Bukber Gratis! Yok Nonton Film dan Bedah Buku Rihlah Ibn Battutah

0

Pontianak – Komunitas Literasi Islam Khatulistiwa (KLIK) bersinergi dengan Dinas Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat akan menggelar buka puasa bersama yang didahului pemutaran film berjudul Journey to Mecca dan bedah buku Rihlah Ibnu Battutah. Kegiatan diselenggarakan, Sabtu 18 Mei 2019, Pukul 15.45 WIB di Aula Lantai III, Gedung depan Perpustakaan Provinsi Kalbar, Jalan Sutoyo, Pontianak Selatan.

“Mengingat durasi, maka pemutaran film akan digelar on time pukul 15.45 WIB. Telat, tanggung sendiri akibatnya,” canda Pay Jarot Sujarwo, yang akan menjadi narasumber acara esok.

Dia menceritakan lebih dari separuh usia Ibnu Battutah dihabiskan untuk menempuh perjalanan. Hampir seluruh dunia Islam pernah ia kunjungi. Catatan perjalanannya pun menjadi rujukan sejarah hingga kini. Ialah Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al Lawati Al Tanjawi Ibn Batutah atau yang terkenal dengan nama Ibnu Batutah.

Baca :  Melayani Cepat dan Mudah, DPMTK-PTSP Pontianak Raih Penghargaan

“Yah, Film dan buku yang akan dibedah merupakan kisah perjalanan Traveler handal Ibn Battutah. Silahkan teman-teman datang Insyaallah ada takjil dan minum gratis,” ajaknya.

Lebih lanjut Pay menceritakan, Ibnu Batutah lahir di Tangier, Maroko, 24 Februari 1304. Keluarganya berasal dari etnis Berber yang banyak berkiprah menjadi seorang hakim (qadhi). Tapi, Ibnu Batutah keluar dari tradisi. Setelah belajar hukum Islam, dia enggan menjadi hakim, tapi memilih menjadi petualang. Ibnu Batutah yang juga dikenal sebagai Shams Ad-Din rupanya sangat berjiwa petualang. Terbukti dari kemandiriannya dalam menjelajah dunia. Dia selalu selamat dari segala marabahaya yang mengadang di sepanjang jalan.

Baca :  Melayani Cepat dan Mudah, DPMTK-PTSP Pontianak Raih Penghargaan

Perjalanan pertamanya tertuju pada Haramain. Di usia yang masih sangat belia, yakni 21 tahun, Ibnu Batutah menempuh perjalanan seorang diri ke Tanah Suci untuk mengunjungi Baitullah dan makam Rasulullah.

“Aku berangkat sendirian, tak memiliki teman perjalanan yang dapat menghibur, tidak pula menjadi bagian dari para pelancong. Terpengaruh oleh keinginan yang tak kuasa dibendung diri, yakni untuk mengunjungi tempat-tempat suci, aku pun meninggalkan teman-teman dan meninggalkan rumah,” ujar Pay Jarot menirukan ucapan Ibnu Batutah dalam catatan perjalanannya. (deL)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 274 kali