Sarawak Satukan 200 Musisi dari 13 Negara di RWMF 2026, Perkuat Posisi sebagai Gerbang Wisata Budaya Borneo

Rainforest World Music Festival 2026 resmi dibuka di Sarawak dengan lebih dari 200 musisi dari 13 negara. Festival ini mengusung konsep budaya, kuliner, dan pariwisata berkelanjutan menuju edisi ke-30. Foto: Deli Borneo

KalbarOke.com – Sarawak kembali menjadi pusat perhatian dunia melalui pembukaan Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026, yang menghadirkan lebih dari 200 musisi dan seniman dari 13 negara. Festival musik bertaraf internasional ini berlangsung selama tiga hari, 26–28 Juni 2026, di kawasan Sarawak Cultural Village, kaki Gunung Santubong, Kuching.

Memasuki penyelenggaraan ke-29, RWMF tahun ini mengangkat tema “Regenerations: Roots & Rhythms”, yang menyoroti pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus mendorong inovasi dan kolaborasi lintas negara melalui musik.

Festival tidak hanya menjadi panggung pertunjukan musik dunia, tetapi juga menjadi etalase budaya, kuliner, kerajinan, hingga praktik pariwisata berkelanjutan yang semakin memperkuat posisi Sarawak sebagai Gateway to Borneo atau Gerbang menuju Pulau Borneo.

Pada hari pembukaan, Menteri Pariwisata, Industri Kreatif dan Seni Pertunjukan Sarawak, Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah, melakukan kunjungan ke berbagai lokasi utama festival.

Ia meninjau sejumlah program unggulan, mulai dari kawasan Green Ruai, pusat kuliner Rainforest Flavours, hingga demonstrasi E-Penambang milik Dewan Bandaraya Kuching Utara (DBKU), yakni transportasi sungai tradisional yang kini dikembangkan menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Green Ruai sendiri mengusung tema “Roots of Change, Future of Sustainability”, menampilkan berbagai inovasi energi bersih, infrastruktur bertenaga surya, produk ramah lingkungan, pengelolaan limbah, hingga berbagai program berbasis masyarakat yang mendukung pelestarian lingkungan. Menurut Abdul Karim, RWMF telah berkembang menjadi lebih dari sekadar festival musik.

Baca :  Satgas Pamtas Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kilogram Sabu dari Malaysia di Entikong

“Selama hampir tiga dekade, RWMF membuktikan bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat dunia sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya, komunitas, dan keberlanjutan. Festival ini merupakan salah satu platform internasional terkuat Sarawak dalam memperkenalkan identitas kami sebagai Gerbang Borneo,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perpaduan antara budaya, inovasi, kuliner, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi contoh nyata bagaimana sektor pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan.

Musik Dunia Bertemu Budaya Nusantara

Sepanjang tiga hari penyelenggaraan, RWMF menghadirkan ragam genre musik dunia, mulai dari musik tradisional Nusantara, soul, funk, groove, Afro-fusion, musik rakyat Basque, musik Mongolia hingga berbagai warna musik kontemporer Asia Tenggara.

Selain konser utama, pengunjung juga dapat mengikuti lebih dari 50 workshop dan aktivitas interaktif, termasuk kelas musik, tari, sesi bersama para musisi, demonstrasi kerajinan tradisional, wellness activity, hingga berbagai program keluarga.

Festival ini memberi kesempatan kepada pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan seniman dari berbagai negara sambil mengenal kekayaan budaya Sarawak dan Borneo. Pada malam pembukaan ditutup dengan penampilan legenda musik Malaysia, Dato’ M. Nasir, yang menjadi bintang utama festival.

Melalui lagu-lagu penuh makna dan penampilan khasnya, M. Nasir sukses memukau ribuan penonton yang memadati area konser di bawah rimbunnya hutan hujan tropis Sarawak. Penampilannya menjadi pembuka yang kuat bagi rangkaian pertunjukan internasional selama akhir pekan.

Tidak hanya musik, RWMF 2026 juga memperkenalkan Rainforest Flavours, sebuah pengalaman gastronomi yang mempertemukan cita rasa negara-negara anggota BIMP-EAGA dan ASEAN.

Baca :  Festival Bakcang Singkawang 2026 Diluncurkan, Bakcang Run Siap Ramaikan Kota Wisata

Program yang dikurasi oleh Culinary Heritage and Arts Society Sarawak (CHASS) tersebut menghadirkan kuliner khas dari Brunei Darussalam, Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, termasuk beragam hidangan tradisional Sarawak.

Pengunjung dapat mengenal bahan pangan lokal, teknik memasak tradisional, hingga cerita budaya di balik setiap sajian. Selain itu, sekitar 50 gerai makanan dan minuman turut meramaikan kawasan festival dengan beragam pilihan kuliner lokal maupun internasional.

Aspek keberlanjutan tetap menjadi salah satu pilar utama RWMF 2026. Festival ini menerapkan standar ISO 20121 Event Sustainability Management System melalui berbagai program, seperti Green Warriors Waste Management, pemilahan sampah, sembilan EcoStation yang tersebar di kawasan festival, hingga program penanaman pohon EcoGreen Planet.

Bekerja sama dengan Sarawak Forestry Corporation, program tersebut telah berhasil menanam lebih dari 6.000 pohon sejak 2023, dan ditargetkan mencapai 10.000 pohon sepanjang 2026. Melalui berbagai inisiatif tersebut, Sarawak ingin menunjukkan bahwa festival berskala internasional dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Dengan perpaduan musik kelas dunia, kekayaan budaya, kuliner khas Borneo, serta komitmen terhadap keberlanjutan, Rainforest World Music Festival 2026 kembali mempertegas reputasinya sebagai salah satu festival budaya paling bergengsi di Asia sekaligus memperkuat posisi Sarawak sebagai destinasi wisata budaya dan ekowisata unggulan di kawasan. (deL)