Dua Priode Sutarmidji Memimpin, Belum Mampu Ubah Nasib Supir Opelet

PONTIANAK, KB1- Dua priode Walikota berjalan memimpin Kota Pontianak dituding banyak warganya belum mampu menyediakan transportasi publik yang baik kepada warganya. Contoh paling sederhana adalah, satu persatu jasa opelet di ibukota ini bertumbangan.

“Sekarang mau beli motor mudah, punya duit 500 Ribu buat DP langsung bisa bawa pulang motor gimana gak tambah banyak motor” kata Legiono, warga Jalan Ampera, kecamatan Pontianak Kota, kepada kalbarsatu.com.

Ia mengatakan, dengan kondisi seperti ini, orang dengan mudah sekali memiliki kendaraan bermotor. Bahkan dalam satu rumah memiliki kendaraan lebih dari satu unit.

“Dampaknya arus lalu lintas di jalan raya pun makin padat,” tuturnya. Menurutnya, kendaraan seperti ini semakin tidak terkendali. Dan ini menjadi masalah serius yang harus disikapi oleh Pemkot Pontianak.

Dampaknya justru dirasakan para supir angkot di kota ini. Saat ini kondisi opelet sudah mulai sekarat. Banyakw arga sekarang sudah beralih ke transportasi pribadi. Otomatis pendapat sang supir menurun.

Jafar dan Asiri Sopir opelet ini misalnya. Dua supir yang biasa mangkal di terminal UPT Sungai Raya, Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya mengaku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran di bangku terminal. Mereka mengaku tak punya pilihan lain, sebab penumpang yang datang kini jauh menurun dibandingkan saat angkot masih menjadi primadona transportasi publik,

Sepinya penumpang angkutan umum mulai dirasakan oleh para sopir angkot sejak beberapa tahun terakhir ini. Suhardi, supir angkot Jurusan Kapuas-Nipah kuning menilai Pemkot telah gagal menghidupkan kembali transportasi publik ini.

“Sejak Pak Sutarmidji menjabat walikota hingga terpilih kembali sekarang juga belum ada tanda untuk membenahi nasib kami,” tuturnya. Ia yang sesalkan justru, saat ini para supir opelet tidak memiliki terminal yang baik untuk mereka mangkal menunggu penumpang.

“Terminal Nipah Kuning sekarang sudah menjadi kawasan pasar tradisional. Sementara terminal Kapuas sekarang lahannya sudah dijadikan lahan parkir untuk sepeda motor dan mobil,” katanya.

Kabid DLLAJ, Dishub Pontianak, Rendrayani menyebutkan, saat ini Pemkot akan menggandeng Damri dan pengusaha angkutan untuk merealisasikan transportasi massa modern. Sebelum mengarah ke arah itu, Pemkot masih membenahi pelebaran jalan. Menurutnya dibutuhkan jalan dengan lebar delapan meter agar armada bus bisa beroperasi dengan mulus.

Pengamat ekonomi Untan, Eddy Suratman justru menyarankan agar kebijakan yang diambil Pemkot tersebut mesti terpadu dengan peraturan pemerintah pusat, dengan harapan agar sistem transportasi publik yang dibentuk Pemkot tidak terkendala dengan kebijakan pusat.
Meski rencana program dari Pemkot belum ada kejelasan sampai sekarang, ia meminta Pemkot sudah semestinya berpikir ke arah tersebut, sebab jumlah dan aktifitas penduduk yang semakin meningkat tentu tidak memungkinkan diakomodir oleh kendaraan pribadi. Selain itu transportasi secara massal juga dinilai lebih efisien dari segi ekonomi.

Permasalahannya adalah, kurang berminatnya masyarakat terhadap transportasi publik di kota ini disebabkan karena rute yang tersedia sekarang tidak menjangkau banyak wilayah. kenyamanan yang kurang serta manajemen waktu yang tidak terjadwal, mengapa transportasi publik banyak yang terpinggirkan.

Menurutnya, hal ini mestinya menjadi pertimbangan Pemkot. “Misalnya bagaimana membangun sistem transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat,” katanya. (tan/ags)

Facebook Comments

Artikel ini telah dibaca 1658 kali