Kubu Raya Dilanda Karhutla dan Kekeringan, Bupati Sujiwo Gelar Salat Istisqa Minta Hujan

Kubu Raya menghadapi karhutla, kabut asap dan kekeringan. Bupati Sujiwo menggelar salat istisqa, sementara 570 ribu liter air telah didistribusikan. Foto: Jackmus

KalbarOke.com — Langit yang lama menahan hujan membuat Kabupaten Kubu Raya menghadapi persoalan berlapis. Kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, serta kekeringan masih membayangi sejumlah wilayah. Pemerintah daerah pun menempuh dua jalur sekaligus: memperkuat penanganan di lapangan dan menggelar salat istisqa.

Salat meminta hujan dan doa bersama digelar Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ulama, TNI, Polri, serta aparatur sipil negara di halaman Kantor Bupati Kubu Raya, Rabu, 9 September 2026.

Bupati Kubu Raya Sujiwo mengatakan salat istisqa menjadi bentuk ikhtiar manusia untuk memohon pertolongan Allah SWT di tengah kondisi kekeringan dan karhutla yang belum sepenuhnya teratasi.

“Allah itu Maha segala-galanya. Kalau Allah menghendaki, kapan saja hujan bisa turun. Dengan kita menghamba, mengotentikasi diri dan bermunajat bersama, mudah-mudahan Allah segera mengabulkan doa kita,” ujar Sujiwo.

Menurut dia, hujan yang sempat turun sebelumnya ikut membantu meredakan karhutla. Sebagian hujan tersebut merupakan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, Sujiwo menilai upaya teknologi tetap tidak terlepas dari kehendak Tuhan.

“Walaupun dilakukan rekayasa dan modifikasi cuaca, kalau Allah tidak mengizinkan, tidak akan menjadi curah hujan. Karena Allah berkehendak, akhirnya hujan itu turun dan cukup membantu meredakan kondisi,” katanya.

Di sisi lain, upaya pemadaman tetap berjalan. Selama lebih dari dua bulan, personel TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan pemadam kebakaran swasta, pemerintah daerah, dan berbagai unsur lainnya berjibaku menangani karhutla. Sujiwo meminta seluruh personel dan jajaran pemerintah tidak kehilangan tenaga menghadapi situasi tersebut.

“Kita tidak boleh lelah, terutama saya dan jajaran. Kita tidak boleh menyerah. Memang cukup melelahkan, tetapi teman-teman TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan pemadam kebakaran swasta dan semua yang ada di lapangan sudah lebih dari dua bulan berjibaku siang dan malam,” tuturnya.

Baca :  Manuver Mendahului Truk Berujung Maut, Pemotor 19 Tahun Tewas di Trans Kalimantan KM 22

Tekanan akibat karhutla dan kekeringan bahkan ikut mempengaruhi penyelenggaraan pemerintahan di Kubu Raya. Sujiwo mengatakan sekitar 60 persen perhatian pemerintah daerah saat ini diarahkan untuk menangani kekeringan dan karhutla. Adapun 40 persen lainnya tetap digunakan untuk menjalankan pembangunan dan pelayanan publik, termasuk sektor infrastruktur, kesehatan, pendidikan, perikanan, dan pertanian.

“Urusan rakyat ini banyak dan macam-macam. Tetapi ketika kondisi bencana seperti ini, tentu perhatian kita harus lebih besar untuk penanganannya. Kita tidak bisa meninggalkan urusan masyarakat yang lainnya, tetapi karhutla juga tidak boleh kita abaikan,” kata dia.

Persoalan lain kemudian muncul dari dampak kekeringan: air bersih dan air minum. Sejumlah masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air. Di beberapa lokasi, air yang tersedia bahkan terasa payau. Harga air pun disebut semakin mahal. Pemerintah daerah bersama sejumlah pihak kemudian memperkuat distribusi air minum bagi masyarakat terdampak.

Hingga hari ketujuh penyaluran, sekitar 570 ribu liter air minum telah didistribusikan. Pada hari pelaksanaan salat istisqa, hampir 80 ribu liter air tambahan kembali disalurkan kepada masyarakat. Meski persediaan diperkirakan masih relatif aman untuk satu hingga sepuluh hari mendatang, Pemkab Kubu Raya tidak ingin menunggu sampai kondisi semakin kritis.

“Saya hari ini akan berburu lagi, berkeliling untuk mencari sumber air minum. Kita harus mengantisipasi jika kondisi ini berkepanjangan,” ujar Sujiwo.

Air yang didistribusikan diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi. Kendati telah melalui proses pengolahan, masyarakat tetap diminta merebus air sebelum diminum. Distribusi tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemkab Kubu Raya dengan sejumlah pihak, antara lain PT Alas Kusuma, TNI, Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), balai terkait, dan instansi lainnya.

Baca :  IPA Baru Kubu Raya Didorong Jadi Jawaban Krisis Air Bersih

Armada mobil tangki milik TNI dan Polri menjadi salah satu penopang distribusi air ke wilayah yang mengalami kekurangan. “Ini kolaborasi yang sangat luar biasa. Saya berkomunikasi dengan jajaran TNI dan Polri karena kita membutuhkan mobil tangki untuk mengangkut air. Semuanya bergerak, dari TNI, Polri, PMI, balai, BPBD dan pihak lainnya,” kata Sujiwo.

Di tengah tekanan karhutla, asap, dan kekeringan, Sujiwo meminta masyarakat tidak panik. Dia juga mengajak warga tidak menjadikan situasi tersebut sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Menurut dia, kesabaran diperlukan sembari pemerintah dan seluruh unsur terkait terus melakukan penanganan.

“Seperti yang disampaikan khatib, situasi seperti ini yang paling utama adalah sabar. Bukan waktunya untuk saling menyalahkan atau memojokkan. Upaya pemerintah bersama TNI, Polri dan pihak swasta sudah maksimal,” ujarnya.

Pemkab Kubu Raya memastikan penanganan karhutla, kekeringan, dan distribusi air akan terus dilakukan. Pemerintah juga masih mencari sumber-sumber air baru untuk mengantisipasi jika kemarau berlangsung lebih panjang. Di tengah segala upaya tersebut, Sujiwo kembali meminta dukungan masyarakat melalui doa agar hujan segera turun.

“Kita harus tenang, jangan panik. Yakinlah kami, TNI, Polri dan semua pihak akan terus berjuang semaksimal mungkin siang dan malam. Mohon doa seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya agar Allah segera menurunkan hujan untuk menolong kita,” kata Sujiwo. (J-Mus)