KalbarOke.com — Pencarian seorang pelajar berusia 14 tahun yang tenggelam di Sungai Kapuas, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, berakhir setelah tim gabungan menemukan jasad korban sekitar 5 kilometer dari lokasi awal kejadian.
Korban berinisial P, pelajar kelas VIII SMP asal Kecamatan Sepauk, ditemukan pada Jumat, 25 September 2026, setelah tim gabungan menyisir aliran Sungai Kapuas sejak pagi.
Pencarian dimulai dengan apel sekitar pukul 07.30 WIB untuk memberikan pengarahan teknis kepada personel. Satu jam kemudian, tim bergerak menyisir kawasan sekitar lokasi korban terakhir terlihat di muara pertemuan Sungai Sepauk dan Sungai Kapuas, Desa Nanga Sepauk.
Penyisiran kemudian diperluas mengikuti arah arus menuju hilir. Sekitar pukul 09.30 WIB, tim menemukan korban dalam posisi telungkup di wilayah RT 04 Sungai Kapar, Dusun Sungai Lais, Desa Nanga Sepauk. Jarak lokasi penemuan mencapai sekitar 5 kilometer dari titik awal korban dilaporkan tenggelam.
Korban kemudian dievakuasi menggunakan sarana yang tersedia dan dibawa ke Puskesmas Kecamatan Sepauk sekitar pukul 10.15 WIB untuk menjalani pemeriksaan visum et repertum. Setelah pemeriksaan selesai, jenazah disemayamkan di Yayasan Gotong Royong Kecamatan Sepauk sebelum dimakamkan oleh keluarga.
P tenggelam pada Kamis, 24 September 2026, sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu, ia bersama tiga temannya bermain dan berenang di kawasan pasir musiman di sekitar Tanjung Desa Nanga Sepauk. Sekitar pukul 13.00 WIB, korban dan ketiga temannya telah meminta izin kepada orang tua untuk bermain di kawasan tersebut.
Saat berenang, mereka terbawa arus sungai. Warga yang berada di sekitar lokasi berusaha memberikan pertolongan dan berhasil menyelamatkan tiga anak. P masih belum ditemukan.
Laporan kejadian tersebut kemudian ditindaklanjuti personel Polsek Sepauk bersama tim gabungan yang terdiri atas Polairud Polres Sintang, Basarnas Kabupaten Sintang, pemerintah kecamatan, dan relawan masyarakat.
Kapolres Sintang AKBP Budi Hartono Sutrisno bersama Kasat Polairud IPTU Sutarji, Camat Sepauk Maryono, dan Kapolsek Sepauk IPTU Abdul Hadi turut memantau proses pencarian. Tim menggunakan perahu motor Basarnas dan perahu masyarakat untuk menyisir lokasi. Pencarian pada hari pertama berlangsung hingga sekitar pukul 23.35 WIB.
Namun, operasi dihentikan sementara karena hari telah gelap dan arus sungai cukup deras. Kondisi tersebut membuat pencarian tidak dapat dilakukan secara optimal dan operasi dilanjutkan pada Jumat pagi. Keterangan keluarga menyebut korban tidak dapat berenang. Informasi itu menjadi salah satu perhatian petugas dalam proses pencarian.
Polisi dan Basarnas juga berkoordinasi dengan desa-desa di sepanjang hilir Sungai Kapuas untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus semakin jauh dari lokasi kejadian. Penemuan korban sekitar 5 kilometer dari titik awal menunjukkan kuatnya pengaruh arus terhadap pergerakan korban di sepanjang aliran sungai.
Kondisi Sungai Kapuas di Kecamatan Sepauk juga mengalami perubahan pada musim kemarau. Debit air yang menurun menyebabkan sejumlah kawasan membentuk hamparan pasir yang kemudian dimanfaatkan warga sebagai tempat bermain dan rekreasi musiman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kedalaman dan arus sungai dapat berubah meski permukaan di sekitar hamparan pasir terlihat relatif aman.
Polsek Sepauk bersama unsur terkait mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak yang bermain di sekitar sungai. Warga juga diminta memperhatikan perubahan arus dan kedalaman sebelum melakukan aktivitas di perairan.
Pihak kepolisian dan unsur SAR akan terus mendorong edukasi keselamatan sungai kepada masyarakat di wilayah yang berada di sepanjang aliran Sungai Kapuas dan Sungai Sepauk. (*/)
