KalbarOke.com — Tangki Armoured Water Cannon (AWC) biasanya muncul ketika situasi keamanan memanas. Namun, di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kendaraan taktis itu justru menyusuri permukiman warga untuk mengantarkan kebutuhan paling dasar: air bersih.
Di tengah kemarau panjang yang membuat sejumlah wilayah mengalami kesulitan air, AWC Sat Samapta Polres Kubu Raya beralih fungsi menjadi kendaraan distribusi air bersih. Dalam enam hari, 2–7 September 2026, sebanyak 36.000 liter atau 36 ton air bersih siap konsumsi disalurkan kepada warga di enam titik.
Bantuan tersebut menyasar Dusun Teluk Lais, Dusun Lintang Batang, Jalan Parit Haji Muksin, Terminal ALBN Kuala Ambawang, serta Yayasan Bhakti Suci di Desa Parit Baru. Perubahan peran AWC itu berlangsung ketika persoalan kekeringan berkelindan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kubu Raya.
Sebelumnya, kendaraan yang sama digunakan dalam penanganan karhutla. Di Dusun Lintang Batang, misalnya, AWC dikerahkan untuk membantu memadamkan api dan melangsir air bagi petugas serta relawan karena sumber air sulit dijangkau. Kebakaran kala itu bahkan mengancam kawasan SPBU dan permukiman warga.
Kini, tangki AWC kembali bergerak. Bukan membawa air untuk menjinakkan api, melainkan mengisi kebutuhan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Di Dusun Teluk Lais, Desa Persiapan Kuala Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, sebanyak 6.000 liter air bersih siap konsumsi disalurkan kepada sekitar 170 kepala keluarga.
Distribusi kemudian berlanjut ke Dusun Lintang Batang. Di dua titik wilayah tersebut, bantuan air menjangkau sekitar 300 warga. Sementara di Jalan Parit Haji Muksin, Desa Sungai Raya, sekitar 112 warga menerima pasokan air bersih. Bantuan juga diberikan kepada 87 warga di Terminal ALBN, Desa Kuala Ambawang, Kecamatan Sungai Ambawang.
Pada Senin, 7 September 2026, AWC kembali membawa air bersih ke Yayasan Bhakti Suci, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya. Sebanyak 111 warga menjadi penerima manfaat. Bagi masyarakat, distribusi tersebut datang ketika air bersih bukan lagi perkara kenyamanan, melainkan kebutuhan yang semakin sulit dipenuhi.
Asun, warga Parit Baru, mengatakan kekurangan air telah mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. “Air bersih itu kebutuhan paling dasar. Ketika air sulit didapat, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Bantuan seperti ini sangat berarti karena datang ketika warga memang sedang membutuhkan,” kata Asun.
Dia juga mengajak masyarakat yang telah mendapatkan pasokan air untuk berbagi dengan warga lain yang belum menerima bantuan. Keluhan serupa disampaikan Yordanus, warga Lintang Batang. Menurut dia, masyarakat menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni sulitnya memperoleh air bersih dan dampak asap karhutla.
“Kami sangat terbantu. Dalam kondisi seperti sekarang, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi menjadi sesuatu yang benar-benar dicari masyarakat,” ujar Yordanus.
Warga Jalan Parit Haji Muksin, Suciyani, juga mengapresiasi distribusi tersebut. Menurut dia, kedatangan petugas membawa air langsung ke lingkungan warga membuat masyarakat merasa mendapat dukungan di tengah kondisi sulit.
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan distribusi air merupakan bentuk kehadiran polisi dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan. “Polri hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan pelayanan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan,” kata Ade.
Menurut dia, penyaluran air bersih yang telah mencapai 36.000 liter itu tidak berhenti sampai 7 September. Distribusi akan dilanjutkan ke wilayah lain yang membutuhkan. “Kami berharap bantuan yang diberikan dapat benar-benar dirasakan manfaatnya dan sedikit meringankan beban masyarakat Kubu Raya yang membutuhkan air bersih siap konsumsi,” ujarnya.
Pendistribusian di lapangan diawasi Wakapolres Kubu Raya Kompol Andri Syahroni bersama sejumlah personel, di antaranya Aiptu Adang, Aiptu Tarmizi, Aiptu Ade, Aiptu Bambang, serta para Bhabinkamtibmas.
AWC yang selama ini lekat dengan citra kendaraan pengendali massa kini memiliki cerita lain di Kubu Raya. Saat api mengancam permukiman, kendaraan itu membawa air untuk memadamkan kebakaran. Ketika kemarau membuat warga kesulitan mendapatkan air, kendaraan yang sama kembali bergerak menuju permukiman. Satu kendaraan, dua misi kemanusiaan: memadamkan api dan mengantarkan air bagi warga. (J-Mus)






