Yeremia/Patra dan Dejan/Apriyani ke Semifinal, Dua Cerita Perjuangan Indonesia di Pontianak

Yeremia/Patra dan Dejan/Apriyani lolos ke semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 setelah melewati laga dengan cerita perjuangan berbeda. Foto: Ist/kolase kalbaroke.com

KalbarOke.com — Dua pasangan Indonesia memastikan tempat di semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 pada Jumat, 4 September 2026. Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Patra Harapan Rindorindo lolos setelah menyingkirkan unggulan pertama asal Hong Kong, Hung Kuei Chun/Lui Chun Wai.

Di nomor ganda campuran, Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu juga melanjutkan langkah setelah melewati duel sesama wakil Indonesia, Verrell Yustin Mulia/Bernadine Anindya Wardana.

Yeremia/Patra tampil dominan pada gim pertama dan menang 21-12. Namun, pertandingan berubah ketat pada gim kedua. Hung/Lui mulai mampu membaca serangan-serangan mereka dan bahkan beberapa kali memberikan tekanan balik.

Poin demi poin berlangsung rapat hingga akhir. Yeremia/Patra akhirnya mampu mempertahankan keunggulan dan menutup gim kedua dengan skor 21-19. “Di gim pertama kami menang mudah karena bisa langsung menekan. Mereka juga seperti belum siap, belum panas,” kata Yeremia.

Menurut dia, lawan tampil jauh lebih siap pada gim kedua. Hung/Lui mulai mengantisipasi pola serangan yang sebelumnya efektif dan berusaha mengambil inisiatif lebih dulu. “Di gim kedua mereka sudah lebih siap, mereka bisa mengantisipasi serangan-serangan kami dan coba menekan kami duluan, jadi poinnya mepet sampai akhir,” ujar Yeremia.

Dalam situasi poin kritis, komunikasi menjadi senjata Yeremia/Patra. Patra mengatakan mereka terus berdiskusi untuk menentukan pola permainan dan saling mengingatkan ketika pertandingan memasuki fase penentuan. “Di poin-poin mepet gim kedua, kuncinya di komunikasi kami. Tadi kami terus diskusi, terus mengingatkan bagaimana pola yang akan dimainkan,” kata Patra.

Kondisi shuttlecock yang dirasakan lebih cepat juga membuat mereka harus mengubah pendekatan permainan. “Hari ini tidak tahu kenapa, sepertinya shuttlecock lebih kencang. Jadi kami harus menekan dari awal,” ujar Patra.

Baca :  Ginting Siap Tampil di Indonesia Masters Pontianak, Sorotan Bukan Hanya pada Lapangan

Kemenangan tersebut membawa Yeremia/Patra ke semifinal. Bagi Yeremia, pencapaian itu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. “Happy banget bisa ke semifinal di Super 100,” katanya.

Namun, ia menyadari semifinal membutuhkan kondisi fisik yang lebih baik. Recovery menjadi pekerjaan utama setelah pertarungan perempat final yang menguras tenaga. “Tetap pasti recovery kami harus bagus untuk persiapan ke semifinal besok,” ujar Yeremia.

Dejan/Apriyani Menang Setelah Melawan Kondisi Fisik

Cerita berbeda datang dari sektor ganda campuran. Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu harus bangkit setelah kehilangan gim pertama dari Verrell Yustin Mulia/Bernadine Anindya Wardana. Dejan/Apriyani kalah 13-21 pada gim pembuka. Mereka kemudian membalikkan keadaan dengan merebut dua gim berikutnya 21-17, 21-18.

Bagi Dejan, kemenangan itu terasa lebih emosional. Bukan semata karena berhasil melaju ke semifinal, tetapi karena ia merasa harus berhadapan dengan keterbatasan kondisi fisiknya sendiri. “Alhamdulillah hari ini kami bisa menang lagi. Untuk saya ini membuat terharu karena secara pribadi, tadi saya melawan diri saya sendiri,” kata Dejan.

Ia mengakui kondisi mereka tidak lagi seratus persen fit. Performa yang ditampilkan pun menurutnya belum berada pada level terbaik. “Kondisi kami juga sudah tidak 100 persen fit dan secara performa tidak sebaik biasanya. Ada kebanggaan tersendiri,” ujar Dejan.

Faktor kebugaran menjadi salah satu pembeda dalam pertandingan tersebut. Dejan/Apriyani sebelumnya harus melewati laga ketat pada hari sebelumnya sehingga menguras energi. Sebaliknya, lawan memiliki waktu istirahat lebih panjang karena tidak bertanding pada hari sebelumnya.

Baca :  Siap Hadapi Senior, Denis Azzarya Tembus Babak Utama Polytron Pontianak International Challenge 2026

“Yang berbeda lebih kondisinya. Satu hari kemarin mereka tidak main, itu lumayan buat istirahat. Sementara kami kemarin match-nya cukup ketat, jadi menguras tenaga, menguras fisik. Di awal itu keunggulan mereka,” kata Dejan.

Apriyani menilai pertandingan di level Super 100 memiliki tingkat persaingan yang merata. Bahkan ketika menghadapi rekan senegara yang sudah dikenal dalam latihan sehari-hari, kemenangan tetap tidak datang dengan mudah. “Tidak ada yang mudah, semuanya berdasarkan levelnya masing-masing, semuanya rata,” kata Apriyani.

Menghadapi Verrell/Bernadine juga memiliki tantangan tersendiri. Kedua pasangan sudah saling mengenal sehingga masing-masing mengetahui karakter permainan lawan. Apriyani mengatakan evaluasi tetap dilakukan, termasuk melalui rekaman pertandingan, meski pengetahuan terhadap permainan lawan tidak otomatis membuat pertandingan menjadi mudah.

“Memang bedanya sama teman sendiri kami sudah tahu setiap hari. Walaupun di permainan kami coba untuk evaluasinya dari video-video, tapi semua merata,” ujar Apriyani.

Dua kemenangan tersebut memperpanjang daftar wakil Indonesia yang masih bertahan di turnamen yang digelar di GOR Terpadu Ahmad Yani, Pontianak. Yeremia/Patra akan mengandalkan komunikasi dan kondisi fisik untuk menghadapi semifinal, sedangkan Dejan/Apriyani harus kembali menjaga kebugaran setelah melewati pertandingan yang menguras tenaga.

Semifinal akan menjadi ujian berikutnya bagi dua pasangan Indonesia itu. Di kandang sendiri, mereka bukan hanya mengejar tiket final, tetapi juga peluang mengangkat trofi Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026. (deL)