnya, mereka juga mencapai final POLYTRON Pontianak International Challenge 2026, tetapi gagal mengangkat trofi setelah dikalahkan pasangan Indonesia Wahyu Agung Prasetyo/Pulung Ramadhan dengan skor 20-22, 15-21.
Artinya, dalam dua turnamen yang berlangsung beruntun di arena yang sama, Yeremia/Patra dua kali melaju hingga partai puncak dan dua kali pula gagal menjadi juara. Patra menerima hasil tersebut dengan lapang. Baginya, yang terpenting mereka mampu menuntaskan pertandingan tanpa mengalami cedera.
“Puji Tuhan kami bisa menyelesaikan pertandingan ini. Walaupun hasilnya runner-up tapi kami dijauhkan dari cedera,” kata Patra seusai pertandingan.
Namun, Patra mengakui ada persoalan yang membuat peluang mereka merebut gelar terlepas. Ketika pertandingan memasuki fase krusial, permainan mereka dinilai kurang tenang dan fokus mulai terpecah.
“Tadi permainan kami kurang tenang dan fokusnya hilang-hilang. Sempat memaksakan setting di gim ketiga dan harusnya kami bisa ambil, tapi kita kecolongan dari servis lawan. Sangat disayangkan,” ujarnya.
Final tersebut memang berlangsung dalam tempo tinggi. Keempat pemain sama-sama berusaha mengambil inisiatif serangan dan menghindari permainan bertahan. Yeremia mengatakan pola permainan seperti itu membuat pertandingan berlangsung sangat ketat, terutama pada gim penentuan.
“Kami berempat mainnya memang memaksa banget, semuanya mau menekan dan jarang mengangkat bola. Kalau ada yang terpaksa angkat bola pasti dia akan kehilangan poin,” kata Yeremia.
Menurut dia, karakter permainan tersebut membuat perolehan angka berlangsung cepat dan momentum berpindah dengan sangat tipis. “Itu yang membuat tadi poin dan momennya sangat intens, sangat ketat,” ujarnya.
Dukungan Penuh Penonton Pontianak

Meski kembali gagal menjadi juara, Yeremia/Patra mendapatkan satu hal yang sulit dilupakan dari Pontianak: dukungan penonton. GOR Terpadu Ahmad Yani dipenuhi penonton pada partai final. Atmosfer tersebut membuat Yeremia/Patra merasa seperti mendapat energi tambahan, terlebih kali ini mereka menghadapi pasangan dari negara lain.
“Kami merasa bangga dan senang banget mendapat dukungan penonton di sini. Hari ini semua bangku terisi, sangat antusias,” kata Yeremia.
Jika pada final pekan sebelumnya mereka menghadapi rekan senegara, situasinya berbeda kali ini. Penonton Pontianak memberikan dukungan penuh kepada pasangan Indonesia ketika berhadapan dengan wakil Chinese Taipei.
“Kalau minggu kemarin kami tampil di final lawan rekan senegara, tapi hari ini melawan negara lain jadi semua arena terasa mendukung kami. Itu membuat kami semangat,” tutur Yeremia.
Dua Final dalam Dua Pekan Mulai Menguras Stamina
Dua kali masuk final dalam rentang dua pekan menjadi pencapaian tersendiri bagi Yeremia/Patra. Namun, hasil tersebut sekaligus membuka pekerjaan rumah. Yeremia menyebut kondisi fisik menjadi salah satu aspek yang harus mereka evaluasi. Menjalani pertandingan hingga babak terakhir dalam dua turnamen beruntun membuat stamina mulai terkuras.
“Dari hasil dua runner-up di dua minggu ini kami mau evaluasi lagi, terutama dari staminanya. Dua minggu selalu masuk final pasti dari sisi kondisi menurun, ini yang harus kami tingkatkan,” kata Yeremia.
Bagi Yeremia/Patra, dua gelar runner-up di Pontianak bukan sekadar kegagalan mengangkat trofi. Hasil itu menjadi cermin bahwa mereka sudah mampu konsisten menembus partai puncak, tetapi masih membutuhkan ketahanan fisik dan ketenangan lebih baik untuk mengubah peluang menjadi gelar.

Di sisi lain, Chia Yen Lin/Lin Yong Sheng berhasil keluar dari tekanan setelah kehilangan gim pertama. Lin mengakui mereka sempat panik pada awal pertandingan sebelum menemukan kembali ketenangan. “Sangat senang bisa juara. Di gim kedua dan ketiga kami bisa lebih tenang, tidak seperti gim pertama yang kami mainnya sangat panik,” kata Lin.
Chia menambahkan bahwa arahan pelatih membantu mereka mengubah pendekatan permainan setelah gim pertama. “Gim pertama memang sangat-sangat tegang, tapi setelah itu pelatih benar-benar mengingatkan kami untuk bermain lebih lepas di gim pertama dan kedua,” ujarnya.
Penentuan gelar akhirnya ditutup dengan keputusan berani Chia pada poin terakhir gim ketiga. Dalam situasi krusial, ia memilih melakukan flick service. “Di poin terakhir gim ketiga saya tidak banyak berpikir. Saya hanya melakukan spekulasi untuk melakukan flick service dan feeling-nya mereka tidak bisa mengembalikan,” kata Chia.
Flick service tersebut menjadi keputusan terakhir dalam pertandingan yang berlangsung selama tiga gim. Chia/Lin pun membawa pulang gelar juara, sementara Yeremia/Patra kembali harus menerima kenyataan sebagai runner-up di Pontianak. Dua final, dua pekan, dua runner-up. Tantangan berikutnya bagi Yeremia/Patra adalah mengubah konsistensi menembus final menjadi gelar juara. (deL)






