KalbarOke.com — Sebuah lagu Batak bisa menjadi lebih dari sekadar lantunan di panggung. Di tangan generasi muda, lagu daerah itu kini ditawarkan sebagai pintu masuk menuju industri musik profesional. Gagasan tersebut dibawa Holy2 Creation melalui Holy2 Singer Festival (HSF) 2026, kompetisi menyanyi tingkat nasional yang mengusung tema “Menyanyikan Lagu Batak”.
Ajang ini tidak semata mencari peserta dengan suara paling merdu. HSF 2026 ingin mempertemukan kemampuan vokal dengan karakter, penjiwaan, kreativitas, sekaligus kecintaan terhadap musik dan kebudayaan Batak.
Yang menarik, kompetisi tersebut dibuka secara gratis bagi peserta berusia 14 hingga 30 tahun. Seluruh rangkaian audisi sampai acara puncak digelar di Holy2 Bistro Andaliman, Jalan Munjul Raya Nomor 1, Cipayung, Jakarta Timur.
HSF 2026 menghadirkan tiga nama yang sudah memiliki pengalaman di industri musik Indonesia sebagai dewan juri. Ada Joy Tobing, pemenang Indonesian Idol musim pertama yang juga dikenal melalui kiprahnya di musik pop dan Batak. Pengalamannya di panggung musik menjadi salah satu modal penting dalam menilai para peserta.
Juri berikutnya adalah Maria Simorangkir, pemenang Indonesian Idol musim kesembilan pada 2018. Karakter vokal dan pengalaman panggungnya membuat penilaian peserta tidak berhenti pada persoalan tinggi-rendahnya suara.
Sementara itu, Ilham Baso, finalis Indonesian Idol musim ketiga yang mencapai Top 6, melengkapi jajaran juri. Selain menjadi penyanyi dan pencipta lagu, Ilham juga berkecimpung sebagai produser musik dan pengusaha kreatif.
Kehadiran ketiganya membuat HSF 2026 memiliki tantangan yang lebih besar bagi peserta. Mereka dituntut menunjukkan teknik vokal, karakter, interpretasi lagu, hingga potensi untuk berkembang sebagai penyanyi profesional.
Sebanyak 107 peserta disebut akan ambil bagian dalam kompetisi ini. Bagi mereka yang berhasil menembus posisi terbaik, Holy2 Creation telah menyiapkan sejumlah hadiah. Hadiah itu antara lain rekaman single dan video klip profesional, satu unit sepeda motor listrik, tabungan tunai, voucher Holy2 Bistro Andaliman, trofi, serta piagam penghargaan.
Dengan paket tersebut, kemenangan di HSF 2026 bukan hanya soal membawa pulang trofi. Pemenang juga memperoleh kesempatan menghasilkan karya profesional yang bisa menjadi pijakan awal menuju industri musik.
Pemilihan lagu Batak sebagai tema utama menjadi bagian paling menonjol dari festival ini. Di tengah derasnya arus musik populer dan konten digital, lagu daerah berhadapan dengan tantangan untuk tetap dekat dengan telinga generasi muda. HSF 2026 mencoba mengambil jalur berbeda: membawa musik Batak ke dalam format kompetisi pencarian bakat nasional.
Peserta tidak sekadar diminta menyanyikan lagu Batak. Mereka juga mendapat ruang untuk memberikan interpretasi sesuai karakter vokal dan gaya bermusik masing-masing. Dengan cara itu, musik Batak ditempatkan bukan hanya sebagai warisan yang harus dijaga, tetapi juga sebagai materi kreatif yang dapat diolah oleh generasi baru.
Konsep tersebut membuat HSF 2026 berada di persimpangan antara pelestarian budaya, kompetisi, kreativitas, dan peluang karier. Bagi talenta muda yang selama ini hanya bernyanyi di hadapan keluarga, teman, atau melalui media sosial, panggung HSF 2026 menawarkan kesempatan untuk menguji kemampuan di arena yang lebih serius.
Dukungan terhadap festival ini datang dari Holy2 Bistro Andaliman, Rokok HS, PT WIN, AG Law Firm, Wastex, Block M Square, Mandiri Tunas Finance, dan Hotel Santika.
Pada akhirnya, HSF 2026 membawa satu pertanyaan menarik: siapa yang akan mampu mengubah lagu Batak menjadi panggung pertamanya menuju industri musik nasional? Bisa jadi, jawabannya ada di antara 107 peserta yang kini bersiap menunjukkan suara terbaik mereka. (dRi)






